Rais ‘Amm Dan Kiai Hasyim Tanggapi Kasus Pembunuhan Siyono Oleh Densus 88

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berharap fakta-fakta kasus kematian aktivis anti kristenisasi Ustadz Siyono oleh Densus 88 dapat terungkap. PBNU mengaku, terus mengikuti proses dan perkembangan kasus kematian warga Klaten, Jawa Tengah, tersebut.

“Kami mengikuti prosesnya. Bagaimana akhir dari fakta-fakta yang akan dibuktikan,” kata Rais Aam PBNU Ma’ruf Amin sebagaimana dilansir Republika.

Dia mengatakan, pengungkapan fakta kematian perlu dilakukan karena saat ini masih ada kontroversi mengenai status Siyono. “Ada isu bahwa dia itu adalah teroris, ada yang membantah,” ucapnya.

Meski begitu, Ma’ruf menyerahkan sepenuhnya kepada pihak keluarga ataupun pihak kepolisian terkait kepentingan untuk melakukan autopsi.

“Kalau keluarga ada keinginan diautopsi untuk membuktikan caranya (Siyono) meninggal, ya lakukan. Kalau menolak, ya tidak boleh ada yang memaksa,” kata Kiai Ma’ruf.

Tanggapan KH. Hasyim Muzadi

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) KH. Hasyim Muzadi meminta Detasemen Khusus 88 Antiteror untuk bertanggung jawab atas kematian terduga teroris asal Klaten Siyono.

Menurut Kiai Hasyim, misteri kematian Siyono harus segera terungkap dalam waktu dekat. Hal itu penting, agar nantinya kasus itu tidak terus menjadi polemik di mata masyarakat, baik di Klaten atau di seluruh Indonesia.

Dia meminta Densus 88 memberitahukan kepada keluarga Siyono mengenai penyebab kematian yang bersangkutan. Pasalnya yang paling mengetahui adalah Densus 88 sebagai instansi yang menangkap terduga teroris itu.

Dia juga meminta kepada Densus 88 untuk tidak menutup-nutupi kasus tersebut. “Paling tidak Kepala Densus 88 harus menjelaskan sejelas-jelasnya,” ucapnya, kepada wartawan, Kamis (3/3/2016).

Lebih lanjut, Kiai Hasyim mengatakan, jika masalah itu tidak segera diselesaikan, maka dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru yang lebib besar dari kelompok-kelompok yang bersangkutan.

“Saya sering meminta kepada kepolisian untuk lebih manusiawi dan Indonesiawi saat menangani teroris,” ucapnya.[Republika/SindoNews/NUgl]


Artikel Terkait