Fenomena Menyembunyikan Kebenaran, Demi Cinta Jabatan Struktural

Shortlink:

image

NUGarisLurus.ComMENYEMBUNYIKAN KEBENARAN DEMI JABATAN ADALAH DOSA. Uang dan jabatan adalah godaan yang bisa menyerang ahli ilmu. Seorang ahli ilmu bisa menjual agama dan ilmunya sekedar untuk meraih jabatan atau mempertahankan jabatan tertentu. Inilah penyakit yang dapat menghambat dakwah menyuarakan kebenaran. Terkait dengan penyakit ini yang semakin menjalar akhir-akhir ini, berikut wawancara redaksi NUGarisLurus.com dengan KH. Luthfi Bashori mengenai pandangan beliau tentang fenomena ini.

Fenomena cinta jabatan, semakin marak. Bagaimana pandangan Kiai terkait hal itu?

KH. LUTHFI BASHORI: Benar, akhir-akhir ini banyak sekali orang berebut jabatan, baik di pemerintahan maupun di instansi lainnya, bahkan di ormas-ormas Islam pun hal semacam itu sudah terjadi.

Jadi bukan sekedar cinta jabatan saja, namun ada yang lebih parah dari itu yaitu perebutan jabatan.

Saya jadi ingat hadits, dari Abdurrahman bin Samurah dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepadaku, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan! Karena sesungguhnya jika diberikan jabatan itu kepadamu dengan sebab permintaan, pasti jabatan itu (sepenuhnya) akan diserahkan kepadamu (tanpa pertolongan dari Allâh). Dan jika jabatan itu diberikan kepadamu bukan dengan permintaan, pasti kamu akan ditolong (oleh Allâh Azza wa Jalla) dalam melaksanakan jabatan itu. Dan apabila kamu bersumpah dengan satu sumpah kemudian kamu melihat selainnya lebih baik darinya (dan kamu ingin membatalkan sumpahmu), maka bayarlah kaffârah (tebusan) dari sumpahmu itu dan kerjakanlah yang lebih baik (darinya)”. (HR. Bukhari)

Seolah-olah ruang dakwah terbelenggu akibat mempertahankan posisi seseorang. Apakah ini dibenarkan dalam Islam?

KH. LUTHFI BASHORI: Ada juga orang yang terkadang tamak terhadap jabatan, hingga meninggalkan kewajiban yang semestinya diembannya.

Seorang ahli agama yang merangkap sebagai pejabat di sebuah instansi, jika mempunyai sifat tamak jabatan, maka tak jarang ia lebih memilih mempertahankan jabatannya daripada harus menyampaikan kebenaran syariat.

Karena menyampaikan kebenaran syariat itu tak jarang pula harus bertentangan dengan jabatan yang diembannya.

Dari Abu Musa Radhiyallahu anhu dia berkata, “Saya masuk menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama dengan dua orang dari kaumku, lalu salah seorang dari kedua orang itu berkata, “Jadikanlah (angkatlah) kami sebagai amir (pejabat) wahai Rasulullâh!” Kemudian yang seorang lagi juga meminta hal yang sama. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kami tidak akan mengangkat sebagai pejabat orang yang memintanya dan tidak juga orang yang tamak terhadap jabatan itu” (HR. Bukhori)

Bagaimana seharusnya sikap seorang panutan jika ada hal-hal yang keliru? Mengingat banyak publik figur yang memilih cari aman di struktural tertentu dari pada ikut menyuarakan kebenaran.

KH. LUTHFI BASHORI: Menyembunyikan kebenaran agama itu sama halnya berpaling dari ajaran Islam. Tentunya sangat besar dosa orang yang berani menyembunyikan kebenaran syariat, apalagi jika hanya untuk mempertahankan sebuah jabatan.

Dari Abu Hurairah, beliau memberitakan bahwa orang yang mengatakan : “Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits”’.

Jika saja bukan karena dua ayat dalam Kitabullah, niscaya aku tidak akan meriwayatkan hadits”. Kemudian beliau (Abu Hurairah) membaca firman Allah yang artinya: ‘’Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang’ (QS. Al-Baqarah : 159-160)…..” [HR. Bukhari no. 118].

Barangkali Kiai punya pengalaman pribadi atau kisah seorang tokoh Islam yang teguh dalam pendirian. Jika berkenan bisa dibagi kepada kami?

KH. LUTHFI BASHORI: Saya sendiri beberapa kali memilih turun dari jabatan kepimpinan di sebuah komunitas, sekalipun asal mulanya saya dilamar dengan berbagai alasan, agar saya bersedia menjadi pimpinan di perkumpulan tersebut.

Namun setelah berjalan, akhirnya ada beberapa orang yang mempermasalahkan jabatan saya, yang menurutnya harus diganti oleh orang lain dengan berbagai macam alasan.

Di antara alasannya, karena saya dinilai terlalu ketat dalam menerapkan hukum syariat di kalangan komunitas tersebut, atau dinilai terlalu keras saat menyampaikan larangan, karena saya katakan hal itu bertentangan dengan syariat, hingga keberadaan saya dianggap banyak mengganggu kepentingan beberapa pihak, sedangkan para aktifis lainnya lebih senang menerapkan aturan yang lentur-lentur saja, dan aman-aman saja, alasannya karena lebih kondusif untuk kepentingan kepengurusan tersebut dan lebih fleksibel untuk diterima oleh semua pihak, sekalipun harus menyimpang dari aturan syariat.

Jadi, hakikatnya mereka itu menyadari bahwa sudah banyak kemunkaran yang dilakukan di hadapan mereka. Namun demi sebuah jabatan, maka mereka pun sengaja tutup telinga.

Bagi saya, meninggalkan sebuah jabatan itu saya anggap biasa-biasa saja, karena tujuan hidup saya bukanlah mencari jabatan itu sendiri.

Tapi saya berusaha untuk selalu dapat menyampaikan sedikit apa yang saya pahami dari ajaran syariat, sebagaimana yang bersumber dari Alquran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas para ulama Salaf, dan sudah dikemas lewat kitab-kitab karangan mereka.

Intinya, jika saya ditawari sebuah jabatan bagi sebuah komunitas, barangkali akan saya jawab: “Yaa terserah saja kalau dianggap perlu dan jika dinilai ada manfaatnya untuk umat Islam.

Wallahu Alam


Artikel Terkait