Seminar Pemantapan Aqidah Aswaja Bersama Mabes NU Garis Lurus

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Markas Besar NU Garis Lurus mengadakan seminar dengan tema “Pemantapan Aqidah Aswaja di Era Globalisasi” bertempat di Markas Aswaja Pondok Pesantren Al Muhajirin, Cikarang Pusat, Bekasi Raya, Kamis (29/12).

Hadir pengurus teras Mabes NU Garis Lurus, Habib Muhammad Ahmad Vad’aq, KH. Luthfi Bashori, KH. Muhammad Idrus Ramli, KHM. Luthfi Rochman, Buya Karami Anshari, KH. Saifuddin Surur, Ustadz Muhammad Saad, Ustadz Toha Luqoni, Tuan Rumah KH. Asep Saefuddin, Haji Agus Ibrahim, dan Ustadz Muhammad Arifin.

Berikut ini rangkuman hasil seminar yang dirangkum Ustadz Muhammad Saad yang kami kutip dari halaman FB Aswaja Garis Lurus.

Seminar Aswaja ‘’ Pemantapan Aqidah Aswaja di Era Globalisasi’’

Oleh: Muhammad saad

Pada tanggal 29 Desember 2016, di pesantren al-Muhajirin , Cikarang, Bekasi-Jawa Barat diadakan seminar penguatan aqidah Aswaja dengan tema ‘’ Pemantapan Aqidah Aswaja di Era Globalisasi’’.

Adapun pemateri dari acara seminar tersebut adalah: al-Habib Muhammad bin Ahmad Vad’aq dari Bekasi, KH. Lutfi Bashori dari Singosari-Malang dan KH. Muhammad Idrus Romli dari Jember.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh dan para aktivis Aswaja disekitar wilayah Bekasi dan Jakarta. Bukan itu saja, peserta juga datang dari wilayah jawa tengah dan jawa timur.  Jika diperkirakan yang hadir mencapai kurang lebih 300 peserta.

Dalam kesempatan ini, pemateri pertama yang menyampaikan adalah KH.Lutfi Bashori, awal penyampaian materi, Putra KH. Bashori Alwi ini mengatakan  bahwa di era globalisasi ini umat Islam harus menjaga kemurnian  aqidah Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja). Kemudian beliau meneruskan penjelasannya tentang siapa saja yang disebut ulama’ salaf, jika diambil dari pendapat  ilmu hadits, ulama salaf dimulai dari para sahabat, tabi’in, dan tabiu tabiin.

Selanjutnya, pengasuh Ribat al-Murtadho Singasari-Malang menjelaskan tiga kreteria Aswaja memilki minimal tiga unsur. Pertama, berkaitan dengan aqidah, maka umat Islam yang beraqidahkan aswaja harus meruju’ kepada Abul hasan al-Asy’ari atau disebut dengan Asy’ariyah dan Abul Mansur al-maturidi al-Maturidiah. Namun umat Islam Indonesia lebih mayoritas kepada al-Asya’irah. ‘’Bukan itu saja, Umat Islam juga wajib menyebarkan Asyariah disemua lini’’. Tegas beliau.
Kedua, dalam bidang Fiqh, Aswaja meruju’ kepada empat Imam madzhab yang sudah masyhur yaitu Abu Hanifa, Malik bin Anas, Muhammad Idris As-Syafi’I dan Ahmad bin Hambal. Dalam konteks ke-Indonesia-an, fiqhnya merujuk pada Imam syafii. KH. Luthfi Bashori menegaskan Jika kemudian ada madzhab baru semisal madzhab ja’fari yang notabene milik syiah, maka wajib menolak. Sebab madzhab tersebut adalah pengakuan dari keolompok firqah syiah, sedangkan imam Jakfar shodiq sendirin tidak memilik referensi yang kuat, sebab imam Ja’far tidak ditemukan pembukuan pemikiran beliau.

Begitu juga dalam mengambil hukum, maka umat Islam Aswaja harus mengikuti tradisi ulama’ Aswaja yaitu dengan mengambil hukum yang mu’tamat (yang kuat). Qaul ghaoiru mu’tamat digunakan dalam keadaan dhorurat. Tradisi inilah yg dipegang oleh Aswaja.   Adapun talfiq atau mencampur baurkan pendapat antar madzhab untuk mengambil hukum adalah dosa.

Ketiga adalah Tasawwuf, adalah pendidikan akhlaq kepada Allah dan akhlaq kepada sesame umat Islam.

Dalam hal ini Aswaja mengikuti imam Junaid al-Baghdadi dan Abu al-Hamid Muhammad al-Ghazali. Jika ada sekelompok orang mengaku sberaqidah Aswaja, akan tetapi anti tasawwuf, makan ini bukan Aswaja yang murni. Zaman sekarang banyak orang-orang berprilaku nyeleneh dengan melanggar syariat bahkan merusak aqidah, semisal ngaku wali tetapi tidak Sholat, mengaku wali tapi tidak menutup kepala alis gundulan, namun lucunya  dia mengaku sebagai wali majdub, maka bisa dikatakan dia sebagai pelaku tasawwuf palsu.
Diakhir, pemateri berpesan agar Aqidah aswaja tidak hanya monoton kepada satu unsur saja, semisal aqidah, fiqh atau tasawwuf saja, namun harus mengitegralkan ketiga unsur di atas tersebut.

Pemateri kedua Habib Muhammad Vad’aq. Dalam penyampaiannya, beliau masih meneruskan pembahasan tentang tasawuf. Ulama’ Bekasi ini menjelaskan banyak manusia yang melanggar syariat, namun mereka berkilah dengan menggunakan dalil dengan ilmu tasawwuf. Sebagai contoh, hukum bersalaman antar laki perempuan adalah haram, namun ada seorang tokoh yang bersalaman dengan wanita kemudian bekilah halal dengan menggunakan dalil tasawuf. Ini bukan seorang sufi tapi mutasawwif’’.

Begitu pula dalam konteks Aswaja, ada tokoh mengaku Aswaja melaksanakan manaqib syaikh Abdul Qadir al-Jailani, meminta keberkahan, namun acara manaqib itu diadakan untuk acara dukungan calon gurbernur non muslim. Itu bukan sifat Aswaja.

Dalam menutup materinya Habib Muhammad Vad’aq  menjelaskan agar jangan membesar-besarkan persoalan khilaf atau furu’ sehingga sampai megatakan bid’ah, namun pada persoalan aqidah dibiarkan begitu saja.

Pemateri ketiga KH. Muhammad Idrus Romli, dalam penjelasannya gus idrus (panggilan akrab), menjelaskan pemetaan ialiran sesat-aliran ssat ayang ada di Indonesia.  Pertama Islam yang ahadir di Indonesia adalah bermadzhab Aswaja dalam aqidah dan bermadzhab Syafii dalam fiqhnya. Serta tasawwufnya adalah Junayd al-Baghdadi.

Syiah, menurut beliau, masuk ke Indonesia tidak pada pasca revolusi Iran, akan tetapi sudah ada sejak 200 tahun yang lalu masuk ke Indonesia. Dalam kitab Bughyatu Mustarsyidin menjelaskan bahwa pada masa itu  ada ritual ajaran sesat yang dilakukan oleh orang Jawa dan India dengan menyebut ‘’Ya Husain’’. ‘’Berarti itu adalah syiah’’, tegas beliau.
Begitu pula wahabi. Keberadaan mereka sudah ada sejak perang padri di Padang yang dipimpin Imam Bonjol.

Gus idrus menyebutkan bahwa pada saat ini aliran yang eksis ada empat yaitu: wahabi, syiah, HTI dan Liberal. Namun pada hakikatnya aliran sesat di Indonesia, setelah dilakukan risset oleh beliau, ternyata ada sekitar 250 aliran. Namun empat aliran di atas yang eksis dan mempunyai skala besar.

Menurut Penulis buku ‘’Membumikan Aswaja’’ , Liberalisme tidak hanya disebarkan oleh para pengasongnya semisal Ulil Abshar Abdallah dkk, akan tetapi yang lebih massif dan lebih produktif, liberalisme dipasarkan melalui pergururan tinggi oleh parah dosen.

Lanjut beliau, Liberal lebih sesat dari Syiah dan wahabi. Sebab yang mengajak menunggu Natalan dan menyambut orang kafir dengan bacaan shalawat Thala’al badru adalah ide-ide orang liberal. menjadi payung akan tumbuh suburnya aliran sesat yang ada di Indonesia.

Sedangkan HTI, menurut Gus Idrus lebih ringan dari pada Syiah dan Liberal. HTI hadir dikalangan anak-anak kampus yang punya ghirrah agama namun minim dengan pengetahuan. Namun dalam beraqidah mengikuti mu’tazila dan dalam beramaliah mengikuti wahabi.

HTI dari pada tiga kelompok di atas adalah memiliki penyimpangan yang ringan, akan tetapi penyimpangan berat yang berhubungan dengan aqidah. Semisal perbedaan aqidah aswaja dengan wahabi tentang sifat Allah, jika Aswaja memilki 20 sifat Allah sedangkan wahabi memiliki 3 sifat yaitu uluhiyyah, Rububiyyah dan Asma’ wa sifat. Tiga sifat Allah versi wahabi ini berbeda sangat mendasar dengan sifat-sifat Allah versi Aswaja.

Namun persoalannya didalam persoalan internal kita ada hal keliru, yaitu banyak orang bagian kita mendukung pada orang-orang kafir menjadi pimpinan. Begitu pula saudara-saudara kita juga punya persoalan dengan maraknya menjaga gereja pada acara Natal. Padahal jelas bahwa ridho bil ma’shiati ma’shiatun ridho bil kufri kufrun.

Pada akhir penjelasannya, KH. Idrus Romli memohon kepada Allah agar orang-orang yang berfatwa tentang bolehnya mengucapkan ‘’Selamat Natal’’, menjaga Natal dll, agar Rizqinya melimpah. Sebab semua yang merek Fatwakan tidak lepas dari pengaruh uang.

Seminar diakhiri dengan sesi Tanya jawab dan doa yang dipimpin oleh Habib Muhammad Ahmad Vad’aq.

Wallahu Alam


Artikel Terkait