Tokoh Liberal Yang Anggap Ayat Alfatihah Doa Orang Sesat

Shortlink:

image

image

NUGarisLurus.Com – Pemikiran liberalisme semakin subur di negeri ini. Bahkan di acara Haul seorang ulama besar atau mungkin wali Allah, dedengkot liberalis berani memasukkan jenis pemikiran buruk dan kotor tersebut kepada masyarakat awam dan kaum Nahdliyyin melalui ceramah -ceramahnya di muka umum secara terang -terangan.

Berikut penuturan KH. Muhammad Idrus Ramli tentang sosok dan tokoh liberal tersebut beserta jawaban atas kesesatannya yang kami kutip dari akun facebook pribadi beliau hari ini, Sabtu (9/7).

RELATIVISME KEBENARAN
DAN TAFSIR KAUM LIBERAL (edisi 1)

Perang pemikiran Islam di Indonesia, memasuki babak baru dengan semakin maraknya pemikiran ekstrim dan radikal yang diimpor dari dunia luar. Sebelum kemerdekaan, pra berdirinya Nahdlatul Ulama, perang pemikiran dimulai dengan masuknya aliran Wahabi dan Syiah yang membawa ideologi dan ajaran baru yang berbeda dengan ideologi dan ajaran mayoritas umat Islam di dunia, termasuk umat Islam Indonesia, yaitu Islam Ahlussunnah Wal-Jamaah dengan mengikuti madzhab al-Syafi’i dalam fiqih dan madzhab al-Asy’ari dalam akidah. Kini, setelah kemerdekaan, pelan tapi pasti, umat Islam dihadapkan lagi dengan tantangan baru, berupa pemikiran liberal yang diimpor dari Barat.

Salah satu ciri khas paham liberal adalah doktrin relativisme kebenaran. Relativisme berasal dari kata Latin, relativus, yang berarti nisbi atau relatif. Sejalan dengan arti katanya, relativisme adalah doktrin pemahaman yang memandang bahwa perbedaan budaya, etika, moral, bahkan agama, bukanlah perbedaan dalam hakikat, melainkan perbedaan karena faktor-faktor di luarnya. Atas dasar ini nilai-nilai seperti kebaikkan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan tergantung pada masing-masing orang dan budaya masyarakatnya, bukan karena sesuatu itu memang baik atau buruk, atau benar atau salah pada hakikat dirinya.

Seiring dengan pengaruh relativisme yang semakin gencar, kini umat Islam di Indonesia dihadapkan dengan pemikiran para tokoh modern yang sama sekali asing dari pemikiran Islam Indonesia sebelumnya. Jika sebelumnya, umat Islam sepakat bahwa kelompok-kelompok di luar Ahlussunnah Wal-Jamaah diyakini sebagai aliran sesat dan menyesatkan. Para tokoh liberal berusaha mengaburkan kenaran menuju ketidakpastian antara satu aliran dengan aliran yang lain. Menurut kaum liberal, antara satu aliran dengan aliran yang lain, memiliki posisi yang sama. Tidak ada kepastian antara yang satu dan yang lain, siapa di antara mereka yang benar dan tidak benar. Siapa di antara mereka yang mengikuti petunjuk ilahi atau justru tersesat dari kebenaran. Konsep qath’iy dan zhanniy kini berupaya dihilangkan jejaknya.

Beberapa waktu yang lalu, seorang tokoh liberal memberikan ceramah dalam sebuah acara haul salah seorang ulama besar yang terkenal waliyullah di salah satu kota yang letaknya beberapa puluh kilo meter ke arah timur Surabaya Jawa Timur. Dalam ceramah tersebut, ia menyampaikan:

“Saudara-saudara, kita ini jangan mudah menyesatkan aliran lain. Jangan gampang menyesatkan kelompok lain. Karena kita sendiri belum tentu tidak sesat. Bukankah setiap shalat kita selalu membaca:

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.

Dalam setiap shalat, kita selalu memohon agar diberi petunjuk ke jalan yang lurus. Mengapa? Karena kita sendiri belum tentu lurus, belum tentu tidak sesat.”

Demikian sebagian isi ceramah tokoh liberal tersebut. Begitu mendengar kalimat itu, para kiai yang hadir mengernyitkan dahi mereka. Tidak menyangka, ternyata isi ceramah tokoh yang dikagumi banyak orang di level nasional ini, tidak ilmiah dan tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Berikut tanggapannya akan kami sajikan dalam bentuk dialog antara LIBERAL (L) vs ANTI LIBERAL (AL).

L:  Jangan mudah menyesatkan aliran lain. Jangan gampang menyesatkan kelompok lain. Karena kita sendiri belum tentu tidak sesat. Bukankah setiap shalat kita selalu membaca:

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.

Dalam setiap shalat, kita selalu memohon agar diberi petunjuk ke jalan yang lurus. Mengapa? Karena kita sendiri belum tentu lurus, belum tentu tidak sesat.

AL: Dalam setiap shalat kita berdoa;

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.

Apakah dengan doa tersebut, Anda memahami bahwa kami yang berdoa karena belum meyakini bahwa ajaran agama yang kami ikuti pasti lurus?

L: Sudah pasti karena belum meyakini ajaran kami lurus, maka kami berdoa.

AL: Sudah pasti kesimpulan Anda keliru. Ketika kami berdoa, tunjukkanlah kami ke jalan lurus, maka ada dua kemungkinan berkaitan dengan doa tersebut. Pertama, mungkin karena keyakinan bahwa kami belum pasti lurus. Kedua, mungkin kami sudah meyakini lurus, akan tetapi memohon tetap ditunjukkan ke jalan yang lurus hingga akhir hayat kami. Dalam hal ini, kemungkinan dari doa tersebut, tetap ada dua, mungkin belum pasti lurus dan mungin diyakini lurus.

Dari dua kemungkinan tersebut, kemungkinan pertama, yaitu kami berdoa karena belum meyakini kami pasti lurus, adalah kemungkinan yang jelas keliru. Mengapa kemungkinan yang Anda ambil tersebut pasti keliru? Ada beberapa jawaban terhadap kekeliruan Anda:

Pertama, doa tersebut telah dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat, ulama salaf yang shaleh serta para ulama yang mu’tabar. Tidak mungkin mereka berkeyakinan bahwa ajaran mereka belum pasti lurus. Jika mereka belum meyakini bahwa ajaran mereka lurus, tidak mungkin mereka memperjuangkan penyebaran agama dengan harta, jiwa dan raga. Perjuangan dan pengorbanan mereka, justru karena didasari oleh keyakinan terhadap kebenaran yang mereka sampaikan.  Keraguan tidak akan melahirkan keberanian dan semangat dalam perjuangan.

Kedua, dalam menafsirkan ayat al-Qur’an, harus mengikuti konsep pemahaman al-Qur’an itu sendiri serta konsep pemahaman yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika menafsirkan ayat tersebut, para ulama berkata:

(اهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيمَ): ثَبِّتْنَا عَلىَ الطَّرِيْقِ الْحَقِّ وَهُوَ دِيْنُ اللهِ أَوِ اْلإِسْلاَمُ

Tunjukkan kami ke jalan yang lurus: teguhkanlah kami di atas jalan yang benar yaitu agama Allah atau Islam. (Al-Imam al-Iji, Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, juz 1 hlm 24).

Dalam pernyataan di atas, al-Iji menafsirkan dengan “teguhkanlah kami di atas jalan yang benar.” Penafsiran tersebut sejalan dengan ayat al-Qur’an:

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (8)

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

Dalam ayat tersebut Allah mengajarkan kita agar senantiasa memohon diteguhkan dalam kebenaran setelah meyakini bahwa kita benar-benar telah memperoleh petunjuk dari Allah terhadap kebenaran itu. Permohonan agar kita mendapatkan petunjuk kepada Allah, tidak hanya dilakukan ketika kita memang belum meyakini mendapatkan petunjuk. Akan tetapi kita lakukan meskipun kita meyakini telah mendapatkan petunjuk dari Allah. Kita memohon agar diteguhkan dan dikuatkan dalam kebenaran tersebut hingga akhir hayat nanti. Wallahu a’lam.

Bersambung

Wallahu Alam


Artikel Terkait