Status Aneh Mantan Rais Aam, Ini Pendapat Gus Ahmad Dairobi

Shortlink:

image

NUGarisLurus.com – Mantan Rais Aam NU KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus kembali membuat status aneh soal polemik warung makan yang tetap buka dibulan puasa Ramadlan.

Sebagai seorang tokoh, pernyataan bapak mertua tokoh jaringan liberal Indonesia (JIL) Ulil Abshar Abdallah tentu bukan pernyataan yang biasa.

Puasa-puasamu sendiri, kok minta
bantuan pengusaha warung. Minta
bantuannya, maksa lagi.

Cuplikan sindiran status diatas diposting melalui akun facebook pribadinya Ahmad Mustofa Bisri dan disukai ribuan akun serta ratusan komentar pro dan kontra.

Tak terkecuali Gus Ahmad Dairobi, guru senior pesantren Sidogiri Pasuruan, Jatim ikut menyampaikan kegundahannya atas status Gus Mus.

Dua Ramadhan terakhir, dinding FB saya ramai dengan cuplikan pernyataan Gus Mus yang terkesan pasang badan untuk warung-warung yang buka di siang hari Ramadhan.

Benarkah Gus Mus membuat pernyataan demikian? Komentar orang pun beragam. Ada yang menganggapnya sebagai tokoh bijak dan toleran; ada yang menganggapnya terlalu lunak; bahkan tak sedikit orang yang menganggapnya agak liberal.

Yang jelas, tanpa dibela sekalipun, warung yang buka semakin merajalela dan orang-orang yang makan di tempat umum semakin berkeliaran… Orang awam seperti saya sulit untuk menalar…

Gus Ahmad Dairobi juga ikut membandingkan logika penalaran Gus Mus dengan logika NU versus Wahabi.

Ahmad Dairobi

Retweeted A. Mustofa Bisri (@ gusmusgusmu): Puasa-puasamu sendiri, kok minta bantuan pengusaha warung. Minta bantuannya, maksa lagi. 😄 😂
………..

Gimana kalau begini: NU-NU-mu sendiri, kok minta bantuan Wahabi (dengan menyuruh mereka diam)

Terakhir Gus Dairobi mengutip hujjah pendapatnya sendiri tentang para penjual warung makan dengan beragam alasannya melayani mereka yang tidak berpuasa.

LOGIKA WARUNG

Di media mulai banyak orang bilang, “Kalau semua warung tutup, lalu anak- anak dan orang yang udzur puasa mau makan di mana?”

Bagaimana kalau begini:

“Kalau penjahat dipenjara, lalu keluarganya mau makan apa?”

“Kalau menanam ganja dilarang, lalu kebutuhan medis terhadap ganja mau dapat dari mana?”


Artikel Terkait