Rais Akbar NU, Pegang Teguh Syariat Agama Hingga Masuk Penjara

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Rais Akbar NU, Hadhrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari Rahimahullah merupakan salah satu tokoh nasional yang sangat berpegang teguh dalam pendiriannya. Beliau selalu konsisten dengan apa yang diucapkan, dan tidak pernah tergoda dengan iming-iming jabatan atau sebaliknya, dan tidak pernah takut untuk berkata benar, sekalipun nyawa dan keluarga taruhannya.

Dikisahkan pada masa penjajahan Jepang, pendudukan Dai Nippon menandai datangnya masa baru bagi kalangan Islam. Berbeda dengan Belanda yang represif kepada Islam, Jepang menggabungkan antara kebijakan represi dan kooptasi, sebagai upaya untuk memperoleh dukungan para pemimpin Muslim. Salah satu perlakuan represif Jepang adalah penahanan terhadap Hadhrotus Syaikh beserta sejumlah putera dan kerabatnya. Ini dilakukan karena Kyai Hasyim menolak melakukan seikerei. Yaitu kewajiban berbaris dan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 pagi, sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketaatan kepada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami).

Aktivitas ini juga wajib dilakukan oleh seluruh warga di wilayah pendudukan Jepang, setiap kali berpapasan atau melintas di depan tentara Jepang. Kyai Hasyim menolak aturan tersebut Meskipun pernah ditawari penghargaan oleh Jepang namun ditolaknya mentah- mentah. Sebab hanya Allah lah yang wajib disembah, bukan manusia. Akibatnya, Kyai Hasyim ditangkap dan ditahan secara berpindah–pindah, mulai dari penjara Jombang, kemudian Mojokerto, dan akhirnya ke penjara Bubutan, Surabaya.

Karena kesetiaan dan keyakinan bahwa Hadratus Syaikh berada di pihak yang benar, sejumlah santri Tebuireng minta ikut ditahan. Selama dalam tahanan, Kyai Hasyim mengalami banyak penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangannya menjadi patah tak dapat digerakkan. Setelah penahanan Hadratus Syaikh, segenap kegiatan belajar-mengajar di Pesantren Tebuireng vakum total. Penahanan itu juga mengakibatkan keluarga Hadratus Syaikh tercerai berai. Isteri Kyai Hasyim, Nyai Masruroh, harus mengungsi ke Pesantren Denanyar, barat Kota Jombang.

Tanggal 18 Agustus 1942, setelah 4 bulan dipenjara, Kyai Hasyim dibebaskan oleh Jepang karena banyaknya protes dari para Kyai dan santri. Selain itu, pembebasan Kyai Hasyim juga berkat usaha dari Kyai Wahid Hasyim dan Kyai Wahab Hasbullah dalam menghubungi pembesar-pembesar Jepang, terutama Saikoo Sikikan di Jakarta.(*)

Itulah sepenggal kisah keteguhan seorang Kiai Hasyim Asy’ari. Namun sayangnya, tidak sedikit dari tokoh-tokoh Islam yang tampak jauh dari apa yang dilakukan oleh beliau. Hanya demi mencari posisi ‘aman’, beberapa orang atau kelompok lebih menikmati kemungkaran yang bermunculan daripada mempertahankan ajaran syariat Islam. Mereka seolah menutup mata, acuh tak acuh, atau bahkan lebih enjoy mengikuti kehancuran Islam dan ajaran Islam dengan cara ikut andil menggembar-gemborkan penyimpangan. Padahal berabad-abad silam Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, “ Ketika ahlul haq diam terhadap kebathilan, maka ahlul bathil akan mengira bahwa mereka dalam posisi yang benar.”

Wallahul musta’an.
(*)sumber : biografiku.com


Artikel Terkait