Membongkar Kesesatan Public Figure, Bukan Termasuk Ghibah Yang Dilarang

Shortlink:

wpid-1
NUGarisLurus.Com
– Tulisan menarik yang ditulis oleh Ustadz Abdul Muhsi, salah seorang pegiat aktivis dakwah dari Madura yang lurus dan teguh memerangi pemikiran syiah, wahabi dan liberalisme ini kami kutip chanel akun telegramnya https://telegram.me/pondok_paramaan.

MEMBONGKAR KESESATAN PUBLIC FIGURE BUKANLAH GHIBAH*

Benar apa kata pepatah:

زلة العالم زلة العالم

Tergelincirnya orang Alim (yg ditokohkan) adalah tergelincirnya alam (ummat).

Ini terbukti Ketika seorang tokoh publik (public figure) dikritik pedas di media sosial, sontak kritikan itu akan memantik kemarahan para pendukungnya yang berusaha membelanya dengan berbagai alasan agar si tokoh tidak disalahkan.

Bahkan, sebagian dari mereka ada yang sok wira’e dengan berkata “sudahlah, jangan dibahas di sini, beliau kan tokoh, apalagi ini ghibah”.

Padahal si tokoh jelas jelas salah. Ia membela Syi’ah, ia menjadi gembong liberal, ia dekat dengan Nasrani, Yahudi dan China, sang nenek moyang komunis. Kedudukan Ia sebagai pimpinan sebuah organisasi ternyata membuat para pendukungnya lupa bahwa bagaimanapun tingginya jabatan seseorang jika salah tetap harus disalahkan. Bukan malah dibela apalagi dipuja dan disanjung.

Di dalam hadits marfu’ yang diriwayatkan Sahabat Anas rodiyallahu anhu

ﺇﺫا ﻣﺪﺡ اﻟﻔﺎﺳﻖ ﻏﻀﺐ اﻟﺮﺏ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ ﻳﻌﻠﻰ ﻭﺑﻦ ﺃﺑﻲ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻲ اﻟﺼﻤﺖ

Ketika orang fasiq dipuja-puja maka Allah akan murka. (HR. Abu Ya’la dan Ibnu Abid Dunya ) [Fathul Bari 10/478]

Kesimpulanya, kesesatan seorang tokoh publik harus disampaikan sejelas jelasnya kepada ummat demi tidak bertambahnya daftar orang yang ikut tersesat karena tertipu dengan keagungan semunya.

Baginda Rasulullah SAW bersabda :

أترعون عن ذكر الفاجر متى يعرفه الناس ،اذكروا الفاجر بما فيه يحذره الناس

Apakah kalian merasa waro’ dg tidak menuturkan (kejahatan) orang yang jahat itu padahal sudah diketahui orang banyak? Sebutkan semua kejahatan orang jahat itu agar orang orang menjauhinya. [As-Suyuthi, Al-Jami’us Shaghir hal. 8, lihat juga Faidul Qadir, Al-Munawi]

Imam Al-Qurtubi berkata sebagaimana yang dikutip Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqolani

ﻓﻲ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﺟﻮاﺯ ﻏﻴﺒﺔ اﻟﻤﻌﻠﻦ ﺑﺎﻟﻔﺴﻖ ﺃﻭ اﻟﻔﺤﺶ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ اﻟﺠﻮﺭ ﻓﻲ اﻟﺤﻜﻢ ﻭاﻟﺪﻋﺎء ﺇﻟﻰ اﻟﺒﺪﻋﺔ

Hadist diatas menunjukkan bolehnya me-Ghibah orang fasik yang terang terangan menampakkan kefasikan dan keburukannya serta hal-hal lain seperti menyelewengkan hukum dan mengajak orang lain mengerjakan bid’ah. [Fathul Bari juz 10 hal. 454]

Imam Sufyan Bin Uyainah rahimahullah berkata :

ﺛﻼﺛﺔ ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﻏﻴﺒﺔ اﻹﻣﺎﻡ اﻟﺠﺎﺋﺮ ﻭاﻟﻔﺎﺳﻖ اﻟﻤﻌﻠﻦ ﺑﻔﺴﻘﻪ ﻭاﻟﻤﺒﺘﺪﻉ اﻟﺬﻱ ﻳﺪﻋﻮ اﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﺑﺪﻋﺘﻪ.

Tiga orang yg jika disebut-sebut keburukannya tidak dihukumi Ghibah, Pemimpin yg menyelewengkan amanah rakyatnya, orang fasik yang terang-terangan menampakkan kefasikannya dan ahli bid’ah yg mengajak orang lain mengikuti bid’ahnya.

Tidak hanya Ibnu ‘Uyainah, Zaid Bin Aslam juga berkata :

انما الغيبة لمن يعلن بالمعاصي

Ghibah hanya (dibolehkan)   bagi orang yg terang terangan melakukan kemaksiatan.

Namun demikian kebolehan ini tentunya tidak secara mutlak, ada syarat yang harus dipenuhi di antaranya tidak semata-mata ingin menebar keburukan orang lain, memuaskan hawa nafsu pribadinya dan lain-lain karena   tujuannyanya adalah Lit Tahdzir (warning) agar jumlah korban kesesatannya tidak semakin bertambah.

Hal ini dikuatkan dengan pernyataan Imam Syu’bah  :

الشكاية والتحذير ليسا من الغيبة

Mengadukan dan memberi peringatan akan kejahatan (kesesatan) seseorang bukanlah Ghibah. [Kasyfil Khafa, Al-Hafidh Al-Ajiluny Juz 2 Hal. 172].

*Oleh Ustadz Abdul Muhsi

Wallahu Alam


Artikel Terkait