Fatwa Rais Akbar NU Tentang ‘Wali Allah’ Bagian Kedua

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Ini tulisan bagian kedua fatwa Hadhrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari tentang kriteria Wali Allah.

image

image

Kami kutip dari halaman facebook Pondok Pesantren Al – Anshory. Baca bagian 1 [SEBARKAN] Inilah Fatwa Rais Akbar NU Tentang ‘Wali Allah’ http://www.nugarislurus.com/2016/02/sebarkan-inilah-fatwa-rais-akbar-nu-tentang-wali-allah.html

FATWA RAIS AKBAR NU TENTANG WALI ALLAH BAGIAN 2

Oleh Muhammad Lutfi Rochman

Kali ini kami akan lanjutkan tulisan tentang fatwa dari Rais Akbar pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadhrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Al -Durar Al- Muntasyirah fi Masail Al- Tis’a ‘Asyarah (الدرر المنتثرة في المسائل التسع العشرة) yang berfatwa tentang masalah siapa itu sebenarnya Wali Allah. Kitab ini bertuliskan arab pegon berbahasa jawa yang insya Allah akan kami terjemahkan secara bertahap.

Pertanyaan: Apakah mungkin Wali Allah meninggalkan Syariat seperti meninggalkan Sholat lima waktu dan Sholat jum’at tanpa khutbah?

Jawab: Tidak boleh seorang wali melakukan perbuatan yang menyimpang dari syariat dalam keadaan mukallaf.

Keterangan dari kitab Risalah Al Qusyairiyyah.

فكل من كان للشرع عليه اعتراض فهو مغرور مخدوع.

Artinya: “Siapapun yang menyimpang dari syariat, Orang tersebut terjerumus hawa nafsu dan ditipu oleh syetan”.

Diceritakan bahwa Abu Yazid Al Busthomi Sulthonul Auliya’ suatu saat bepergian dengan beberapa muridnya untuk bertemu seorang kyai yang yang di kabarkan dia seorang Wali Allah.

Setelah Abu Yazid sampai di masjid orang tersebut beliau duduk untuk menunggu datangnya sang wali tersebut.

Ternyata setelah kyai wali tersebut keluar dari rumahnya dan menuju masjid, Dia mengeluarkan kotoran dahaknya di dalam Masjid (riyak red).

Setelah Abu Yazid melihat kyai tersebut riya’ didalam Masjid, Beliau langsung buru -buru pulang beserta para muridnya tanpa mengucapkan salam dan bersalaman dengan kyai tersebut.

Selanjutnya Abu Yazid Al Busthomi berkata kepada muridnya: “Kyai ini orang yang tidak bisa dipercaya tata kramanya. Salah satu tatakrama adalah dengan cara mengikuti Syari’at Nabi, Maka dia tidak bisa dipercaya mendapat Asror Al Haq (rahasia Dzat Allah yang memberikan sifat kewalian).

Selanjutnya Hadhrotussyaikh KH  Hasyim Asy’ari berkata: “Wahai para saudaraku, Itulah jalan dan perintah Abu Yazid Al Busthomi yang memberikan peringatan kepada orang -orang supaya tidak tertipu dengan terkenalnya seseorang dan banyaknya pujian serta adanya sesuatu yang luar biasa tidak seperti keumuman orang yang disebut keramat terhadap seseorang yang di kabarkan bahwa dia wali namun ternyata dia tidak istiqomah dengan adabnya Syariah Al Muhammadiyah. Jadi Intinya sifat kewalian adalah;

استقامة على أداب الشريعة الثابتة باﻷدلة الصحيحة

“Istiqomah terhadap adab Syariah yang berdasarkan dalil -dalil yang shohihah”.

Pertanyaan: Bagaimana arti pernyataan bahwa terkadang seorang wali mencapai derajat الوصول يقال له افعل ما شئت فقد غفرت لك. Artinya terkadang wali mencapai pangkat di perintah oleh Allah: “Berbuatlah semaumu, Engkau sudah kumaafkan?

Dan apa maksud yang terkandung dalam kitab قوت القلوب.

اذا احب الله عبدا لم يضره ذنب

“Ketika Allah sudah mencintai seorang hamba tidak akan berbahaya baginya dosa”?

Jawab:  Keterangan dari kitab Futuhat Al Ilahiyah.

ومعنى ذلك أن الله تعالى يتولاه ويأخذه عن نفسه فيكون محفوظا من شهود نفسه فيكون فعله بالله ولله وإلى الله

Artinya: “Sesungguhnya Allah ta’ala mencintai seorang Wali dan mengambil hawa nafsunya sehingga wali tersebut dijaga oleh Allah dari terpedaya atas hawa nafsunya, Maka semua perbuatan seorang Wali semuanya atas seizin Allah, Ikhlas karena Allah dan hanya kembali kepada Allah: Tidak melakukan, Tidak melihat, Tidak mengucapkan kecuali apa yang Allah ridho terhadapnya. Wallahu Alam

Bersambung mungkinkah ada Thoriqoh yang menyimpang dari Al Qur’an dan Hadits…

Sumber: https://facebook.com/story.php?story_fbid=973603509395289&id=157940200961628&refid=17


Artikel Terkait