Keputusan Muktamar NU Pekalongan 1930M: Perayaan Sedekah Bumi HARAM

Shortlink:

image

Foto diambil dari website Habib Luthfi Bin Yahya http://habiblutfi.net/index.php/artikel/item/517-sebelum-mengharamkan-sedekah-bumi-laut-ketahui-hal-ini-dulu

NUGarisLurus.Com – Hukum sedekah bumi, larung sesajen
dan labuhan gunung kami kutip dari KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA (NU) KE-5 Di Pekalongan, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1349 H / 7 September 1930 M. Lihat halaman : 56-57.

image

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya mengadakan pesta dan perayaan guna memperingati Jin penjaga desa (Mbaureksa: jawa). Untuk mengharapkan kebahagiaan dan keselamatan dan kadang terdapat hal-hal yang mungkar. Perayaan tersebut dinamakan “Sedekah Bumi ” yang biasa dikerjakan penduduk desa (kampung), karena telah menjadi adat kebiasaan sejak dahulu kala ?

Jawab:
Adat kebiasaan sedemikian itu H A R A M.
__________________________________

Dikutip dari buku : “Masalah Keagamaan” hasil Muktamar Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang, Kata Pengantar Menteri Agama Maftuh Basuni.
___________________________________

ﻭَﺟَﻌَﻠُﻮﺍ ﻟِﻠَّﻪِ ﻣِﻤَّﺎ ﺫَﺭَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﺮْﺙِ ﻭَﺍﻷﻧْﻌَﺎﻡِ ﻧَﺼِﻴﺒًﺎ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻫَﺬَﺍ ﻟِﻠَّﻪِ ﺑِﺰَﻋْﻤِﻬِﻢْ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﻟِﺸُﺮَﻛَﺎﺋِﻨَﺎ ﻓَﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﺸُﺮَﻛَﺎﺋِﻬِﻢْ ﻓَﻼ ﻳَﺼِﻞُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﻳَﺼِﻞُ ﺇِﻟَﻰ ﺷُﺮَﻛَﺎﺋِﻬِﻢْ ﺳَﺎﺀَ ﻣَﺎ ﻳَﺤْﻜُﻤُﻮﻥَ

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala- berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.(QS. Al An Aam : 136)

Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa- dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Maidah : 49)

PANDANGAN ISLAM

ﻭﻋﻦ ﻃﺎﺭﻕ ﺑﻦ ﺷﻬﺎﺏ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: ‏(ﺩﺧﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﺭﺟﻞ ﻓﻲ ﺫﺑﺎﺏ، ﻭﺩﺧﻞ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﺭﺟﻞ ﻓﻲ ﺫﺑﺎﺏ ‏) ﻗﺎﻟﻮﺍ: ﻭﻛﻴﻒ ﺫﻟﻚ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ؟! ﻗﺎﻝ : ‏( ﻣﺮ ﺭﺟﻼﻥ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻡ ﻟﻬﻢ ﺻﻨﻢ ﻻ ﻳﺠﻮﺯﻩ ﺃﺣﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﻘﺮﺏ ﻟﻪ ﺷﻴﺌﺎً، ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ ﻷﺣﺪﻫﻤﺎ ﻗﺮﺏ ﻗﺎﻝ : ﻟﻴﺲ ﻋﻨﺪﻱ ﺷﻲﺀ ﺃﻗﺮﺏ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻟﻪ: ﻗﺮﺏ ﻭﻟﻮ ﺫﺑﺎﺑﺎً، ﻓﻘﺮﺏ ﺫﺑﺎﺑﺎً، ﻓﺨﻠﻮﺍ ﺳﺒﻴﻠﻪ، ﻓﺪﺧﻞ ﺍﻟﻨﺎﺭ، ﻭﻗﺎﻟﻮﺍ ﻟﻶﺧﺮ: ﻗﺮﺏ، ﻓﻘﺎﻝ: ﻣﺎ ﻛﻨﺖ ﻷﻗﺮﺏ ﻷﺣﺪ ﺷﻴﺌﺎً ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ، ﻓﻀﺮﺑﻮﺍ ﻋﻨﻘﻪ ﻓﺪﺧﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ‏) ‏[ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ].

Thariq bin Syihab menuturkan bahwa Rasulullah bersabda :
“Ada seseorang masuk surga karena seekor lalat, dan ada seseorang yang masuk neraka karena seekor lalat pula.”

Para sahabat bertanya: “Bagaimana hal itu, ya Rasulallah.

Beliau menjawab: “Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, yang mana tidak seorangpun melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya suatu kurban. Ketika itu, berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut: “Persembahkanlah kurban kepadanya”. Dia menjawab: “Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kupersembahkan kepadanya.”Merekapun berkata kepadanya lagi: “Persembahkan, sekalipun hanya seekor lalat. Lalu orang tersebut mempersembahkan seekor lalat dan merekapun memperkenankan dia untuk meneruskan perjalanannya. Maka dia masuk neraka karenanya.

Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang lain: “Persembahkanlah kurban kepadanya.”Dia menjawab : Aku tidak patut mempersembahkan sesuatu kurban kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla.”

Kemudian mereka memenggal lehernya. Karenanya, orang ini masuk surga.” (HR. Ahmad dengan sanad yang lemah )

QS. A L – B A Q A R A H

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﺗَّﺒِﻌُﻮﺍ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺑَﻞْ ﻧَﺘَّﺒِﻊُ ﻣَﺎ ﺃَﻟْﻔَﻴْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺁﺑَﺎﺀَﻧَﺎ ﺃَﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺁﺑَﺎﺅُﻫُﻢْ ﻻ ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻻ ﻳَﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ.

2:170. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka
akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”

QS. A L – M A A I D A H

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻬُﻢْ ﺗَﻌَﺎﻟَﻮْﺍ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﻣَﺎ ﻭَﺟَﺪْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺁﺑَﺎﺀَﻧَﺎ ﺃَﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺁﺑَﺎﺅُﻫُﻢْ ﻻ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻻ ﻳَﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ.

5:104. Apabila dikatakan kepada mereka:
“Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?

QS. A L – A ‘ R A F

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻓَﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺣِﺸَﺔً ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻭَﺟَﺪْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺁﺑَﺎﺀَﻧَﺎ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻣَﺮَﻧَﺎ ﺑِﻬَﺎ ﻗُﻞْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻻ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﺎﻟْﻔَﺤْﺸَﺎﺀِ ﺃَﺗَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻻ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ.

7:28. Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.
Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺪْ ﻭَﻗَﻊَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﺭِﺟْﺲٌ ﻭَﻏَﻀَﺐٌ ﺃَﺗُﺠَﺎﺩِﻟُﻮﻧَﻨِﻲ ﻓِﻲ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀٍ ﺳَﻤَّﻴْﺘُﻤُﻮﻫَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻭَﺁﺑَﺎﺅُﻛُﻢْ ﻣَﺎ ﻧَﺰَّﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﻓَﺎﻧْﺘَﻈِﺮُﻭﺍ ﺇِﻧِّﻲ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻈِﺮِﻳﻦَ.

7:71. Ia berkata: “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu”. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu”.

QS. Y U N U S

ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺃَﺟِﺌْﺘَﻨَﺎ ﻟِﺘَﻠْﻔِﺘَﻨَﺎ ﻋَﻤَّﺎ ﻭَﺟَﺪْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺁﺑَﺎﺀَﻧَﺎ ﻭَﺗَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻜُﻤَﺎ ﺍﻟْﻜِﺒْﺮِﻳَﺎﺀُ ﻓِﻲ ﺍﻷﺭْﺽِ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻟَﻜُﻤَﺎ ﺑِﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ.

10:78. Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? kami tidak akan mempercayai kamu berdua.”

QS. Y U S U F
ﻣَﺎ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻧِﻪِ ﺇِﻻ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀً ﺳَﻤَّﻴْﺘُﻤُﻮﻫَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻭَﺁﺑَﺎﺅُﻛُﻢْ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﺇِﻥِ ﺍﻟْﺤُﻜْﻢُ ﺇِﻻ ﻟِﻠَّﻪِ ﺃَﻣَﺮَ ﺃَﻻ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﺍ ﺇِﻻ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟْﻘَﻴِّﻢُ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻻ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ.

12:40. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

QS. I B R A H I M

ﻗَﺎﻟَﺖْ ﺭُﺳُﻠُﻬُﻢْ ﺃَﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻚٌّ ﻓَﺎﻃِﺮِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷﺭْﺽِ ﻳَﺪْﻋُﻮﻛُﻢْ ﻟِﻴَﻐْﻔِﺮَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺫُﻧُﻮﺑِﻜُﻢْ ﻭَﻳُﺆَﺧِّﺮَﻛُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺟَﻞٍ ﻣُﺴَﻤًّﻰ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺇِﻻ ﺑَﺸَﺮٌ ﻣِﺜْﻠُﻨَﺎ ﺗُﺮِﻳﺪُﻭﻥَ ﺃَﻥْ ﺗَﺼُﺪُّﻭﻧَﺎ ﻋَﻤَّﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻌْﺒُﺪُ ﺁﺑَﺎﺅُﻧَﺎ ﻓَﺄْﺗُﻮﻧَﺎ ﺑِﺴُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﻣُﺒِﻴﻦٍ

14:10. Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan) mu sampai masa yang ditentukan?” Mereka berkata: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.

QS. A L – K A H F I

ﻣَﺎ ﻟَﻬُﻢْ ﺑِﻪِ ﻣِﻦْ ﻋِﻠْﻢٍ ﻭَﻻ ﻵﺑَﺎﺋِﻬِﻢْ ﻛَﺒُﺮَﺕْ ﻛَﻠِﻤَﺔً ﺗَﺨْﺮُﺝُ ﻣِﻦْ ﺃَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْ ﺇِﻥْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺇِﻻ ﻛَﺬِﺑًﺎ.

18:5. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.
Wallahu ‘alam


Artikel Terkait