KHR. Muqtafi Aschal: Merusak NU Dari Dalam, Said Aqil Wajar Didesak Mundur

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Cucu Syaikhona Kholil Bangkalan KHR. Muqtafi Abdullah Schal ikut bersuara atas desakan mundur dari ‘Halaqah Ulama NU’ kepada ketua NU hasil muktamar Jombang yang penuh kecurangan Dr. Said Aqil Siraj. [Baca http://www.nugarislurus.com/2016/05/halaqah-ulama-nu-desak-said-aqil-mundur.html]

Berikut ini wawancara redaksi NUGarisLurus.com kepada ulama Madura Pengasuh Pondok Pesantren Sirrul Kholil, yang kakeknya merupakan guru pendiri NU Hadhrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari ini, Jum’at (20/5).

Bagaimana tanggapan Kiai, tentang desakan mundur banyak kiai NU kepada Dr Said Agil Siraj dari jabatan Ketua Umum PBNU yang akhir-akhir ini mulai bergulir?

Saya kira itu hal yang wajar dalam organisasi, dan mungkin sudah seharusnya para kiai yang masih setia dengan NU dan akidah Ahlussunnah Wal-Jamaah, untuk mendesak Dr Said mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PBNU.

Alasannya Kiai?

Alasannya saya kira banyak sekali. Dan semuanya bersifat prinsip. Misalnya alasan para kiai, bahwa Dr Said sejak menjadi Ketua Umum PBNU, tidak pernah memperkuat ideologi NU, yaitu Ahlussunnah Wal-Jamaah, dan justru menggerogoti dan merusak NU dari dalam.

Kita semua tahu, bahwa para masyayikh mendirikan NU tujuannya untuk menjaga akidah umat agar tetap kokoh dalam bingkai Ahlussunnah Wal-Jamaah, seiring dengan masuknya banyak aliran ideologi ke Indonesia, menjelang berdirinya NU, seperti ideologi Syiah, Wahabi dan lain-lain. Sementara Dr Said Agil, justru mengikuti, dan menyebarkan ideologi Syiah dan Hizbut Tahrir melalui mesin organisasi NU. Ini alasan pertama. Ini masalah serius. Para kiai yang punya ghirah kepada akidah, terutama yang duduk di jabatan struktural, jangan pura-pura tidak tahu terhadap persoalan ini. Syiah dan Hizbut Tahrir, masuk dalam kategori di luar Ahlussunnah Wal-Jamaah.

Kiai mengatakan bahwa Dr Said Agil menyebarkan ideologi Syiah dan Hizbut Tahrir. Bisa dibuktikan?

Saya kira ini bisa dibuktikan dengan membaca buku Dr Said Agil yang diterbitkan oleh PBNU tahun 2012 tentang tasawuf, yang dibantah oleh para asatidz di Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam buku tersebut, Said Agil telah melecehkan akidah Ahlussunnah Wal-Jamaah, dengan mengatakan, bahwa beriman kepada Qadha’ dan Qadar sumbernya dari penguasa Bani Umayyah, karena tujuan politik. Sedangkan tidak percaya kepada Qadha’ dan Qadar yang diyakini oleh Syiah dan Hizbut Tahrir, dia bilang sumbernya dari Ahlul Bait, melalui jalur Washil bin Atha’, dari Muhammad bin al-Hanafiyah, dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah Saw. Ini jelas suatu kebohongan sejarah dan pelecehan terhadap akidah Ahlussunnah Wal-Jamaah yang dijaga oleh para masyayikh NU. Ini baru satu point saja dari penyimpangan ideologi Said Agil. Alasan apapun tidak dibenarkan dalam masalah ini. Ini persoalan akidah.

Kiai mengatakan bahwa Dr Said Agil mengikuti akidah Syiah dan Hizbut Tahrir, lebih jelasnya bagaimana?

Begini, Hizbut Tahrir dan Syiah sama-sama mengadopsi ideologi Mu’tazilah dalam menolak adanya keyakinan terhadap Qadha’ dan Qadar. Hal ini senafas dengan apa yang ditulis oleh Dr Said Agil dalam bukunya, yang telah dibantah oleh para asatidz di Sidogiri.

Kembali kepada persoalan desakan mundur kepada Dr Said Agil, bagaimana Kiai?

Seperti saya tegaskan tadi, sudah seharusnya ini dilakukan oleh para kiai, kalau masih setia dengan akidah Ahlussunnah Wal-Jamaah, yang diperjuangkan oleh para masyayikh pendiri NU.

Saya kira kalau para kiai membaca buku yang ditulis oleh Dr Said Agil dan membandingkan dengan buku Sidogiri, pasti akan merasa dikhianati oleh Dr Said Agil.

Wallahu Alam


Artikel Terkait