Analisa Pernyataan ‘Pemimpin Non-Muslim yang Jujur Lebih Baik Daripada Muslim Tapi Zhalim’

Shortlink:

imageOleh Ahmad Dimyati NA*

NUGarisLurus.Com – Tulisan ini tidak bermaksud untuk menghakimi siapapun akan tetapi tulisan ini mencoba untuk menganalisa pernyataan tersebut apakah dapat dibenarkan atau tidak?

Pernyataan tersebut saya anggap cacat dipandang dari segala sisi:

Pertama; membandingkan pemimpin kafir yang adil dengan pemimpin muslim yang tidak adil itu sudah merupakan perbandingan yang tidak adil. Jikalau dia adil seharusnya membandingkan dengan pemimpin muslim yang adil pula. Perlu diketahui juga bahwa syarat islam mendahului syarat adil.

Kedua; menggunakan argumentasi dengan logika mendingan itu sangat tidak tepat. Biasanya mereka mengatakan “mendingan mana pemimpin muslim tidak adil atau pemimpin kafir tapi adil? mendingan mana pemimpin muslim korupsi atau pemimpin kafir tapi tidak korupsi?”.

Tentu jawabannya bagi kaum muslimin Islam itu diatas segalanya karena Islam itu esensi sedangkan yang lain aksesori. Mementingkan aksesori ketimbang esensi itu sama seperti orang membeli mobil lengkap dengan sistem pendingin udara, media player, spoiler, parking sensor dan sebagainya tapi tidak ada mesin dan rodanya. Mesin dan roda itu esensi, sedang yang lain-lain itu aksesori. Demikian analoginya.
Jadi, masih mau punya mobil yang nggak ada mesin dan rodanya?

Ketiga; pernyataan tersebut seakan-akan menganggap kaum muslimin tidak ada yang adil sehingga tidak ada yang layak menjadi pemimpin. Mereka membela diri bahwa saat ini dalam kondisi darurat, saya katakan berarti anda beranggapan saat ini tidak ada satupun kaum muslimin yang adil? Ini adalah pernyataan yang sangat melukai hati kaum muslimin.

Keempat; mereka membela bahwa pernyataan tersebut memiliki landasan dalil dengan mengutip satu riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya “al-Hisbah dan Fatawa-nya:

١.الحسبة في الإسلام :الجزاء في الدنيا متفق عليه أهل الأرض، فإن الناس لم يتنازعوا في أن عاقبة الظلم وخيمة، وعاقبة العدل كريمة، ولهذا يروى: “الله ينصر الدولة العادلة وإن كانت كافرة، ولا ينصر الدولة الظالمة وإن كانت مؤمنة”اهـ.

٢.فتاوى 28/63 :فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ وَلِهَذَا يُرْوَى :)اللَّهُ يَنْصُرُالدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَة

٣.فتاوى 28/146 :وَأُمُورُ النَّاسِ تَسْتَقِيمُ فِي الدُّنْيَا مَعَ الْعَدْلِ الَّذِي فِيهِ الِاشْتِرَاكُ فِي أَنْوَاعِ الْإِثْمِ ،أَكْثَرُ مِمَّا تَسْتَقِيمُ مَعَ الظُّلْمِ فِي الْحُقُوقِ وَإِنْ لَمْ تَشْتَرِكْ فِي إثْمٍ ؛ وَلِهَذَا قِيلَ :إنَّ اللَّهَ يُقِيم ُالدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً ؛ وَلَا يُقِيمُ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُسْلِمَةً .وَيُقَالُ : الدُّنْيَا تَدُومُ مَعَ الْعَدْلِ وَالْكُفْرِ وَلَا تَدُومُ مَعَ الظُّلْمِ وَالْإِسْلَام

Menggunakan riwayat tersebut sebagai argumentasi itu kesalahan dalam beristidlal karena riwayat tersebut tidak memiliki tranmisi sanad yang bisa dipertanggung jawabkan. Ibnu Taimiyyah sendiri meriwayatkan dengan shigot tamridh yang mengindikasikan bahwa riwayat tersebut lemah apalagi Ibnu Taimiyyah sendiri mensyaratkan islam  sebagaimana Ia menulis satu bab “Al-Amir Yatawalla Imamah Al-Shalah wa Al-Jihad” (Seorang Amir Harus Memimpin Shalat dan Jihad). Seandainya Ibnu Taimiyyah membolehkan diangkatnya pemimpin non-Muslim, mengapa ia begitu yakin menulis kewajiban pemimpin semacam ini yang tidak mungkin dikerjakan kecuali oleh seorang Muslim?

Andaikan riwayat ini shohih maka dengan sendirinya tertolak karena bertentangan dengan nash-nash qot’i yang melarang mengangkat pemimpin kafir, sehingga tidak bisa dikompromikan. Bagi yang penah berkenalan dengan ilmu Usul Fiqh tentunya tau teori beristidlal yang benar.

Kelima; memperbolehkan pemimpin kafir itu telah melanggar konsensus ijma yang merupakan sumber ketiga dalam Islam.

Pernyataan Ulama tentang adanya ijma:

١.قال الإمام النووي رحمه الله تعالى في شرح صحيح مسلم:
وقَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُعَلَى أَنَّ الْإِمَامَةَ لَا تَنْعَقِدُ لِكَافِرٍ وَعَلَى أَنَّهُ لَوْ طَرَأَ عَلَيْهِ الْكُفْرُ انْعَزَلَ قَالَ وَكَذَا لَوْ تَرَكَ إِقَامَةَ الصَّلَوَاتِ وَالدُّعَاءَ إِلَيْهَا قَالَ وَكَذَلِكَ عِنْدَ جُمْهُورِهِمُ الْبِدْعَةُ قَالَ وَقَالَ بَعْضُ الْبَصْرِيِّينَ تَنْعَقِدُ لَهُ وَتُسْتَدَامُ لَهُ لِأَنَّهُ مُتَأَوِّلٌ قَالَ الْقَاضِي فَلَوْ طَرَأَ عَلَيْهِ كُفْرٌ وَتَغْيِيرٌ لِلشَّرْعِ أَوْ بِدْعَةٌ خَرَجَ عَنْ حُكْمِ الْوِلَايَةِ وَسَقَطَتْ طَاعَتُهُ وَوَجَبَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ الْقِيَامُ عَلَيْهِ وَخَلْعُهُ وَنَصْبُ إِمَامٍ عَادِلٍ إِنْ أَمْكَنَهُمْ ذَلِكَ فَإِنْ لَمْ يَقَعْ ذَلِكَ إِلَّا لِطَائِفَةٍ وَجَبَ عَلَيْهِمُ الْقِيَامُ بِخَلْعِ الْكَافِرِ .(ص:٢٢٩,ج:١٢)

٢.قال الإمام ابن حزم رحمه الله تعالى في كتابه مراتب الإجماع في العبادات والمعاملات والاعتقادات :
“وَاتَّفَقُوا أَن الإمامة لَا تجوز لامْرَأَة وَلَا لكَافِر وَلَا لصبي لم يبلغ وأنه لَا يجوز أن يعْقد لمَجْنُون” .(١٤٢)

٣.قال ابن المنذِر رحمه الله: إنَّه قد أجمع كلُّ مَن يُحفَظ عنه مِن أهل العلم أنَّ الكافر لا ولايةَ له على المسلم بِحال”.( أحكام أهل الذِّمَّة ٢/ ٧٨٧)

Ada satu pendapat Ulama yang digunakan oleh pendukung pemimpin kafir untuk membenarkan pendapatnya, mereka mengatakan sebagai berikut:

Imam Mawardi memperbolehkan mengangkat pimpinan kafir untuk jabatan publik tertentu. Imam Mawardi memberikan rincian terhadap jabatan:” Posisi pejabat ini (tanfidz/eksekutif) boleh diisi oleh dzimmi. Namun untuk posisi pejabat tafwidh (pejabat dengan otoritas regulasi, legislasi, yudikasi, dan otoritas lainnya), tidak boleh diisi oleh kalangan mereka”(al-Ahkamu al-Sultoniyyah hal:27).

Menurutnya, kekuasaan dibagi setidaknya menjadi dua, tafwidh dan tanfidz. Kuasa tafwidh memiliki cakupan kerja penanganan hukum dan analisa pelbagai kezaliman, menggerakkan tentara dan mengatur strategi perang, mengatur anggaran, regulasi, dan legislasi. Untuk pejabat tafwidh, Al-Mawardi mensyaratkan Islam, pemahaman akan hukum agama, merdeka (bukan budak dalam konteks itu).

Sementara kuasa tanfidz (eksekutif) mencakup pelaksanaan dari peraturan yang telah dibuat dan dikonsep oleh pejabat tafwidh. Tidak ada syarat Islam, alim dalam urusan agama, dan merdeka.
Menurut hemat kami, memilih pajabat eksekutif seperti gubernur, walikota, bupati, camat, lurah, atau ketua RW dan RT dari kalangan nonmuslim dalam konteks Indonesia dimungkinkan. Pasalnya, pejabat tanfidz itu hanya bersifat pelaksana dari UUD 1945 dan UU turunannya.

Pernyataan Imam Mawardi tersebut harus kita analisa langsung dari kitabnya dan saya  nuqilkan teksnya:

وأماوزارة التنفيذ فحكمها أضعف وشروطها أقل , لأن النظر فيها مقصور على رأي الإمام وتدبيره , وهذا الوزير وسط بينه وبين الرعايا والولاة يؤدي عنه ما أمر وينفذ عنه ما ذكر , ويمضي ما حكم ويخبر بتقليده الولاة وتجهيز الجيوش , ويعرض عليه ما ورد من مهام وتجدد من حدث ملم , ليعمل فيه ما يأمر به , فهو معين في تنفيذ الأمور وليس بوال عليها ولا متقلد لها , فإن شورك في الرأي كان باسم الوزارة أخص , وإن لم يشارك فيه كان باسم الوساطة والسفارة أشبه , وليست تفتقر هذه الوزارة إلى تقليد وإنما يراعى فيها مجرد الإذن , ولا تعتبر في المؤهل لها الحرية ولا العلم , لأنه ليس له أن ينفرد بولاية ولا تقليد فتعتبر فيه الحرية , ولا يجوز له أن يحكم فيعتبر فيه العلم , وإنما هو مقصور النظر على أمرين :أحدهما أن يؤدي إلى الخليفة . والثاني أن يؤدي عنه ,فيراعي فيه سبعة أوصاف :إحداها الأمانة , حتى لايخون في ما قد أئتمن عليه ولا يغش فيما قد استنصح فيه , والثاني صدق اللهجة حتى يوثق بخبره فيما يؤديه ويعمل على قوله فيما ينهيه . والثالث قلة الطمع حتى لا يرتشي فيما يلي ولا ينخدع فيتساهل .والرابع : أن يسلم فيما بينه وبين الناس من عداوة وشحناء , فإن العداوة تصد عن التناصف وتمنع منالتعاطف , والخامس : أن يكون ذكورا لما يؤديه إلى الخليفة وعنه لأنه شاهد له وعليه , والسادس: الذكاء والفطنة حتى لا تدلس عليه الأمور فتشتبه , ولا تموّه عليه فتلتبس , فلا يصح مع اشتباهها عزم ولا يصح مع التباسها حزم , وقد أفصح بهذا الوصف وزير المأمون محمد بن يزداد , حيث يقول من الطويل :إصابة معنى المرء روح كلامـــــه فإن أخطا المعنى فذاك موات إذا غاب قلب المرء عن حفظ لفظه فيقظته للعالميــن سبـــــــات والسابع : أن لا يكون من أهل الأهواء فيخرجه الهوى من الحق إلى الباطل ويلتبس عليه المحق من المبطل , فإن الهوى خادع الألباب وصارف له عن الصواب … إلى أن قال : فإن كان هذا الوزير مشاركا في الرأي إحتاج إلى وصف ثامن وهو الحنكة والتجربة التي تؤديه إلى صحة الرأي وصواب التدبير , فإن من التجارب خبرة بعواقب الأمور , وإن لم يشارك في الرأي لم يحتج إلى هذا الوصف , وإن كان ينتهي إليه مع كثرة الممارسة (الأحكام السلطانية 28-29).
ويجوز أن يكون هذا الوزير من أهل الذمة وإن لم يجز أن يكون وزير التفويض منهم ( الأحكام السلطانية ص 30 )

Dari teks tersebut Imam Mawardi menetapkan beberapa hal:

Pertama, waziru tanfidz (pejabat eksekutif) statusnya sebagai pembantu bukan pemimpin artinya tugas dia membantu Imam (pemimpin negara) dalam menyampaikan berita dari Imam atau kepada Imam.

Kedua, dalam pandangan Imam Mawardi waziru tanfidz tidak dianggap sebagai wali sehingga tidak butuh pengangkatan melainkan cukup dengan izin.

Ketiga, waziru tanfidz tidak disyaratkan harus merdeka karena statusnya dia bukan sebagai wali, padahal syarat wali harus merdeka, ini berarti menegaskan bahwa waziru tanfidz tidak bisa diartikan sebagai wali.

Kesimpulan dari Imam Mawardi bahwa waziru tanfidz itu syaratnya lebih lentur daripada syarat waziru tafwid sehingga ia memperbolehkan waziru tanfidz dari kafir, tapi yang dimaksud waziru tanfidz oleh Imam Mawardi adalah seseorang yang bertugas sebagai perantara atau duta bukan sebagai wali yang setingkat gubernur sebagaimana ditegaskan Imam Mawardi (كان باسم الوساطةوالسفارة أشبه ).Sehingga bisa kita tegaskan jabatan gubernur dalam kontek keindonesiaan itu tidak bisa dikategorikan wazir tanfidz, karena gubernur mempunyai otoritas dalam mengatur wilayahnya, dia mempunyai hak otonom pada wilayah otonomnya (provinsi).

Berargumentasi dengan pendapat Imam Mawardi untuk memperbolehkan mengangkat pemimpin kafir sebagai gubernur itu tidak pada konteksnya, karena Imam Mawardi hanya memperbolehkan orang kafir dijadikan sebagai petugas yang menyampaikan berita atau keputusan dari Imam bukan sebagai wali.

Arti waziru tanfidz sebagaimana yang saya jelaskan diperkuat oleh penjelesan Imam Mawardi ketika menyebutkan perbedaan antara waziru tafwidh dan waziru tanfidz:

Pertama, waziru  tafwid memiliki wewenang penanganan hukum dan menganalisa kedzoliman berbeda dengan waziru tanfidz.

Kedua, waziru tafwid memiliki wewenang untuk mengangkat pemimpin sedangkan waziru tanfidz tidak memiliki itu.

Ketiga, waziru tafwid memiliki wewenang untuk menggerakkan tentara dan mengatur strategi perang sedang waziru tanfidz tidak memiliki itu.

Keempat, waziru tafwidh memiliki wewenang untuk mengatur regulasi keuangan kas negara sedang waziru tanfidz tidak memiliki itu. (hal:30).

Syari’at Islam ketika melarang mengangkat pemimpin kafir tidak sedang merampas haq orang kafir akan tetapi dalam rangka menjaga kemaslahatan masyarakat baik dari kalangan kaum muslimin atau non muslim. Keadilan dan kebaikan akan tercipta jika masyarakat hidup di bawah naungan syariat Islam yang sempurna dan tidak mungkin syariat Islam bisa ditegakkan jika yang pemimpin adalah orang yang tidak beriman.

Wallahu A’lam Bisshowab

image

*Penulis adalah mahasiswa Al-Ahgaf tingkat VI fakultas Syari’at


Artikel Terkait