Kiai -Kiai NU Bahsul Masail-kan Pernyataan Megawati Yang Meresahkan

Shortlink:

image

image

NUGarisLurus –  Bahtsul Masa’il Kubro XIX se-Jawa dan Madura di Ponpes Al-Falah Ploso Mojo, Kabupaten Kediri, resmi ditutup Kamis (2/3) malam, setelah digelar dua hari. Penutupan dilakukan oleh KH Nurul Huda Djazuli, kiai sepuh selaku tuan rumah acara. Salah satu dari beragam topik yang dibahas adalah pidato Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri yang diangap memicu pro-kontra dan menimbulkan keresahan masyarakat.

Bahtsul masa’il diikuti puluhan ulama dan perwakilan pondok pesantren, terbagi dalam dua komisi. Untuk Komisi A membahas topik pelecehan agama, kaya tanpa modal, tawasul tanpa izin, lomba pra-haflah, Banser mengamankan jemaat Kristen yang beribadah, bantuan anak yatim, dan dilema sopir bus. Sementara Komisi B membahas penolakan tokoh, dilema zakat, bela sungkawa kepada nonmuslim, kirim pembacaan Fatihah, dan ketentuan bermazhab.

Dari sejumlah topik ini, ada transkrip pidato politik HUT ke-44 PDI Perjuangan di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta yang disampaikan mantan Presiden RI yang juga Ketua Umum PDIP Megawati. Transkrip itu dibahas lima orang mushohih ditambah lima orang sebagai perumus dengan dua moderator.

“Disampaikan bahwa para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memposisikan dirinya sebagai pembawa self fulfilling prophecy atau diartikan peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa mendatang, termasuk dalam kehidupan fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya,” kata Kiai Ma’shum Ali, salah satu mushohih, mengutip pidato Megawati.

Setelah melakukan perdebatan panjang, akhirnya diputuskan dengan mengutip Surat Is’adur Rafiq Juz 2 Halaman 93, bahwa pernyataan tersebut hukumnya haram. Sebab, perkataan itu mengakibatkan keresahan masyarakat dan adanya indikasi ke pemahaman pelecehan agama.

Dalam kata penutupnya, Kiai Nurul Huda meminta semua peserta dan undangan yang hadir untuk giat bekerja dan jangan hanya berada di tempat ibadah.

“Saya lebih suka bertemu saudara-saudara itu di sawah membawa cangkul atau berdagang di pasar. Bukan saatnya kita hanya berdoa, namun harus menunjukkan kerja nyata. Kita kaum nahdliyin, harus mempersiapkan kiai dan pemimpin masa depan yang mampu bekerja selain ibadah yang merupakan kewajiban utama,” jelas pengasuh Ponpes Al-Falah ini. 

(Sumber: koran duta)


Artikel Terkait