Menolak Tulisan ‘Mentah’ Kontributor JIL/Rais NU Australia

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Tulisan sepele kontributor Jaringan Indonesia Liberal (JIL) yang kini menjadi Rais Syuriah PCI NU Australia – New Zealand Nadirsyah Hosen, berusaha bermain kata bahwa Surat Al Maidah Ayat 51 yang sebagian kalangan menganggapnya dalil kuat keharaman memilih pemimpin kafir adalah kekeliruan terjemahan dan tidak tepat menurutnya jika dijadikan dalil keharaman memilih pemimpin kafir. [Kontributor JIL http://islamlib.com/author/hosen/]

Seseorang yang katanya profesor ini beranggapan dan ingin membantah dengan argumen mentahnya bahwa Al Maidah ayat 51 adalah dalil keharaman bersekutu dan beraliansi dengan meninggalkan orang Islam. NAMUN bukan dalil keharaman memilih pemimpin kafir. [Tulisan versi facebook https://facebook.com/story.php?story_fbid=1684124991835780&id= 1552475198334094&refid=52&_ft_=top_level_post_id.665586836913723%3Atl_objid .10207684023570125%3Athid.467428066729602&__tn__=%2As]

Kami ingin menggugat tafsir pemahaman kasarnya tentang cara memahami Al Qur’an yang tidak menggunakan kaidah Aswaja Nahdliyyin yaitu qiyas dan justru menggunakan penafsiran dasar dari tafsir Ibnu Katsir yang sangat disukai kaum wahabi. Selain itu diakhir tulisan Nadirsyah Hosen justru mengutip pernyataan ulama panutan wahabi Ibnu Taimiyyah dalam membela pemimpin kafir?

Nadirsyah Hosen tidak bisa memahami qiyas ala santri ibtidaiyyah dalam ushul fiqh bahwa menjadikan sekutu terhadap kaum kuffar saja haram. Apalagi menjadikan mereka pemimpin.

Contoh ayat lain dalam masalah qiyas yang di pahami para santri ibtida’iyyah adalah para ulama bersepakat bahwa jika ditanyakan dalil mana yang mengharamkan seorang anak durhaka dan memukul bapak ibunya? Maka dalilnya adalah surat Al Israa ayat 23.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua- duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sakali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkatan “uff” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. Al Isra’ : 23).

Mungkin jika seorang profesor Nadirsyah Hosen ingin mengelak dengan persis gaya meniru metode penulisannya akan mengatakan Al Maidah 51 bukan dalil keharaman memilih pemimpin tapi keharaman bersekutu dengan orang kafir.

Pernyataan ini mirip orang bodoh yang belum pernah belajar qiyas dalil dalam ushul fiqh ala pesantren NU tentang pemahaman surat Al Israa ayat 23 bukan dalil keharaman memukul orang tua tapi keharaman berkata ‘uff’ terhadap orang tua. Lucu sekali…!!!

Bersekutu terhadap orang kafir haram tapi memilih pemimpin kafir tidak haram?
Berkata ‘uff’ terhadap orang tua haram tapi memukul orang tua tidak haram? Hehe… kok bisa orang seperti itu yang gaya berpikirnya memahami dalil tekstual mirip wahabi jadi Rais Syuriah NU Australia – New Zealand? Dan tulisan mentah kontributor JIL ini bisa masuk ke sebuah website dengan nama Fiqh Menjawab, Padahal penulis tidak bisa memahami usul fiqh anak pesantren Ibtida’iyyah? http://www.fiqhmenjawab.net/2016/03/2868/

Sebarkan tulisan ini untuk menggugat gaya tulisan seorang liberalis yang menggunakan metode tekstual kaum wahabi demi membenarkan kerancuan berfikirnya untuk mengelabuhi orang awam dan mendukung non muslim untuk mengasai kaum muslimin mayoritas di negeri Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ini. Wallahul musta’an


Artikel Terkait