Muktamar Para Pendiri NU: Hukum Ikut Pakaian Orang Kafir Saat Mereka Berhari Raya

Shortlink:

image

image

NUGarisLurus.Com – Inilah hasil muktamar para pendiri NU pada tahun 1927 yang dapat dipastikan sesuai persetujuan Rais Akbar NU Hadhrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan para pendiri NU seperti KH. Abdul Wahhab Hasbullah Tambakberas, KH. Bisyri Syansuri Denanyar, KH. Asnawi Kudus, dan KH. Faqih Maskumambang Gresik.

MASALAH DINIYAH KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDATUL ULAMA KE-2

Di Surabaya Pada Tanggal 12 Rabiul Tsani 1346 H./ 9 Oktober 1927 M.

Soal : Bagaimana pendapat Muktamar, tentang orang yang memakai celana panjang, dasi, sepatu dan topi. Sedang orang itu orang Indonesia. Haramkah demikian itu, karena dianggap meniru orang kafir ?

Jawab : Bila memakainya itu sengaja meniru orang kafir untuk turut menyemarakkan kekafirannya, maka hukumnya orang itu menjadi kafir (dengan pasti). Bila orang tersebut sengaja turut menyemarakkan Hari Raya dengan tidak mengingat kekafirannya, maka hukumnya tidak kafir. Tetapi berdosa . Bila tidak sengaja meniru sama sekali, tetapi hanya sekedar berpakaian demikian, maka hukumnya tidak terlarang tetapi makruh.

Keterangan : Dalam Kitab Fatawil Kubra dan Bughyatul Mustarsyidin karya Syaikh Sayyid Abdurrahman Al Masyhur Ba’alawi, Bughyah al Mustarsyidin, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371 H/1952 M), h. 248.

( ﻣَﺴْﺄَﻟَﺔُ ﻱ ‏) ﺣَﺎﺻِﻞُ ﻣَﺎ ﺫَﻛَﺮَﻩُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﺰَﻳَّﻲ ﺑِﺰَﻱِّ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺃَﻧَّﻪُ ﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﺰَﻱَّ ﺑِﺰَﻳِّﻬِﻢْ ﻣَﻴْﻼً ﺇِﻟَﻰ ﺩِﻳْﻨِﻬِﻢْ ﻭَﻗَﺎﺻِﺪًﺍ ﺍﻟﺘَّﺸَﺒُّﻪَ ﺑِﻬِﻢْ ﻓِﻲْ ﺷِﻌَﺎﺭِ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺃَﻭْ ﻳَﻤْﺸِﻲَ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﻣُﺘَﻌَﺒَّﺪَﺍﺗِﻪْﻡِ ﻓَﻴَﻜْﻔُﺮُ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﻓِﻴْﻬِﻤَﺎ. ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ ﻻَ ﻳَﻘْﺼُﺪَ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺑَﻞْ ﻳَﻘْﺼُﺪُ ﺍﻟﺘَّﺸَﺒُّﻪَ ﺑِﻬِﻢْ ﻓِﻲْ ﺷِﻌَﺎﺭِ ﺍﻟْﻌِﻴْﺪِ ﺃَﻭِ ﺍﻟﺘَّﻮَﺻُّﻞِ ﺇِﻟَﻰ ﻣُﻌَﺎﻣَﻠَﺔٍ ﺟَﺎﺋِﺰَﺓٍ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﻓَﻴَﺄْﺛَﻢُ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَّﻔِﻖَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْﻏَﻴْﺮِ ﻗَﺼْﺪٍ ﻓَﻴُﻜْﺮَﻩُ ﻛَﺸَﺪِّ ﺍﻟﺮِّﺩَﺍﺀِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ.

Hasil kesimpulan dari pendapat yang disebutkan oleh para ulama tentang berbusana dengan busana orang-orang kafir adalah:

Pertama, jika dalam berbusana tersebut ada kecenderungan pada agama mereka (kafir) dan ingin serupa dengan mereka dalam syiar kekafiran, atau bisa berjalan bersama mereka ke tempat-tempat peribadatan mereka, maka ia menjadi kafir.

Kedua, jika tidak bermaksud yang demikian itu, namun hanya bermaksud ingin mirip saja dengan mereka dalam syiar hari raya atau bisa bermuamalah dengan mereka dalam muamalah yang diperbolehkan maka ia berdosa.

Ketiga, jika ia kebetulan saja tanpa tujuan apapun, maka hukumnya makruh, sama seperti mengikat selendang dalam shalat.

Sumber:
Ahkamul Fuqoha, Buku “Masalah Keagamaan” Hasil Muktamar/Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang. Kata Pengantar Menteri Agama Republik Indonesia : H. Maftuh Basuni.

Wallahu Alam


Artikel Terkait