Belajar Adab Dipenjara, Bagi Yang Melarang Ucapan ‘Sayyidina’

Shortlink:

image

NUGarisLurus.com – Belakangan sempat ramai dijejaring sosial tentang perilaku tokoh salafy yang berani melarang ucapan ‘Sayyidina’ untuk Rasulullah Muhammad Shollahu alaihi wasallama.

Berikut tanggapan komandan nasional NU Garis Lurus, Gus M. Luthfi Rochman atas fenomena tersebut yang kami kutip dari halaman facebook pribadinya.

Fatwa Untuk Pelajar Yang Berani Melarang Ucapan Sayyidina

Didalam kitab ikmal Al ikmal disebutkan fatwa dari Sulthonul Ulama As Syaikh Izzuddin Bin Abdissalam bahwa bila ada seseorang tholib/pelajar agama yang berani melarang ucapan ‘Sayyidina’ untuk Nabi Muhammad didalam sholat maka seharusnya pelajar agama/tholib tersebut harus dipenjara agar belajar adab/tatakrama.

ﺇﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ سلطان العلماء عز الدين ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﺃﻓﺘﻰ ﻓﻲ ﻗﻀﻴﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺐ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺎﻝ ﻻ ﻳﺰﺍﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺫﻛﺮ ﺳﻴﺪﻧﺎ، ﺑﺄﻥ ﻳﺆﺩﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺠﻦ، ﻭﺑﻘﻲ ﻫﻨﺎﻙ ﺣﺘﻰ ﺷُﻔِّﻊ ﻓﻴﻪ ﻓﺨﻠﻰ ﺳﺒﻴﻠﻪ، ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ‏《ﺇﻛﻤﺎﻝ ﺍﻹﻛﻤﺎﻝ》

Sesungguhnya sangat banyak sekali dalil tentang bolehnya mengucapkan “Sayyidina’ baik didalam al Qur’an, Hadits, dan pendapat para ulama. Didalam surat Yusuf Allah juga memberi contoh tentang ucapan sayyid yang maknanya tuan terhadap seseorang manusia biasa yang bukan Nabi dan Rosul, maka sungguh aneh pendapat yang melarang ucapan sayyid untuk pemimpin para Nabi dan Rosul Muhammad Shollallahu Alaihi wasallam.

ﻭَﺃَﻟْﻔَﻴَﺎ ﺳَﻴِّﺪَﻫَﺎ ﻟَﺪَﻯ ﺍﻟْﺒَﺎﺏِ  ‏( 25 ﻳﻮﺳﻒ ‏)

Lalu sebagian kalangan yang melarang ucapan sayyidina bertanya bagaimana hukumnya ucapan sayyidina didalam Adzan? Kenapa banyak yang tidak mengucapkannya disaat membaca syahadat?

Maka kami jawab bahwa As Syaikh Nuruddin Ali Syibromilisi dari mazhab Syafi’i tetap berpendapat bahwa ucapan Sayyidina didalam tasyahhud ketika Adzan hukumnya Sunnah.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﻧﻮﺭ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺸَّﺒْﺮَﺍﻣَﻠِّﺴِﻲ ‏[ﺕ 1087 ﻫـ‏] ﻓﻲ ﺣﺎﺷﻴﺘﻪ علي نهاية المحتاج ( ﻗﻮﻟُﻪ : ﻷَﻥَّ ﻓﻴﻪ ﺍﻹﺗﻴﺎﻥَ… ﺇﻟَﺦ‏) ﻳُﺆﺧَﺬُ ﻣِﻦ ﻫﺬﺍ ﺳَﻦُّ ﺍﻹﺗﻴﺎﻥِ ﺑﻠَﻔﻆِ ﺍﻟﺴِّﻴﺎﺩﺓِ ﻓﻲ ﺍﻷَﺫﺍﻥِ، ﻭﻫﻮ ﻇﺎﻫِﺮٌ؛ ﻷَﻥَّ ﺍﻟﻤَﻘﺼُﻮﺩَ ﺗَﻌﻈِﻴﻤُﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋﻠﻴﻪِ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻮَﺻﻒِ ﺍﻟﺴِّﻴﺎﺩَﺓِ ﺣﻴﺚُ ﺫُﻛِﺮَ. ﻻ ﻳُﻘﺎﻝُ : ﻟﻢ ﻳَﺮِﺩ ﻭَﺻﻔُﻪُ ﺑﺎﻟﺴِّﻴﺎﺩﺓِ ﻓﻲ ﺍﻷَﺫﺍﻥِ؛ ﻷَﻧّﺎ ﻧَﻘُﻮﻝُ : ﻛﺬﻟﻚَ ﻫﻨﺎ، ﻭﺇﻧَّﻤﺎ ﻃُﻠِﺐَ ﻭَﺻﻔَﻪ ﺑﻬﺎ ﻟﻠﺘَّﺸﺮِﻳﻒِ، ﻭﻫﻮ ﻳَﻘﺘَﻀِﻲ ﺍﻟﻌُﻤُﻮﻡَ ﻓﻲ ﺟَﻤِﻴﻊِ ﺍﻟﻤَﻮﺍﺿِﻊِ ﺍﻟﺘﻲ ﻳُﺬﻛَﺮُ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﺳﻤُﻪ ﻋﻠَﻴﻪ ﺍﻟﺼَّﻼﺓُ
ﻭﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ” ‏( 63 ‏) ﺍﻫـ

Kesimpulannya para ulama salaf dan kholaf berpendapat tentang bolehnya ucapan sayyidina dan sebagian besar berpendapat atas kesunnahannya. Melarangnya adalah sebuah keburukan adab dan tatakrama terhadap Rasulullah yang kita hormati keagungan kedudukannya.

Wallahu Alam


Artikel Terkait