Bapak Menteri Anak Kiai: Larang LGBT Diseluruh Kampus

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengumumkan,
kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) tidak boleh masuk kampus. Menurutnya hal itu tidak sesuai dengan norma-norma yang ada.

“LGBT ini tidak sesuai dengan tataran nilai dan kesusilaan bangsa Indonesia. Saya melarang. Indonesia ini tata nilainya menjaga kesusilaan,” kata Nasir seperti diberitakan detikcom, Minggu (24/1/2015).

Nasir berkomentar menanggapi keberadaan Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di kampus Universitas Indonesia (UI) yang menawarkan konseling bagi kelompok LGBT. Dia menegaskan LGBT tak boleh masuk di kampus kampus.

“Saya melarang di semua perguruan tinggi di Indonesia yang berada di bawah Kemenristek Dikti,” tegasnya.

Kaum Homo Tidak Terima

Dikutip dari Rimanews.com (26/1), Ketua LSM Gaya Patriot Rizal, menilai larangan itu tidak pantas dikeluarkan, lantaran.komunitas homoseksual memiliki hak yang sama sebagai warga negara.

“Semua anggota komunitas homoseksual memiliki hak yang sama seperti warga negara lain. Mereka membayar pajak, dan lahir sebagai warga Negara Indonesia,” kata Rizal, Ketua LSM Gaya Patriot, Senin (25/1/2016).

Rizal menambahkan, organisasi yang ada diantara LGBT itu bersifat tertutup. Artinya, tidak ada yang bisa memaksa agar bergabung dalam organisasi itu.

“Jadi di mana letak kesalahannya,” katanya. Bahkan, kata Rizal, selama ini komunitas homoseksual memiliki organisasi nasional. Artinya, komunitas ini memiliki sebuah program kerja. Seperti, melakukan pendampingan sosialisasi kepada seluruh gay, waria dan lelaki dengan lelaki.

Sosok Bapak Menteri Muhammad Nasir

Lelaki kelahiran Ngawi, Jawa Timur, pada 27 Juni 1960 ini besar dalam lingkungan pondok pesantren. Muhammad Nasir merupakan putra KH Mimbar Arba’i, pendiri Pondok Pesantren Arba’I Kohar di Jambangan.

Sejak masih anak-anak hingga beranjak remaja, Nasir belajar di pondok pesantren. Setelah lulus Madrasah Aliyah (MA), Nasir melanjutkan studi ke Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang. Kemudian melanjutnya masternya di Gajah Mada dan Doktornya di Penang, Malaysia.

Di almamater, Undip, Nasir pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor II. Kemudian, pada 7 September 2010, Nasir terpilih sebagai Dekan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro.

Pada 9 September 2014 lalu, Nasir terpilih sebagai Rektor Universitas Diponegoro, menggantikan Sudharto. Cita-cita Nasir sebagai rektor adalah membuat universitasnya berkembang sebagai perguruan tinggi yang berbasis riset. Dalam bidang kemahasiswaan, ia juga bercita cita membentuk komunitas peneliti mahasiswa. Namun, nasib berkata lain. Nasir justru terpilih sebagai menteri dalam kabinet Jokowi-JK pada 2014-2019. Tak jauh dari cita-cita risetnya, dia didapuk untuk mengepalai Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) [Dbs/NUgl]

Baca juga, Imam Besar: LGBT Alat Barat Buat Hancurkan Islam http://www.nugarislurus.com/2016/02/imam-besar-lgbt-alat-barat-buat-hancurkan-islam.html


Artikel Terkait