Penista ‘Keseleo Lidah’ Dimaafkan? Ini Bantahan KH. Idrus Ramli

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Beberapa pengurus PBNU seperti Kang Said Agil Siroj, Nusron (Wahid) Purnomo dan Ahmad Ishomuddin meminta umat Islam untuk memaafkan gubernur Jakarta yang menurut mereka tidak sengaja menista Al Qur’an. Begitu pula tokoh sepuh Muhammadiyah Syafi’i Ma’arif serta Prof. Hamka Haq juga memohon kepada Umat Islam agar memafkan Ahok karena sudah meminta maaf. Para tokoh liberal ini menganggap bahwa penistaan Al Quran yang dilakukan Ahok adalah karena ‘keseleo lidah’ yang sudah seharusnya dimaafkan.

Lalu benarkah sesuai Syariat dan aturan Islam yang benar penista Al Quran serta penghina Islam cukup dimaafkan saja bila melakukan penghinaan dan penistaan cuma karena ‘keseleo lidah’? Berikut ini bantahan Ketua Umum NU Garis Lurus KH. Muhammad Idrus Ramli yang kami kutip dari akun facebooknya.

image

KESELEO LIDAH DALAM KEKUFURAN, DIMAAFKAN?

Beberapa waktu yang lalu, ada seseorang yang menistakan kitab suci al-Qur’an dalam sebuah acara kenegaraan. Kemudian umat Islam melakukan protes terhadap tindakan penistaan kitab suci al-Qur’an tersebut. Tetapi kemudian, ada beberapa orang yang berusaha membelanya dengan alasan keseleo lidah dan tidak sengaja. Dapatkah alasan keseleo lidah dan tidak sengaja menolak status kekufuran atau penistaan dalam kasus tersebut? Keseleo lidah dan tidak sengaja, tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak hukum kekufuran atau penistaan dalam urusan agama. Dalam hal ini al-Imam al-Hafizh al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliki berkata dalam kitab al-Syifa’ bi-Ta’rif Huquq al-Mushthafa sebagai berikut:

لاَ يُعْذَرُ أَحَدٌ فِي الْكُفْرِ بِالْجَهَالَةِ وَلاَ بِدَعْوَى زَلَلِ اللِّسَانِ، وَلاَ بِشَيْءٍ مِمَّا ذَكَرْنَاهُ، إذا كَانَ عَقْلُهُ فِي فِطْرَتِهِ سَلِيمًا، إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ.

Seseorang tidak dapat diterima alasannya dalam hal kekufuran dengan alasan kebodohan, dan tidak pula dengan alasan keseleo lidah, dan tidak pula dengan sesuatu yang telah kami sebutkan, apabila akal orang tersebut normal, kecuali orang yang dipaksa mengucapkan kekufuran sedangkan hatinya tenang dengan keimanan. (Al-Qadhi ‘Iyadh, al-Syifa’ bi-Ta’rif Huquq al-Mushthafa, juz 2 hlm 646).

Wallahu a’lam.
Pondok Pesantren Mamba’ul Khairat Ketapang Kalimantan Barat


Artikel Terkait