Penistaan Agama, Sebuah Agenda Tersembunyi?

Shortlink:

image

image

Penistaan Islam Terbaru Media Online Tribun Media Kompas Grup

NUGarisLurus.Com – Sudah menjadi hal yang lazim terjadi jika “kebiasaan akan dianggap jadi biasa”. Teringat beberapa puluh tahun yang lalu, sebelum kata Narkoba umum di masyarakat. Seseorang yang minum minuman keras, apalagi pecandu narkotika dikatagorikan sudah “luarbiasa” dalam perilakunya. Namun saat ini, hal tersebut bukan lagi sesuatu yang “heboh”, bahkan cenderung dianggap “biasa”. Berita tentang penyalahgunaan narkotika sudah sering kita dengar dan lihat di televisi. Mulai dari oknum pejabat, oknum artis, hingga oknum aparat, ada yang terjerat narkoba, ini sudah menjadi hal biasa.

Fenomena ini, jika kita perhatikan, adalah perilaku sosial yang sering terjadi. Bahkan jika kita bicara mengenai tekhnik propaganda, cara ini bisa dilakukan sebagai upaya penanaman sebuah dasar gagasan oleh seorang propagandis. Tentunya kerja demikian bukan untuk jangka waktu yang singkat. Kalangan propagandis tentu telah mempelajari akan gejala ini, untuk mencapai tujuan-tujuan mereka.

Seperti halnya kejadian akhir-akhir ini, yaitu kasus penistaan agama. Entah mengapa belakangan ini seringkali terjadi. Pelecehan serta perbuatan yang cenderung memancing kegaduhan di tengah umat Islam. Mulai dari pembacaan ayat Al Qur’an yang dibaca dengan langgam Jawa di Istana Negara, kemudian adanya sampul kitab suci Al Qur’an yang dipakai sebagai terompet tahun baru, ada juga kasus mengenai, lafadz yang dijadikan alas kaki sampai pada berita terbaru yaitu sajadah yang digunakan sebagai tempat menari. Pertanyaan kita, “Seungguhnya ada apa dengan ini semua?” Peristiwa semacam ini bertubi-tubi melanda, mengaduk-aduk emosi umat Islam di Indonesia.

Sejak adanya peristiwa pembacan Al Qur’an dengan langgam Jawa, yang tak pernah dilakukan selama Republik Indonesia berdiri. Hal ini kemudian mengundang kontroversi dikalangan umat Islam. Namun jika kita merujuk pada penjelasan ahli Al Qur’an, cara membaca semacam itu cenderung serampangan, karena bacaan menyesuaikan dengan lagu yang dikehendaki. Namun perbincangan kita bukan pada hal kasus ini. Adalah peristiwanya yang terjadi di pusat kekuasaan, ini yang menarik. Tentu opini yang terbentuk seakan-akan ada peran-serta Negara walau secara tak langsung atas kejadian ini.

Dari berbagai kasus penistaan agama, Selama ini cederung dilakukan oleh pribadi atau kelompok aliran-aliran menyimpang. Namun dengan kejadian di Istana Negara saat itu, maka kita memasuki babak “permainan baru”. Apalagi dengan adanya fenomena kalangan yang menamakan diri sebagai golongan “Islam Nusantara”.

Lebih lanjut, penistaan agama serta simbol-simbol suci agama, akhir akhir ini semakin sering terjadi di Tanah Air. Namun ironisnya, penanganan perilaku tak terpuji itu hanya berakhir dengan kalimat apologis dari pelakunya, yaitu kalimat, “Maaf itu diluar kesengajaan kami” atau “Itu adalah ketidak fahaman kami”. Terus selesai dan terjadi lagi … Lagi dan lagi, walau bukan oleh orang yang sama. Ada apa dengan semua ini? Inilah yang jadi pertanyaan kita.

Kembali pada pembahasan soal “Pembiasaan”. Akhirnya karena begitu sering terjadi, kasus penistaan agama lambat-laun akan menjadi hal yang lumrah. Kasus penistaan terhadap agama tidak lagi mengejutkan, atau bahasa lugasnya, “Tidak lagi sebagai tindakan yang kurang ajar”, Karna sudah sering terjadi. Sebuah kekeliruan bahkan kebodohan yang dilakukan berulang ulang tanpa ada upaya pembenahan serta penanggulangan, akhirnya akan menjadi hal yang tampak lazim.

Yang kita khawatirkan adalah jika upaya “Pembiasaan” ini menjadi sebuah agenda tersembuyi oleh mereka yang berkepentingan pada upaya pendangkalan aqidah umat Islam. Telah kita ketahui, saat ini kita hidup di abad internet, abad informasi, semuannya serba digital dan begitu cepat bisa mengakses segala informasi. Jika kita melihat dari kacamata propagandis (Pen : Darimanapun asal serta tujuannya) tentang “keuntungan” akan kejadian penistaan agama ini. Bagi mereka tentu tidak menjadi persoalan. Setelah launching “produk-produk” penistaan yang membuat heboh, kemudian mereka bisa minta maaf kepada publik. Cukup dengan demikian tindakan serta upaya mereka sudah masuk sebagai target keberhasilan. Minimal sebagai “pesan” sudah tersampaikan. Bahkan saat ini, dunia maya bisa menyimpan rekam-jejak mereka. Jelas, ini sebuah keuntungan bagi mereka. “Toh…Nanti juga dimaafkan oleh umat Islam, syukur syukur dilupakan”. Hal ini tentu membuat kasus serupa tak terelakkan bisa terjadi lagi.

Lalu apakah yang harus kita upayakan sebagai umat Islam yang banyak dirugikan? Yang pertama adalah menyadari bahwa kejadian penistaan agama bukan hanya bentuk atau kejadian “tiba-tiba”, Pilah-pilah perkasus, apakah ini sebuah bentuk keteledoran, kebodohan atau tindakan yang terencana. Tentu untuk mengetahui, idealnya harus bekerja sama dengan aparat terkait, sambil kita mengawal prosesnya. Kedua, Jangan main hakim sendiri, karena bisa jadi penistaan agama adalah sebuah bentuk provokasi, agar umat Islam terpancing melakukan hal-hal anarkis, hal ini tentu semakin merugikan kita sebagai umat Islam. Ketiga, Hendaknya umat Islam tidak terkecoh oleh pendapat dari tokoh-tokoh yang memiliki rekam-jejak dalam membela aliran aliran sempalan seperti Syi’ah dan Wahabi atau bahkan cenderung berfikiran Liberal apalagi membela Komunisme. Tokoh tokoh semacam ini biasannya berkomentar lantang dan “memaklumi” dalam menyikapi terjadinnya penistaan agama, pendapat serta nasihatnya cenderung tidak berpihak pada kepentingan umat islam. Kelima, merapatkan barisan adalah penting bagi terciptannya keutuhan serta kebersamaan umat Islam. Karena semakin kita terpecah belah maka akan semakin mudah agama kita dilecehkan atau bahkan dihancurkan. Keenam, milikilah keyakinan bahwa kita adalah umat Islam yang bersaudara, dimana saja umat islam adalah saudara. Tak ada yang namannya Islam Indonesia, Islam Cina, Islam Arab, Islam Afrika, dan sebagainnya, karena umat Islam adalah satu. Ketujuh, Miliki keyakinan kuat bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah final, karena bisa jadi upaya penistaan agama ini sebagai strategi memecahbelah keutuhan Negeri kita. Kedelapan, Bina hubungan baik dengan aparat negara, baik militer maupun sipil, jangan sampai umat slam dibenturkan dengan aparat. Kesembilan, dekat-dekatlah dengan ulama’ yang berjalan dalam koridor Garis Lurus, Ahlussunnah waljama’ah, karena fatwa-fatwanya jelas pada jalur yang lurus sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Hal inilah yang harus dilakukan oleh umat Islam pada situasi seperti saat ini. semoga kita senaniasa mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.

Penulis : AR Helmi


Artikel Terkait