Syair Sindiran Santri NU Untuk Bapak Said Aqil Siroj

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Redaksi menerima sebuah syair sindiran yang mengkritik ketua umum PBNU. syair berbahasa arab yang sudah diterjemahkan dan cukup pedas ini ditulis seorang santri bernama Ahmad Hidayatullah. Berikut ini broadcast yang kami terima.

MELALUI SYAIR, SANTRI INI KRITIK KETUA PBNU

••• Ketua PBNU dengan sikap kontroversialnya melalui pernyataan yang kadang sejalan dengan pemikiran santri di kalangan bawah menuai kritikan. Kedekatannya dengan pucuk pimpinan partai baru non muslim dengan membuat YPPI, membuat geram kiai-kiai NU. 

Dari sudut pesantren, lahir kritik luar biasa yang ditulis dalam bentuk syair. Sebuah khazanah terpendam dalam Islam terungkap kembali. Kritik melalui syair demikian kuat dalam literatur Islam, tapi kemudian redup. Kini budaya itu kembali menyala dari bilik salah satu pesantren di Jawa Timur.

Dalam bait-bait syairnya, ia menuangkan dalam keluh kesahnya pada sepak terjang Ketua PBNU. Dengan begitu apik, menyelipkan nama Sa’id Aqil Siradj dalam rangkaian kalimat yang memukau. Jika tidak diperhatikan dengan seksama, tidak ada hal yang istimewa karena nama dari tiga kata itu terangkai dan menyatu dalam untaian makna syair. Lihai dan apik memainkan kata. Mari kita nikmati sastra unik dari Ahmad Hidayatullah.

ما ذا نقول

APA YANG MESTI KITA KATAKAN?

ماذا نقول لمن دعا “انا عاقل”
مع انه كلَّ الحماقة شامل

Apa yang mesti kita katakan untuk orang yang menyebut dirinya cerdas (Aqil)?
Padahal dia penuh dengan kedunguan

وسعى بأنواع الجنون تعمدا
وبلا حياء في الغواية جائل

Kemana-mana dia membawa pikiran-pikiran yang gila
Dan, tanpa malu-malu berkelana dalam lembah kesesatan

انا مؤمن” ذا قوله بلسانه
وبكفره افعالُه لدلائل

Lidahnya bilang, “Aku adalah orang yang beriman”
Tapi, perbuatannya justru menunjukkan kekafiran

‘انا عالم بل تحت قبضي العُلما”
لكنه بخلاف علم عامل

“Aku orang alim, bahkan para ulama berada dalam genggamanku.”
Anehnya, perbuatan dia justru tak sesuai tuntunan ilmu agama

“ورعاية الأغنام جل وظيفتي”
ودعا الذئاب لأكلها ويؤاكل

“Tugas utamaku menjaga domba-domba.”
Anehnya, dia justru memanggil para serigala untuk memangsa domba-domba itu.

مَن قبله حملوا السراج بقوة
خمد واظلم اذ اتى هو حامل

Orang-orang sebelum dia telah membawa lentera (Siroj) dengan segenap upaya
Tapi, ketika giliran dia yang membawa, dia langsung memadamkannya

“وانا السعيد ” الدنيوي سعادة
والدين قال له شقي جاهل

Dia bilang, “Akulah orang yang beruntung (Said)”. Tapi, itu keutungan di dunia belaka
Sedangkan agama bilang kepadanya, “Orang celaka yang bodoh”

*al-Faqir Ahmad Hidayatullah

Wallahu Alam


Artikel Terkait