Imam Besar: Pemimpin Kafir Menambah Hancur Negeri Ini

Shortlink:

image

image

image

image

NUGarisLurus.Com – Imam Besar NU Garis Lurus KH. Luthfi Bashori kembali memberikan pernyataan tegas atas ulah para pemimpin kafir yang membuat hancur negeri ini khususnya Gubernur Jakarta Ahok. Berikut kami kutip dari website pejuangIslam.Com.

image

INDONESIA TERASA SEMAKIN RUSAK, AKIBAT BANYAK PIHAK YANG BEREBUT KEKUASAAN

Oleh KH. Luthfi Bashori

Melihat kondisi bangsa Indonesia, rasanya semakin hari semakin memprihatinkan. Para pejabat yang sengaja menjual aset negeri ini ke tangan Asing dan A seng, semacam proyek reklamasi pantai Jakarta, semacam Ahok ternyata masih tetap bebas berkeliaraan, bahkan mendapat sanjungan dari sebagian para penjilatnya.

Para koruptor kelas kakap lainnya juga, masih tetap dapat menghirup udara segar, sebut saja Hary Tanoe yang terduga kuat ngemplang uang restitusi pajak mobile-8 sebesar 80 milyar (sumber: tribunnews.com).  Mereka ibarat tikus-tikus sawah di tempat para petani desa yang tak mampu memberantasnya.

Keberadaan masyarakat muslim yang buta aqidah, juga bertebaran menghiasi di hampir semua lini kehidupan. Bahkan pejabat kafirpun disanjung dan dihormati sedemikian rupa oleh kalangan muslim buta aqidah itu, sampai-sampai ada di antara mereka yang membaca shalawat “Thala’al Badru Alaina” hanya karena kedatangan pemimpin kafir semacam Ahok dan Hary Tanoe, padahal shalawat itu dahulu kala dipergunakan untuk menyambut kedatangan Rasululah SAW saat berhijrah ke kota Madinah.

Begitulah kenyataan yang terjadi bila jabatan di suatu negeri, sengaja diperebutkan hingga jatuh ke tangan figur yang bukan ahlinya, seperti saat maraknya pelaksanaan pilkada, baik itu di pusat maupun di daerah-daerah. Maka yang terjadi hanyalah kerusakan dan kerusakan saja,  dan yang demikian ini pastinya akan datang silih berganti.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila amanat disia-siakan, maka tunggulah saat kehancuran”.

“Bagaimana menyia-siakan amanat itu, ya Rasulullah ?” tanya seorang shahabat.
Rasulullah SAW bersabda, “Apabila perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhari).

Nyata sekali, bahwa di negeri ini sudah banyak pejabat yang tidak ahli dan tidak cakap dalam bidang pemerintahan, namun dirinya terpilih menjadi pejabat publik dalam pilkada, karena faktor menang suara yang telah dibelinya dari warga miskin yang butuh dana kehidupan.

Hal ini sangat kontras dengan kondisi di jaman Nabi  S.A.W, sebagaimana Sy. Abu Dzar RA menceritakan, bahwa beliau bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak mau mengangkat saya sebagai amil (pejabat)?”

Lantas Nabi Muhammad SAW menepuk bahunya pelan seraya bersabda, “Ya Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah, sedangkan kekuasaan itu adalah amanat. Sungguh kekuasaan itu pada hari kiamat menjadi hina-dina dan penyesalan. Kecuali orang  yang menerimanya dan melaksanakan tanggung jawabnya.” (HR. Imam Ahmad dan Muslim)

Sy. Abdullah bin Samurah RA mengabarkan, Nabi Muhammad SAW bersabda, “ Ya Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan. Sebab jika kamu dibebani sepenuhnya dan kamu diberi jabatan itu tanpa memintanya, maka kamu akan dibantu (Allah) untuk mengatasinya.” (Muttafaq Alaih)

Sy. Abu Musa RA mengisahkan bahwa ia menghadap Nabi Muhammad SAW bersama dua orang laki-laki saudara sepupunya. Lalu salah seorang saudara sepupunya itu berkata, “Ya Rasulullah, angkatlah kami untuk mengurus tugas yang telah Allah bebankan kepadamu.”

Saudara sepupunya yang lain juga menyatakan demikian. Namun Nabi Muhammad SAW bersabda, “Demi Allah, Sesungguhnya kami tidak akan menyerahkan pekerjaan kepada seseorang yang memintanya, atau seseorang yang sangat menginginkannya (berambisi).” (HR. Muttafaq Alaih).

Wallahul Musta’an


Artikel Terkait