KH. Maulana Kamal Yusuf Singgung Khilafah

Shortlink:

image

Pengurus Syuriah PBNU KH. Maulana Kamal Yusuf Bersama Ketum NU GL KH. Muhammad Idrus Ramli

NUGarisLurus.Com – Setelah sebelumnya menyebut tentang NU Garis Lurus adalah perlawanan terhadap liberal, Berikut ini wawancara lanjutan media Suara Islam dengan Pengurus Syuriah PBNU dan Rais Syuriah PWNU DKI Jakarta KH. Maulana Kamal Yusuf.

KH Maulana Kamal Yusuf
Ketua Syuriah PWNU DKI Jakarta

Ada dari kalangan Islam yang mendukung pemimpin kafir. Bagaimana menurut Pak Kyai?

Kalau orang yang betul-betul ulama, ustaz, yang mengamalkan ilmunya, saya yakin nggak akan memilih, apalagi mendukung pemimpin kafir. Karena, dia pasti akan mengamalkan ajaran Qur’an yang melarang memilih apalagi mendukung pemimpin kafir. Dia pasti mengamalkan hadits, siapa yang mendukung pemimpin kafir, Allah akan siksa dia dengan siksaan yang pedih.

Ada juga ulama yang mengabaikan ilmunya, ini namanya ulama dunya, karena ternyata dia lebih memilih dunia. Dia tidak mengamalkan ilmunya, walaupun dia mengerti konsekuensi, ancaman dan siksaannya. Dia beralasan, memilih pemimpin ini urusan dunia, nggak ada kaitannya dengan akherat. Ini jelas salah. Kita sangat terasa ketika kurban mau dilarang oleh Ahok. Umat Islam protes keras. Ini kan menunjukkan bahwa pemimpin itu terkait dengan dunia dan juga dengan akherat. Sangat terasa kebijakan-kebijakan gubernur kafir ini yang sangat mendiskreditkan Islam. Dia berani bongkar banyak Masjid di Jakarta ini. Belum lagi dia taruh Lurah non- Muslim di tempat mayoritas warga kaum Muslimin.

Itu bukti bahwa pemimpin itu akan berefek kepada masalah-masalah agama, akherat, bukan dunia saja. Problem besar jika banyak ustaz dan ulama yang salah pemikiran dalam hal ini.

Ada yang beranggapan konstitusi lebih tinggi dari ayat suci. Bagaimana pandangan Pak Kyai?

Itu patokannya, bal tu’sirunal khayatu dunya. “Kamu suka lebih mengutamakan dunia”. Jadi berbahaya jika para ustaz dan ulama lebih memilih dunia. Itu berarti Banyak ustadz dan ulama yang mengkhianati agamanya sendiri. Padahal ayat lanjutannya menjelaskan Wal akhiratu khoirulaka minal ula. Padahal akherat itu lebih baik..Juga bertentangan dengan prinsip-prinsip hidup seorang muslim seperti yang saya jelaskan di atas, yaitu mengharapkan kebaikan dunia dan akherat, bukan kebaikan dunia saja.

Jadi kalau mengutamakan konstitusi lebih penting dari ayat suci, dia tidak akan mendapatkan pahala akherat, dia juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, mengapa memilih pemimpin kafir, mengapa lebih mengutamakan dunia. Karenanya dia juga terancam akan disiksa dengan siksa yang pedih.

Kemungkinan akan ada banyak Calon Gubernur untuk Pemilihan 2017?

Ya…Pertama tentu diharapkan banyak bermunculan para calon gubernur dari kalangan kaum Muslimin yang baik, berkualitas dan berbobot. Nanti tentu akan ada seleksi. Sebab kalau banyak calon yang maju tentu akan merugikan umat Islam. Suara umat Islam akan terpecah. Kami dari Majelis Tinggi tentu akan berupaya memunculkan satu saja calon gubernur Muslim untuk bertarung dengan Calon Gubernur non muslim.

Saya berharap semua calon gubernur muslim mempunyai I’tikad untuk memenangkan Pilkada DKI Jakarta 2017 nanti dengan hanya memunculkan SATU pasangan calon gubernur Muslim. Nanti aka nada proses seleksi, yaitu melalui proses Konvensi Gubernur Muslim DKI Jakarta. Majelis Tinggi akan memproses itu. Kita akan mencari yang terbaik. Jadi saya menganjurkan untuk setiap calon yang ada sekarang ini, untuk siap tidak menjadi gubernur agar muncul hanya satu calon terbaik untuk Gubernur Muslim DKI Jakarta. Para calon juga harus siap menyetujui semua keputusan yang diambil oleh para ulama dalam Majelis Tinggi untuk kepentingan kemenangan kita umat Islam.

Seleksi dan penilaian akan mencakup pada ilmu agamanya kuat, pengamalannya kuat, dan kemampuan memimpinnya juga harus kuat, amanah, jujur, mempunyai kualitas, kompetensi yang tinggi dalam memimpin DKI Jakarta. Seorang pemimpin juga harus punya akhlakul karimah. Pemimpin yang sekarang ini kan nggak ada akhlaqul karimahnya. Pemimpin juga harus menerapkan musyawarah, semua keputusan harus diambil berdasarkan musyawarah.

Realitas warga Muslim Jakarta ada bermacam-macam kelompok berdasarkan mazhab, partai, golongan, ormas, pesantren, dan bermacam institusi lainnya. Bagaimana kita menyatukan bermacam kelompok dan golongan itu bersatu memenangkan Pilkada 2017?.

Saya kira kita perlu mengambil contoh cara para muhaditsin, para ahli hadits. Para ahli hadits dalam menerangkan hadits tidak bersikukuh berdasarkan mazhabnya, tapi lebih mendasarkan kepada Qur’an dan Sunnah. Saya minta semua unsur ulamanya, ustadznya, tokoh-tokohnya, supaya mengedepankan kepentingan Islam di atas kepentingan mazhab, golongan, kelompok ataupun partai dan ormasnya masing-masing.

Prinsip kita Islam diatas segalanya. Kalau kita mendahulukan kelompok,golongan, partai dan ormas, maka yang akan muncul adalah perpecahan. Ini harus kita
waspadai.

Diantara Warga Muslim Jakarta ada kelompok yang tidak mau memilih, tidak mau ikut Pilkada, alias Golput. Bagaimana tanggapan Bapak ?

Saya ingat pertemuan di rumah KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’ie, antara lain membahas masalah ini. Dijelaskan berdasarkan suatu kitab, bahwa pemimpin, khilafah, Imam di suatu daerah, wilayah atau Negara yang penduduknya mayoritas Muslim itu ibaratnya mewakili kepemimpinan Rasulullah. Jadi kalau ada pemilihan yang pada hakekatnya mewakili kepemimpinan Rasulullah lantas kita tidak mau ikut memilih itu bagaimana?. [SI/NUgl]


Artikel Terkait