BASSRA Bentengi Aswaja Madura Dari Wahabi, Syiah Dan Aliran Sesat

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Badan Silaturrahmi Ulama’ Pesantren Madura (BASSRA) menggelar ta’aruf bersama ulama’ Timur Tengah bertempat di aula Pondok Pesantren Al-Hamidy Banyuanyar Desa Poto’an Daya Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Selasa (12/1/2016).

Sekretaris Bassra, Drs. KH. Nuruddin Abdurrahman mengatakan, setelah Bassra resmi berbadan hukum sebagaimana surat keputusan (SK) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (KemenkumHAM), pihaknya mengadakan ta’aruf dan silaturrahim dengan para ulama dari beberapa pesantren di pulau garam.

Acara itu dihadiri sekitar 350 ulama se- Madura. Selain itu, sejumlah ulama dari Timur Tengah dan Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) dan masyarakat umum.

Dalam kesempatan tersebut diselenggarakan seminar penguatan paham ahlussunnah wal jamaah (aswaja) dengan tema ”Membentengi Kemurnian Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah”.

Menjadi keynote speaker yaitu Syekh Dr. Sayyid Muhammad bin Ismail Al Makki. Sedangkan pematerinya dua ulama dari Yaman, yaitu Habib Ali Muhammad Al Haddad dan Syekh Abdullah bin Salim Ba Daud.

Sekretaris Jenderal Bassra KH. Drs.
Nuruddin Abdurrahman, SH menjelaskan, Bassra tetap konsisten menjaga akidah masyarakat, meningkatkan solidaritas antarulama pesantren, dan menjungjung tinggi perbedaan. Hal itu sesuai visi Bassra, menyatukan ulama-ulama di Madura agar jangan sampai terpecah belah karena perbedaan aliran metode dan politik. ”Alhamdulillah ulama-ulama Madura tetap menyatu dalam akidah aswaja,” jelasnya.

Karena alasan itulah, Bassra mendatangkan ulama-ulama yang concern tetang paham aswaja. Tujuannya, memperkuat pemahaman dan memberikan pencerahan baru mengenai paham aswaja. Tidak hanya di Indonesia, di belahan bumi yang lain paham aswaja memiliki kesamaan mendasar. ”Apa yang dianut sudah benar, tidak boleh diubah- ubah. Sebab sekarang ada yang (wahabi red) mengatakan, tahlil dan maulid haram,” jelasnya.

Terjadinya peperangan antar umat Islam di beberapa negara di dunia merupakan dampak dari banyaknya faham tentang Islam. Padahal, jika umat Islam menjadikan Aswaja sebagai ideologi agama tidak akan terjadi tindak kekerasan sebagaimana yang marak terjadi akhir-akhir ini.

“Karena disana, pemerintah membiarkan terjadinya perbedaan aqidah. Ini merupakan salah satu upaya Bassra untuk menyatukan aqidah di masyarakat melalui persamaan persepsi para ulama di pesantren,” ungkapnya.

Pihaknya memiliki tugas besar dalam membentengi aqidah aswaja di masyarakat guna menghindari adanya paham radikal yang masuk ke wilayah pulau garam.

Acara yang mendatangkan dua pembicara dari Yaman membawa pesan bahwa Aswaja tidak hanya di nusantara.

“Ini juga sebagai cerminan kepada masyarakat bahwa Aswaja itu tidak hanya di Madura, tetapi juga di Timur Tengah. Jangan sampai terjadi gesekan atau adu fisik soal aqidah ini, seperti yang terjadi di Kabupaten Sampang (syiah red) beberapa bulan lalu,” pungkasnya.

Lihat Sikap Bassra Terhadap Syiah http://www.pejuangislam.com/main.php?prm=berita&var=detail&id=384

Wallahu Alam


Artikel Terkait