Fatwa Ibnu Hajar: Pendosa Bodoh Merendahkan Diri Terhadap Non Muslim

Shortlink:

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

NUGarisLurus.Com – Beredar foto ketua Partai Perindo Hary Tanoe yang beragama non muslim namun berpakaian semacam ulama yang berkunjung ke beberapa pesantren/madrasah Islam termasuk pesantren ketum PBNU Prof Said Agil Siradj.

Yang membuat miris adalah dalam foto tersebut terdapat penyambutan yang sangat luar biasa terhadap pengusaha china ini hingga beberapa wanita berkerudung terlihat bersalaman mencium tangannya.

Apa sebenarnya hukum merendakan diri terhadap orang kafir? Berikut fatwa Ulama panutan Syaikhul Islam Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami Asy Syafi’i Rahimahullah.

وسئل نفع الله تعالى بعلومه هل يجوز للمسلم ان يقبل يد الحربي المشرك وان يقوم اليه وان يصافحه وان يتخضع اليه وكل ذلك لينال منه مالية واذا قلتم بعدم الجواز فما يترتب عليه وما ذا يلزمه؟

فأجاب بقوله ﻻيجوز للمسلم ان يعظم الكافر بنوع من انواع التعظيم سواء المذكورات وغيرها ومن فعل ذلك طمعا في مال الكافر فهو آثم جاهل كيف وقد قال صلى الله عليه وسلم من تواضع لغني ﻻجل غناه ذهب ثلثا دينه فإذا كان التواضع للمسلم الغني يذهب ثلثي دينه فما بالك بالتواضع للكافر؟ والله سبحانه وتعالى اعلم

Ibnu hajar Al Haitami diberikan pertanyaan Fatwa;

Bolehkan bagi seorang muslim, Menciumi tangan kafir harbi, Juga berdiri menyambutnya dan menyalaminya dan melakukan penghormatan kepadanya yang mana hal itu di lakukan untuk memperoleh uang darinya? Jika anda berpendapat tidak boleh, Maka apa yang akan berdampak kepadanya juga yang wajib baginya?

Beliau menjawab:

Bagi orang muslim tidak boleh mengagungkan orang kafir dengan cara tersebut dan sebagainya. Barangsiapa yang melakukannya untuk memperoleh harta si kafir, Maka dia merupakan pendosa yang bodoh. Bagaimana tidak? Sedangkan Nabi Shollallahu alaihi wasallam telah bersabda; “Barangsiapa yang tawadlu’ kepada orang kaya karena kekayaannya, Maka hilanglah dua pertiga agamanya”. Jika tawadlu’ terhadap sesama muslim yang kaya saja dapat menghilangkan dua pertiga agama, Apalagi tawadlu’ terhadap orang kafir? Wallahu alam. (Al Fatawa al Fiqhiyah al Kubro)


Artikel Terkait