Demak Kota Wali, Kini Bertabur Karaoke Buka Ramadhan & Lebaran

Shortlink:

image

image

NUGarisLurus.com – Ironis sekali keberadaan kota Demak Jawa Tengah yang dulu dikenal sebagai kota para Wali dari keberadaan masjid Agung hingga makam Sunan Kalijaga, Namun kini di kota ini menjamur dan bertabur karaoke hiburan maksiyat diberbagai sudut kota hingga sangat berani tetap buka meski Ramdhan dan malam lebaran.

Berikut penuturan kisah nyata wartawan jurnalis dari media metro Semarang Anton Sudibyo.

Di Kota Wali, Ramadhan hingga Malam Takbiran, Karaoke tetap Buka sampai Pagi

Apa yang anda bayangkan tentang Kabupaten Demak? Masjid Agung dengan tiang soko tatal, pusat penyebaran Islam di Jawa, Kerajaan Maritim terkuat setelah era Majapahit dan Sriwijaya, Makam Sunan (paling slenge’an) Kalijaga. Yap betul semua. Karena sejarah keislamannya yang kuat, Kabupaten yang diapit Kota Semarang dan Kudus ini mendapat julukan yang bermartabat: Kota Wali. Para peziarah Walisanga dari seluruh penjuru Nusantara dapat dipastikan mencantumkan kota kecil ini sebagai salah satu destinasinya.

Tapi kota ini punya julukan baru sekarang. Setidaknya saya yang menjuluki. Kota Karaoke. Yang mau protes boleh, tapi silahkan nulis sendiri. Yang masih bimbang mau protes, silahkan baca sampai titik terakhir tulisan ini.

Baiklah, awal keterkejutan saya dimulai ketika telepon genggam saya berdering suatu malam di Bulan Ramadan. Kawan lama. Setelah ngobrol ngalor ngidul, saya kaget ketika dia mengatakan menelepon dari sebuah karaoke di Kota Wali. Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 lebih sedikit kala itu. Berarti sudah mau pulang, tanyaku. Ternyata tidak. Karaoke masih buka sampai pagi. “Bisa jam 4, 5, bahkan sampai matahari terbit jika tamunya belum mau pulang, masih dilayani.”

Edan, kubilang.

Perihal Demak ada karaoke bukan hal baru bagi telingaku karena memang sudah ada sejak lama. Tapi ini Ramadan bro, mosok tidak ada pembatasan jam. Sedangkan di kota besar seperti Semarang, tempat hiburan dibatasi jam operasionalnya pada Bulan Ramadan. Karaoke di Semarang diijinkan buka pukul 21.00 hingga 01.00 dini hari. Di Bandung dan Bandungan malah tutup sebulan penuh.

“Demak bebas bos, setorannya kenceng kali. Tidak ada bedanya Ramadan dan hari biasa, buka terus,” timpalnya.

Dari wawancara singkat, saya memetakan beberapa tempat karaoke di Kota Wali. Pertama Karaoke Sam, begitu sebutannya. Mungkin itu nama depan ownernya karena di tempat itu tidak ada plang atau papan nama. Lokasi Sam adalah sebuah daerah yang disebut “Bong”  karena di situ bekas komplek pekuburan Tionghoa. Menariknya (atau ironisnya), Sam terletak di belakang Polsek Kota Demak. Depan Polsek ada SD Bintoro 1 Demak. Ada lebih dari 10 room yang disediakan dgn harga bervariasi. Dan tentunya para cewek-cewek seksi yang disebut pemandu karaoke atau istilah kerennya LC.

Kedua di Jalan Lingkar Demak. Lingkar Musik, namanya. Jika menengok harga room dan tarif PK perjamnya, nampaknya Lingkar membidik segmen lebih tinggi. Mereka menyediakan 12 room dengan puluhan PK dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Oya, kalau di Sam tarif PK 60 ribu perjam, di Lingkar kalau tidak salah sekitar Rp 75 ribu.

Ketiga ada MM di sebelah komplek bekas Stasiun dan Dewa Musik di Jl Raya Demak-Dempet. Dua karaoke ini saya satukan penyebutannya karena pemiliknya sama. Katanya sih mantan lurah.

Nah, dua karaoke inilah yang paling “sangar” karena jam operasionalnya bisa tak terbatas. Bahkan jika karaoke lain hanya berani buka saat Ramadan, di Dewa Musik bahkan buka di Hari H Iedul Fitri. Kendel tenan.

Dewa Musik terletak persis kiri jalan sebelum pertigaan masuk Jalan Lingkar dari arah Kadilangu. Betul, deket banget dari Komplek Makam Kanjeng Sunan Kalijaga. Kalau jalan-jalan di sekitar situ carilah pagar tembok bergambar. Ada tulisannya gede “Dewa Music”. Masuk pintu besi itu kala malam, maka hingar bingar musik berbagai genre terdengar.

Karena penasaran, saya putuskan meninjau DM pas lebaran. Saya ngikut beberapa kawan lama yang kebetulan ingin takbiran di room karaoke. Kesempatan pikirku. Meski beberapa diantaranya tidak kenal benar, yang penting bisa masuk ke dalam. Berarti saya  blusukan ke sana pada Selasa 5 Juli 2016, malam. Besok paginya udah shalat ied tuh. Dan ternyata benar. Buka bro. Ramai malah. Seluruh room terpakai dan PK sold out. Warbyasak!

Semakin penasaran saya masuk ke dalam, iseng tanya pada seorang penjaganya kenapa berani buka. Dia menjawab tidak tahu, yang jelas bosnya menyuruh buka. Tidak hanua malam lebaran itu saja. Tapi juga lebaran pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Ngeri tok. Kapan preine ya.

Seorang PK kemudian saya dekati. Nampaknya dia sedang setengah tiang. Mungkin mabuk congyang. Bermodal rokok sebatang dan segelas bir saya berhasil mengorek sedikit informasi. Katanya, PK di DM pada hari biasa ada puluhan. Dia tidak tau jumlah persisnya.

“Malam ini yang kerja cuma delapan apa sembilan ya, lupa. Lainnya lebaran,” kata dia.

“Lha kamu kok orak badhan (berlebaran),” tanyaku.

“Orak, rak ono sing diajak badhan wakakaka,” katanya seraya menenggak birnya.

Di DM ada 10 room sebenarnya, tapi saya lihat cuma sekitar 7 room yang beroperasi. Ada yang bilang beberapa room rusak alat-alatnya sehingga tidak bisa dipakai. DM sedia bermacam minuman beralkohol. Dari bir, congyang, sampai yang agak mahal dikit seperti Red Label juga ada. Sewa room perjam Rp 60 ribu, tarif PK juga Rp 60 ribu perjam. Oya, setiap room sudah dilengkapi komputer untuk memilih lagu. Sedangkan monitornya menggunakan proyektor yang ditembakkan ke tembok. Ok, sudah kemajuan pikirku dibanding dulu yang masih pake VCD player sehingga untuk ganti lagu harus teriak-teriak ke operator :)))

Sampai di situ saya putuskan udahan. Karena informasi sudah cukup dan jam sudah menunjukkan pukul 02.30, saya putuskan pulang. Beberapa teman yang berangkat bareng ternyata masih ingin lanjut sehingga saya tinggal. Belakangan saya tahu, mereka karaoke sampai Subuh berkumandang.

Pulang dari DM saya masih muter-muter sebentar sebelum pulang. Di jalan lingkar, sekitar traffic light, warung-warung masih buka. Beberapa nampak ramai dengan sepeda motor terparkir di pinggir jalan. Ketika dekat, baru saya sadar kalau ternyata sebagian warung itu menyediakan ruang karaoke. Berupa satu ruang tertutup terpal atau MMT. Musik dangdut ditimpali suara penyanyi yang fals terdengar keras dari jalan. Bukan DM saja ternyata yang buka di malam takbiran.

Dan entah masih berapa banyak lagi yang saya belum tahu. Informasi lanjutan, karaoke di Demak juga tersebar hingga Trengguli, Gajah, dan Dempet baik skala warungan maupun gedongan. Duh, kotaku sudah dikepung karaoke. Bukan sok alim sendiri ketika mengatakan itu, tapi hilang sudah kebanggaanku sebagai putra Demak ketika menceritakan kebersahajaan kota ini. Dulu saya sering membanggakan betapa kota kecil ini begitu tenang, tanpa mall, minimarket saja bisa dihitung dengan jari, dan jarang sekali ada demonstrasi. Saya juga sering menceritakan bagaimana di kota ini setiap Jumat lebih mudah menemui pengendara motor mengenakan peci dan surban daripada helm. Bahkan setiap malam jumat banyak anak-anak muda nongkrong di alun-alun dengan sarungan dan di bahunya tersampir sajadah.

Sekarang pemandangan itu sudah jauh berkurang. Sudah lama juga saya tak pulang dan kelayapan malam jadi tak bisa merekam lagi bagaimana penampakan muda mudi di alun-alun. Tapi satu hal yang saya tahu sekarang. Bahwa ketika gemerlap hiburan malam di kota besar istirahat saat Ramadan, di Demak malah bebas tak terkendali. Boleh jadi malah satu-satunya di Nusantara yang buka pas malam takbiran. Kemana bupati, kemana polisi, kemana kaum ulama penjaga warisan para Wali?

Wallahu a’lam…

Sumber: Anton Sudibyo (jurnalis Metro Semarang)


Artikel Terkait