Cucu Syaikhona Kholil: Logika Kurang Waras Pendukung Pemimpin Kafir

Shortlink:

pemimpimuslim

NUGarisLurus.Com – Ketua PBNU, KH Said Agil Siraj menjelaskan soal Pemimpin Non Muslim adil lebih baik dibanding pemimpin muslim yang dzalim KH. Said menegaskan bahwa pernyataan beliau terkait pemimpin muslim atau non muslim tidak ada kaitannya dengan Pencalonan Gubernur DKI pada Pilkada DKI 2017.

Pernyataan Kyai Said ini disampaikan saat Rapat Kerja Lembaga Pertanian Nahdlatul Ulama (LPNU), di Hotel Accacia.

Mengutip Ibn Taimiyyah, Kyai Said mengatakan bahwa Pemimpin yang adil non muslim jauh lebih baik daripada pemimpin muslim yang dzalim.

“Persoalan manusia bisa tegak di dunia ini hanya dengan keadilan. Yang boleh jadi keadilan pemerintah dia melakukan dosa seperti non muslim, itu akan lebih tegak daripada orang yang dalam hal agama tidak melakukan dosa tetapi dzalim” terang kang Said, membacakan teks Ibn Taimiyyah.

“Sesungguhnya Allah memperkuat negara yang adil, walaupun negara itu dipimpin kafir. Dan Allah tidak akan melanggengkan, memperkuat negara dzalim meski dipimpin orang-orang Islam”

Sumber: http://www.arrahmah.co.id/2016/05/penjelasan-ketua-pbnu-perihal-pemimpin-non-muslim-adil-jauh-leih-baik-dibanding-pemimpin-muslim-dzalim.html

Tanggapan Cucu Syaikhona Kholil KHR. Muqtafi Aschal

Pengasuh Pondok Pesantren Sirrul Kholil KHR. Muqtafi Abdullah Schal menyindir seseorang yang menggunakan pendapat Ibnu Taimiyyah untuk memperbolehkan pemimpin kafir sebagai logika kekurang warasan (gila red).

Berikut ini tulisan lengkap dari ulama yang masih trah cucu Syaikhona Kholil Bangkalan guru dari Hadhrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari ini selengkapnya.

LOGIKA AKAL WARAS VS AKAL TIDAK WARAS

Masyarakat awam akhir-akhir ini pasti makin bingung. Karena banyak pendapat baru yang tidak sesuai dengan ajaran yang mereka terima dari pendahulu mereka, berusaha diberikan dalil dan alasan sebagai pembenar pendapatnya. Tak peduli pendapat itu benar atau salah. Tulisan ini, sebagai oret-oretan orang kampung dan pelosok seperti saya, bahwa di dunia ini memang tidak jarang terjadi, orang atau kelompok yang membela ajarannya dengan berdasarkan suatu dalil. Hanya saja, dalil itu ada yang dipahami benar, dan ada yang disalahpahami, entah disengaja atau tidak disengaja. Beberapa kasus, logika akal waras vs akal tidak waras terhadap suatu dalil misalnya berikut ini:

SHALAT KAUM KEBATINAN

Dalam al-Qur’an ada ayat:

أقم الصلاة لذكري

Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku

Logika akal waras memahami ayat tersebut tersebut sebagai perintah untuk mengingat Allah dalam shalat; atau perintah agar khusyu’ dalam shalat.

Logika akal tidak waras versi kebatinan, memahami ayat tersebut sebagai perintah mengingat Allah dengan cara shalat. Kalau tanpa shalat sudah bisa mengingat Allah, maka kewajiban shalat menjadi gugur. Demikian pemahaman kaum kebatinan seperti seringkali kita dengar. Pemahaman ini jelas keliru, karena perintah shalat memang tidak pernah gugur, meskipun seseorang mencapai tingkat tinggi dalam ingat kepada Allah.

ORANG MATI MENURUT WAHABI

Ada sebuah hadits berikut ini:

أذا مات ابن أدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية وعلم ينتفع به وولد صالح يدعو له

Apabila seorang anak manusia meninggal dunia, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara; sedekah yang mengalir, ilmu yang bermanfaat bagi murid dan santrinya, dan anak shaleh yang selalu mendoakannya

Logika akal waras yaitu kaum ASWAJA atau santri memahami; apabila seseorang meninggal dunia, maka tidak dapat beramal yang mendatangkan pahala bagi dirinya kecuali dari tiga hal tersebut.  Sedangkan amal yang tidak dapat mendatangkan pahala, masih bisa dilakukan, seperti membalas salam orang yang masih hidup atau mendoakan mereka yang masih hidup.

Logika akal tidak waras versi Wahabi, orang yang sudah mati tidak dapat beramal sama sekali, baik yang mendatangkan pahala bagi dirinya maupun yang tidak mendatangkan pahala tetapi bermanfaat bagi orang yang masih hidup yang didoakannya. Pemahaman Wahabi ini keliru, karena bertentangan dengan dalil-dalil yang sudah ada.

PEMIMPIN KAFIR

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata:

وَلِهَذَا يُرْوَى: ” {اللَّهُ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً} “.

Karena ini diriwayatkan: “Allah akan menolong pemerintahan yang adil meskipun kafir, dan tidak menolong pemerintahan yang zhalim meskipun beriman”.

Logika akal waras memahami; riwayat atsar di atas sebagai motivasi agar seorang pemimpin dan penguasa menjalankan keadilan dalam kekuasaannya, dan sebagai peringatan agar jangan menjalankan kezaliman dalam kekuasaannya.

Logika akal tidak waras memahami; riwayat atsar di atas, menjadi dalil lebih baik memilih pemimpin kafir tetapi adil, daripada pemimpin muslim tetapi zalim. Pemahaman ini jelas salah, karena dalam ajaran agama (al-Qur’an dan hadits), umat Islam tidak boleh memilih pemimpin kafir bagi komunitas mereka. Masalah ini sebenarnya sudah jelas, tetapi sebagian orang berusaha mengkaburkan pemahaman orang awam yang tidak mengerti ilmu agama. Atsar di atas konteksnya sama dengan atsar berikut ini:

SISTEM YANG BAIK

Ada atsar dari Sayyidina Umar:

حق بغير نظام يغلبه باطل بنظام

Kebenaran yang tidak teratur, akan dikalahkan oleh kebatilan yang teratur

Logika akal waras memahami, atsar tersebut sebagai motivasi agar kita memperjuangkan kebenaran dengan strategi yang baik.

Logika akal tidak waras memahami atsar tersebut; boleh mengikuti aliran batil (sesat) asalkan strateginya baik. Pemahaman ini jelas keliru.

PUASA SAMBIL MENGGUNJING ORANG

Ada hadits yang terkenal

«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ, وَالْجَهْلَ, فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ, وَأَبُو دَاوُدَ وَاللَّفْظُ لَه

Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan dusta, pengamalan dusta, dan melakukan perbuatan yang bodoh, maka Allah tidak perlu padanya dalam meninggalkan makan dan minumnya.

Logika akal waras memahami, hadits tersebut, sebagai peringatan bagi orang yang berpuasa agar meninggalkan berdusta, menggunjing orang dan meninggalkan perbuatan yang buruk ketika puasa.

Logika akal tidak waras akan memahami, orang yang kerjanya berdusta, menggunjing orang dan berbuat keburukan, tidak perlu berpuasa. Dan lebih baik tidak berpuasa asalkan tidak melakukan perbuatan buruk tersebut. Pemahaman ini jelas salah dan keliru.

Dalam kitab-kitab yang diajarkan di kampung banyak hadits dan atsar yang bisa dipahami salah seperti pemahaman di atas, antara logika akal waras dan tidak waras. Wallahu a’lam.


Artikel Terkait