Bela SAS, Khotib Jum’at Ini Dipecat Perwakilan PWNU Jakarta

Shortlink:

image

image

NUGarisLurus.Com – Perwakilan Pengurus Wilayah NU DKI Jakarta memberhentikan khotib jum’at yang sikapnya abu -abu dan memihak terhadap pemimpin liberal PBNU Prof. Dr. Said Agil Siraj (SAS). Berikut ini sumber yang didapatkan redaksi NUGarisLurus.Com tentang kasus ini.

Abu-Abu Terhadap Pemikiran SAS, Diberhentikan Jadi Khotib.

Seorang khotib sekaligus dosen di salah satu kampus jakarta bernama Imam Dzakwan tidak mendapatkan jadwal lagi menjadi Khotib di Masjid Jami’ Tangkuban Perahu oleh pengurus masjid atas pengetahuan PWNU Jakarta gara-gara ketidak tegasan dia dalam persoalan Said Agil Siraj sebagai ketum PBNU yang berpikiran melenceng.

Perkara itu bermula terjadi pada hari jum’at 30-12-2016. Dimana Rombongan NU Kultural sehabis acara seminar aswaja di Cikarang bekasi. Melakukan rihlah menemui para sesepuh Kyai Jakarta. Dalam perjalanan, rombongan NU Kultural ini memutuskan Sholat jum’at di Masjid Tangkuban perahu Jakarta Selatan. Yang mana masjid itu dibina salah satu anggota NU Kultural.

Setelah melaksanakan Sholat Jum’at, rombongan NU Kultural ramah tamah pengurus masjid dan kebetulan si khotib berada dalam satu ruangan tersebut.

Seperti biasa, dalam beramah tamah ada obrolan. Adapun obrolan yg dibahas adalah persoalan jakarta baik berhubungan dengan pemimpinnya maupun ketidak tegasan Ketum PBNU yang terkesan membela Ahok.

Di saat memperbicangkan Ketum PBNU, si khotib ini dengan gaya sok bijak, mengajak agar berhusnodzhon pada SAS.

Dia berkata “kita harus husnudhzon sama Prof Dr Said Agil Siraj, beliau itu sering beda dengan kita, sebab beliau menilai persoalan itu dari sudut pandang tasawwuf”.

Mendengar ucapan demikian, salah satu peserta rombongan NU Kultural menyangkal pernyataan si Khotib. “Maaf Yai, antum mengatakan bahwa SAS dalam menilai sesuatu menggunakan sudut pandang tasawwuf, apa antum tahu bahwa beliau ketika mengambil doktornya di Ummul Qurra yang notabenenya wahabi dan dalam desertasinya dia mengkritik dan menyesatkan tokoh tasawwuf Aswaja Imam Ghazali”. “Apa ini namanya tidak plin-plan, desertasinya menyesatkan tasawwuf, namun saat menjabat Ketum, untuk menutupi kesalahan dia, maka agar dianggap orang yg nyeleneh dia diklaim sebagai orang tasawwuf, ini pembodohan publik”. Lanjut pemuda Tersebut.

Walhasil, setelah kejadian tersebut. Khotib ini dilaporkan ke H. Auazi Anwari Mahfudz Asyirun putra Rais Syuriah PWNU DKI Jakarta, hasilnya dia tidak mendapatkan jadwal khotib jumat dimasjid tersebut “Ulama’ yang gurem-gurem (tidak membela Islam) coret aje hapus dari jadwal khotib Jum’at”. Ucapnya.

Sumber: Syabab Aswaja


Artikel Terkait