Gus Najih: Memilih Ahok Sikap Fasik & Munafik, Bangga Ikut Murtad

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Putra ulama kharismatik KH. Maimoen Zubair, KH. Muhammad Najih Maimoen menegaskan bahwa para pemilih Gubernur Jakarta adalah orang -orang fasik dan munafik. Bahkan jika ikut bangga akan -kekafirannya- dia ikut menjadi murtad dan kufur.

Berikut ini pernyataan lengkap pengasuh Ribath Darusshohihain KH. Muhammad Najih Maimoen yang akrab disapa Gus Najih yang kami kutip dari halaman facebook resmi Ribath Darusshohihain.

Ketika Syaikhina KH Muhammad Najih MZ diwaduli Penistaan Agama KAFIR ZHALIM AHOK yang viral di Sosmed:

“Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu enggak pilih saya. Dibohongin pakai surat Al Maidah ayat 51, macam-macam itu. Itu hak bapak ibu.”

Beliau Dawuhan:

“Sungguh PENGHINAAN LUAR BIASA telah keluar dari mulut AHOK ZHALIM”

“Andai umat Islam mendapatkan PEMIMPIN KAFIR tapi tidak dengan kehendak mereka (tidak memilihnya di Pemilu) itu namanya MUSIBAH BESAR, akan tetapi jika SI KAFIR menjadi pemimpin berkat dukungan suara umat Islam, berarti umat ini sedang terjangkit VIRUS LIBERALISME. Karena MEMILIH AHOK berarti MENDUKUNG KEKUFURAN (Agenda Kristenisasi terselubung bahkan PKI-sasi), KEMAKSIATAN (Mengunggulkan Kafirin diatas Muslimin) dan KEZHALIMAN (Kebijakan carut marut yang mengintimidasi umat islam di DKI Jakarta, mencari-cari kesalahannya, menggusur tempat tinggal dan masjidnya, mengkampanyekan DEMORALISASI lewat sikap arogan, dan melawan konstitusi Negara dengan kekuatan uang dan lobi (Kasus Sumber Waras, Reklamasi dll).”

“Memilih Ahok -Kafir Zhalim- adalah sikapnya orang Fasiq atau munafiq, namun jika sampai merasa bangga dengan KEPEMIMPINAN KAFIRnya, bisa berakibat kemurtadan. Sedangkan orang yang membela mati-matian KEPEMIMPINAN KAFIR ZHALIM AHOK adalah golongan kaum yang menampakkan kekufurannya.”

“Memang Benar konstitusi Indonesia melegalkan Non Muslim jadi Pemimpin, akan tetapi Umat Islam berkewajiban mengamalkan AlQuran dan mendahulukannya melebihi apapun”

“Siapapun orangnya yang menolak terjemahan Depag perihal lafadz Auliya’ yang dimaknai pemimpin berarti secara terang-terangan tidak mengakui KBBI sebagai pedoman berbahasa, ini lucu sekali. Anehnya lagi mereka menjadikan seorang liberalis Sumantho al Qurtubi sebagai rujukan, padahal karya karya ulama kredibel jauh lebih otentik. Perlu di catat, meskipun auliya dimaknai teman dekat, sahabat karib dst … (Bukan pemimpin) bukan berarti hukum haram memilih pemimpin NON MUSLIM berubah, justru keharamannya menjadi kuat, karena diambil dari thoriqoh istidlal mafhum muwafaqoh aulawi/ fahwal khithob!”

“Ada sebagian mahasiswa lulusan luar negeri berpendapat, al maidah ayat 51 rawan dipolitisasi oleh sebagian ulama untuk mengharamkan pemimpin Non muslim dengan metode Qiyas Aulawi, dan fenomena ini sudah ada sejak zaman salaf, subhanaallah INI KEBOHONGAN BESAR!.” ulama memahami teks alquran dan mengistinbatinya tidak dengan nafsu akan tetapi dengan panduan ushulul fiqh dimana mafhum muwafaqoh aulawi diposisikan sebagai dalalatul alfadh nomor 3 setelah manthuq shorih dan ghoiru shorih. Jadi, jika mahasiswa gadungan mau menafikan mafhum, maka dia harus mendatangkan nash mukholifnya, dapatkah ia menemukannya, atau cuma koar-koar sok akademis?!

“Melihat tindak tanduk nusron purnomo cs yang ngalor ngidul teriak bela Ahok, kami menilai kayaknya agama nusron purnomo cs adalah ‘uang’, karena sudah menjadi rahasia umum dia termasuk pelobi ulung, apapun siap dilakukan asal ada uang dan pangkat, umat islam sudah kenyang sampai ‘nek’ mendengar ucapan nusron menyinggung agama islam. Kalau memang orientasi hidupnya memang ‘uang’, kenapa ndak sekalian aja jadi santrinya KANJENG DIMAS TAAT PRIBADI?!”

“Kami sangat kecewa PPP kubu Djan Farid mendukung Ahok, Innalillahi wa inna ilaihi roji’in, naudzubillah min dzalik”

“Santri Al anwar hendaknya berdoa kepada Allah SWT agar petisi pembubaran MUI yang digagas kaum munafiqin dan kafirin segera digagalkan oleh Allah Maha Besar”

#bersambung

Wallahul Musta’an


Artikel Terkait