Surat Terbuka Untuk ‘Tokoh’ Yang Berani Berfatwa Selamat Natal ‘Boleh’

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Surat terbuka ditulis oleh pejuang Aswaja NU beraqidah lurus KH. Muhammad Hasan Abdul Muiz untuk mereka ‘para tokoh’ yang berani mengeluarkan pendapat di muka umum dan media massa dengan alasan ‘toleransi’ versi mereka.

SUARA HATI, UNTUK SAUDARA-SAUDARA YANG MEMPERBOLEHKAN MENGUCAPKAN “SELAMAT NATAL” KEPADA UMAT NASRANI

Saudaraku…
Saya yakin ketika anda berpendapat atau berfatwa bahwa boleh mengucapkan “Selamat Natal” untuk umat nasrani, pasti didasarkan oleh hasil ijtihad dan istinbat yang menurut saudara itulah yang benar. Saya berharap mudah-mudahan ijtihad saudara digolongkan oleh Allah kepada apa yang disabdakan Habibuna Muhammad, “Barang siapa berijtihad kemudian keliru, maka baginya satu pahala. Barang siapa berijtihad lalu benar, maka baginya dua pahala”. Amin.

Saudaraku…
Saya masih ingat, tahun 2004 saya pernah bertanya kepada seorang pendeta yang kebetulan dia adalah termasuk rekan al Marhum Abah saya, KH. Abdul Mu’iz, kami bertanya demikian,
“Apakah Bapak Pendeta menganggap abah saya sebagai tokoh yang anti toleransi antar agama?”.
Si pendeta menjawab, “Sejauh yang saya kenal, abah sampean adalah sosok tokoh yang paling toleransi”.
Lalu saya bilang begini, “Abah saya mengharamkan mengucapkan ‘Selamat Natal’ lho, Pak”.
Dia menjawab, “Adik… toleransi dan berhubungan baik antar muslim-kristen itu tidak ada hubungannya dan tidak akan terciderai oleh tidak mengucapkan Selamat Natal. Abah sampean mengharamkan mengucapkan Selamat Natal tetapi sejauh yang saya ketahui, beliaulah tokoh yang paling toleransi ke saya dan teman-teman yang lain. Ne buktinya sampean sudah berapa kali diajak ke rumah saya, dan berapa kali saya diterima dirumah kamu kan?”.

Bukan hanya itu, ketika kami menerbitkan buletin untuk pesantren kami, juga pada tahun 2004, kebetulan kami bekerjasama dengan sebuah percetakan milik seorang Nasrani. Pemilik percetakan itu sangat senang dengan kerjasama dan sikap kami. Dibuktikan dengan kami diperbolehkan keluar masuk ke ruang percetakannya, bahkan rumahnya. Padahal pelanggan yang lain sama sekali tidak ada yang boleh masuk ke ruang percetakannya.

Pada suatu kesempatan, kami pernah ngobrol dengan pemilik percetakan itu, “Saya mengharamkan mengucapkan ‘Selamat Natal’ lho, Om”, begitu saya berterus terang. Kemudian dia menjawab hampir sama dengan jawaban si pendeta teman abah, “Hubungan baik antara muslim dan kristen itu kan tidak ada kaitannya dengan boleh atau tidaknya seseorang mengucapkan ‘Selamat Natal’. Ini buktinya kamu dengan saya kan baik-baik aja. Kamu boleh keluar masuk percetakan dan rumah saya, bahkan makan di rumah saya”.

Saudaraku…
Hb. Riziq Syihab yang terkenal “vokal”, juga yang terkenal intens menyuarakan keharaman mengucapkan selamat natal, justru sering kami nonton beliau tampil di televisi dengan dipresenteri oleh Wimar Witoelar yang notabene adalah Nasrani. Bahkan tersebar di You Tube kunjungan Wimar ke markas FPI. Justru kalau kita tonton videonya sungguh merupakan kunjungan yang dipenuhi keakraban.

Juga, Buya Yahya seorang dai yang juga terkenal getol menyuarakan pendapat haram mengucapkan selamat natal nyatanya sering hadir dalam acara bersama para pendeta.

Dua kejadian nyata yang menimpa saya sendiri dan sedikit contoh realita yang terjadi di Indonesia ini dari sekian banyak contoh yang lain, juga setelah melalui perenungan yang panjang, akhirnya mengantarkan kami kepada sebuah kesimpulan, bahwa toleransi antar umat beragama memang tidak akan terciderai dan tidak akan terhalangi oleh pendapat haram mengucapkan Selamat Natal.

Saudaraku…
Sebagaimana Ayat yang sering saudara utarakan ketika berhujjah untuk memperbolehkan selamat natal, ” Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (al Mumtahinah: 8). Allah sangat mengajurkan kita untuk bertoleransi dan berbuat baik den non muslim yang tidak memerangi dan mengusir kita. Tetapi -sekalilagi- bukankah toleransi kita dengan rekan-rekan nasrani tidak akan terciderai oleh tidak mengucapkannya kita kalimat “selamat natal” kepada mereka. Dan bukankah masih sangat banyak ruang toleransi selain mengucapkan selamat natal yang tidak menyebabkan gonjang-ganjing di tubuh umat Islam sendiri.

Saudaraku…
Sampai hari ini saya tidak pernah mendengar komplain dari umat nasrani kepada ulama-ulama yang menfatwakan haram mengucapkan selamat natal. Kalaupun ada, saya yakin itu hanya datang dari  satu atau dua orang dari dua miliar umat nasrani yang ada di dunia ini. Sekalilagi, tidak ada komplain dari mereka dan hubungan kita dengan nasrani baik-baik saja meskipun kita tidak mengucapkan selamat natal kepada mereka.

Dan yang terpenting, saya tidak pernah mendengar ada dari kaum nasrani tertarik untuk memeluk agama Islam hanya sekedar dikarenakan kita mengucapkan selamat natal kepada mereka.

Tetapi, saudaraku, ketika saudara berpendapat atau berfatwa boleh mengucapakan selamat natal justru yang terjadi kericuhan di tubuh umat Islam sendiri. Banyak kaum muslimin -bahkan mayoritasnya- menolak pendapat saudara. Bahkan tidak jarang dari mereka menuduh dengan tuduhan tidak-tidak kepada yang memperbolehkan mengucapkan Selamat Natal. Meskipun kami sangat menyayangkan dan sangat tidak setuju kepada mereka-mereka yang menuduh tidak baik terhadap yang memperbolehkan mengucapkan Selamat Natal. Tetapi faktanya sudah jelas, terjadi gonjang-ganjing di tubuh umat Islam disebabkan pendapat yang memperbolehkan mengucapkan Selamat Natal. Dengan kenyataan ini, mungkin sebaiknya simpanlah pendapat saudara itu didalam hati, jangan dikampanyekan. Toh sebagaimana yang sudah kami sitir diatas, toleransi kita dengan umat nasrani tidak akan terciderai jikapun kaum muslimin tidak ada yang mengucapkan Selamat Natal kepada umat nasrani.

Saudaraku…
Mungkin saudara akan meribound kami dengan menyatakan begini, bahwa gonjang-ganjing itu terjadi karena salah mereka sendiri yang mengharamkan mengucapkan selamat natal. Jadi tidak bisa dijadikan dasar untuk mengkelirukan kami (yang memperbolehkan mengucapkan selamat natal). Maka saudaraku… kalaupun benar gonjang-ganjing ditubuh kaum muslimin mengenai mengucapkan Selamat Natal ini hanya disebabkan oleh mereka- mereka yang mengharamkan, tetapi bukankah “dar- ul mafaasid muqaddamun ‘alaa jalb al mashaalih” (meninggalkan kemafsadatan lebih dikedepankan daripada mendatangkan kemaslahatan)?! Mengucapkan Selamat Natal -menurut saudara- bisa mendatangkan kemaslahatan, maka, bukankah gonjang-ganjing, meskipun kita katakan bahwa yang menyebabkannya adalah yang mengharamkan itu sendiri, ditubuh umat Islam itu mafsadat?!

Demikian pula, bukankah telah sama-sama kita ketahui sebuah kaidah yang menyebutkan, “al khurûj min al khilâfi mustahabbun” (keluar dari persoalan yang diperselisihkan adalah dianjurkan)?!

Saudaraku…
Tentu telah sama-sama kita ketahui pula, bahwa dahulu Imam Malik pernah diminta pendapat oleh khalifah di zaman beliau untuk mengembalikan bentuk bangunan Ka’bah kepada bentuk bangunan yang ada di zaman Habibuna Muhammad. Tetapi Imam Malik tidak setuju. Padahal dalam masalah bentuk bangunan Ka’bah ini sejatinya mengembalikan bentuk bangunan Ka’bah kepada bentuk sebagaimana di zaman Nabi itulah yang benar. Tetapi Beliau lebih setuju jika khalifah tidak mengembalikan bentuk bangunan Ka’bah kepada yang ada di zaman Nabi. Alasan beliau, “supaya Ka’bah tidak menjadi mainan para raja”. Imam Malik sedang menerapkan “dar- ul mafâsid muqaddamun ‘alaa jalb al mashâlih”.

Kami kira, selayaknyalah kita mentauladani beliau di dalam persoalan mengucapkan selamat natal ini. Apalagi kebolehan mengucapkan selamat natal ini masih sangat remang-remang kebolehannya. Beda dengan masalah mengembalikan bentuk bangunan Ka’bah sebagaimana di zaman Nabi.

Saudaraku…
Kami dikejutkan oleh penjelasan pendeta teman Abah, bahwa umat kristiani tidak seluruhnya merayakan natal. Ada sebagian kelompok dari mereka bahkan mengharamkan merayakan natal. Bahkan jumlah mereka tidak sedikit. Dan setelah saya cari informasi di internet, ternyata hal itu memang benar. Terutama sekali kalau kita mau membaca keterangan Irene Handono. Maka pertanyaan dari kami, jika kita mengucapkan selamat natal bukankah itu artinya kita telah sedikit mengotori toleransi kita dengan umat nasrani yang kebetulan mereka berpendapat haram merayakan natal itu? Padahal -sekalilagi-  telah terbukti tidak komplain dari umat nasrani yang memperbolehkan merayakan natal kalau kita tidak mengucapkan Selamat Natal kepada mereka.

Saudaraku…
Tahun 2010 yang lalu kami pernah melayangkan surat kepada rekan-rekan kami yang nasrani. Surat tersebut bunyinya demikian:

“Suara Hati Untuk Umat Kristiani Berkenaan dengan Hari Natal
19 Desember 2010 pukul 6:29

Kepada umat Kristiani, yang kebetulan pernah atau rutin mengucapkan tahniah untuk umat Islam di saat hari raya-hari raya umat Islam, lebih baik jika ucapan tahniah yang anda ucapkan itu hanya ingin anda gunakan sebagai “senjata” untuk mengharapkan timbal balik umat Islam supaya juga mengucapkan “Selamat Hari Natal, Selamat Paskah dll.” lebih baik anda tidak mengucapkan tahniah kepada Umat Islam. Sebab, jika kemudian di dalam tubuh umat Islam berbeda pendapat perihal boleh apa tidak mengucapkan “selamat Hari Natal” justru hal itu akan memicu ketimpangan dan perselisihan dalam tubuh Umat Islam sendiri. Bukankah anda juga akan sangat tidak setuju jika ada -misalnya- dari umat Islam membuat ulah untuk merusak hubungan dan menciptakan perselisihan di kalangan umat Kristiani?!

Jika memang tidak boleh tidak anda harus mengucapkan tahniah kepada umat Islam, ucapkanlah dengan ikhlas. Dalam artian, jika ternyata nantinya umat Islam tidak membalas mengucapkan selamat di saat hari raya-hari raya Kristen, dengan alasan agama kami tidak memperbolehkan, mohon di ikhlaskan. Toh anda mengucapkan “selamat Hari Raya” kepada Umat Islam itu saya kira murni hanya karena ingin rida dari Tuhan kan?!

Kalaupun di kalbu anda masih ada uneg-uneg tidak enak, atau tidak terima, ketika sebagian besar Umat Islam tidak membalas ucapan tahniah anda dengan ucapan “selamat natal”, maka, sekalilagi, lebih baik anda tidak mengucapkan tahniah saja. Toh saya yakin haqqul yakin, umat Islam tidak akan mengklaim dan menuduh anda sebagai ekstrimis dan anti toleransi ketika anda tidak mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada Umat Islam.

Bukankah toleransi antar agama tidak harus kita aplikasikan dengan saling mengucapkan “selamat” kepada hari raya-hari raya kita? Bukankah masih banyak cara lain untuk mengimplementasikan persaudaraan antar kita?
Sebagaimana kami (umat Islam) juga memohon kepada anda, agar supaya jika ternyata umat Islam tidak mengucapkan “selamat Natal, selamat Hari Paskah, dll.” kepada Umat Kristiani, jangan kemudian kami di tuduh sebagai ekstrimis yang anti toleransi. Sekalilagi, bukankah toleransi bisa kita bangun tanpa harus saling mengucapkan selamat?

Dan yang terpenting, jika ada umat Islam -misalnya- menuduh anda sebagai ektrimis atau anti toleransi hanya disebabkan anda tak mengucapkan tahniah kepada Umat Islam, maka ketahuilah sesungguhnya orang itu bukan muslim sejati, dan tuduhannya itu sungguh sangat bertentangan dengan syariat Islam sendiri.

Salam toleransi…”

Demikian isi surat yang saya kirimkan kepada rekan-rekan Nasrani tahun 2010 yang lalu.

Dan alhamdulillah saudaraku, saya mendapatkan respon yang cukup positif dari mereka. Sekalilagi, ini menguatkan keyakinan saya, bahwa sejatinya tidak mengucapkan selamat natal itu tidak menciderai toleransi kita dengan umat Nasrani. Dan juga tidak serta merta tidak mengucapkan selamat natal mereka jadikan sebagai tanda ketidak toleransian kita kepada mereka. Tegasnya, mereka tidak menganggap yang mengucapkan selamat natal adalah yang toleransi, dan yang tidak mengucapkan berarti tidak toleransi.

Saudaraku…
Sampai saat ini, saya masih sering smsan, teleponan dan komunikasi- komunikasi lainnya dengan pendeta teman al marhum abah kami, KH. Abdul Muiz. Dan tatkala sampai pada tanggal 25 Desember biasanya saya mengirim sms demikian, “Pada tanggal 25 Desember ini kami memohon kepada Allah mudah-mudahan kami dan Bapak Pendeta beserta seluruh keluarga dan jamaah senantiasa dikaruniai hidayah-Nya”. Mungkin apa yang saya lakukan ini bisa saudara tiru untuk terhindar dari khilafiyah para ulama, perihal bolehnya mengucapkan selamat natal. Bukankah, sekalilagi “al khurûj min al khilâfi mustahabbun” (keluar dari persoalan yang diperselisihkan itu dianjurkan)?!

Sebelum saya menutup suara hati ini, saya ingin mengucapkan selamat menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad yang menjadi Nabi penyempurna syariat Nabi Isa dan nabi-nabi yang lain. Mari kita sibukkan lisan dan tulisan kita untuk mengucapkan selamat menyambut bulan kelahiran Habibuna Muhammad kepada diri kita dan selain kita.

Saya yakin haqqul yaqin, meskipun bagi saudara-saudara semuslim yang menyatakan boleh mengucapkan Selamat Natal kepada umat nasrani, kalau dari sangking sibuknya kita mengucapkan selamat menyambut bulan kelahiran Habibuna Muhammad sehingga tidak ada kesempatan waktu untuk mengucapkan selamat natal, hal itu pasti lebih baik.

Terakhir, saya mohon maaf kalau dalam tulisan suara hati saya ini terkesan menggurui. Kalau saudara menangkap ada kesan seperti itu, maafkanlah. Saran dan kritiknya saya harapkan, demi perbaikan kami kedepan.

Koncer Darul Aman Bondowoso,
Saudaramu, Muhammad Hasan Abdul Muiz Khodimu Ma’had as Sayyid Muhammad Alawi al Maliki

Wallahu Alam


Artikel Terkait