Kongres IPNU Dilaporkan Ricuh, NU Online: Diluar Senang Dengan Musik

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Boyolali (ANTARA News) – Kongres Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) XVIII di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Senin petang, berlangsung ricuh karena salah seorang peserta kongres pingsan terkena lemparan kursi dan lebih dari lima peserta mengalami luka ringan.

Informasi dari delegasi PW IPNU Jatim yang diterima Antara menyebutkan kericuhan itu terjadi lantaran perbedaan pendapat di antara peserta kongres tentang usia calon ketua umum.

Ada dua pendapat yaitu usia calon ketua umum 27 tahun dan 29 tahun. Dalam sidang komisi Peraturan Dasar Rumah Tangga (PDRT) menghasilkan usia calon ketua umum 29 tahun atau tetap sebagaimana peraturan sebelumnya dan batas usia 27 akan dibahas dalam Rakernas.

Suasana semakin memanas saat hasil tersebut dibacakan dalam Sidang Pleno. Peserta pro-usia 27 tahun tidak sepakat atas hasil sidang komisi.

“Kongres adalah forum tertinggi di IPNU, usia harus diselesaikan di Kongres, bukan di Rakernas,” kata seorang peserta dari IPNU DKI Jakarta, Saerozi.

Seketika itu, peserta saling lempar botol dan tas, bahkan kursi. Akibatnya, salah satu peserta pingsan terkena lemparan kursi di bagian kepala yang diketahui bernama Abdullah Muhdi dari IPNU Jawa Timur, sehingga acara diskors.

Menanggapi kejadian itu, Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami menegaskan bahwa kongres ini tidak bisa diteruskan karena sudah menelan korban. 

“Kami mohon PBNU turun tangan untuk menyelamatkan IPNU, kami meminta PBNU hadir,” kata Haikal.

Menurut dia, PBNU adalah “orang tua” IPNU, maka PBNU tentu bisa mengatur masa depan IPNU yang merupakan badan otonomnya.

“Keputusan Muktamar Jombang menjadi komitmen IPNU Jatim dan Jakarta untuk mengawalnya. IPNU sebagai anak akan mengawal betul. Keputusan Muktamar NU wajib kami kawal,” katanya.

Selain itu, IPNU Jatim menolak hasil apapun. Keputusan forum yang menuai kericuhan seperti ini, tidak bisa diterima.

“Kami tidak sepakat dilanjutkan karena ini sudah tentu akan memicu konflik lagi yang lebih besar, kita ingin forum ini deadlock sampai PBNU hadir dalam forum kongres,” katanya.

Senada dengan itu, Saerozi dari DKI Jakarta dengan tegas menolak hasil keputusan kongres ke 18 di Boyolali. “Kami berharap orang tua kami turun secepatnya,” lanjutnya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini menegaskan bahwa batasan usia Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) sesuai dengan AD/ART NU adalah 27 tahun.

“Kalau ada anggota yang melanggar, ada klausul pelanggaran. Kita akan ambil alih dengan membentuk kepengurusan transisi,” katanya.

Pasal 18 Anggaran Rumah Tangga NU dalam ayat e secara jelas menyatakan: “Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama disingkat IPNU untuk pelajar dan santri laki-laki Nahdlatul Ulama yang maksimal berusia 27 (dua puluh tujuh) tahun”.

Dalam ayat f menyatakan: “Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama disingkat IPPNU untuk pelajar dan santri perempuan Nahdlatul Ulama yang maksimal berusia 27 (dua puluh tujuh) tahun”.

NU Online: Diluar Senang Dengan Musik

Pada malam ketiga pelaksanaan Kongres XVIII IPNU dan Kongres XVII IPPNU, Ahad (6/12) malam, para peserta telah memasuki agenda persidangan komisi. Peserta dibagi menjadi empat komisi yakni komisi A (Peraturan Dasar/ Peraturan Rumah Tangga), komisi B (Garis-garis Besar Perjuangan Pengembangan) , Komisi C (Prinsip Perjuangan) dan Komisi D (Rekomendasi).

Dari keempat komisi tersebut, persidangan yang paling menghabiskan pikiran ada di komisi A yang membahas rancangan PD/PRT. Peserta saling interupsi dan beradu argumentasi mempertahankan gagasan usulannya.Saking alotnya pembahasan, sidang komisi ini berakhir hingga Senin dini hari tadi.

Bila suasana di dalam ruangan terlihat tegang, tidak demikian di luar ruangan. Seperti Ahad malam itu, para pelajar yang turut memeriahkan kongres asyik menikmati penampilan musik beraroma anak muda di panggung apresiasi.

Malam itu, grup musik IPNU Band (Purworejo) tampil menghibur dengan musik-musik yang sesuai selera peserta kongres. Ia juga bisa mengiringi peserta yang ingin bernyanyi sesuai lagu yang dibawakan.

“Mari kita luapkan kegembiraan di arena kongres malam ini. Yang di dalam tegang, yang di luar kita senang-senang,” ucap salah seorang host panggung Ahad malam.

Panggung apresiasi yang disediakan panitia ternyata mampu mencairkan suasana kongres. Saat sidang lagi diskors, para peserta pun larut bergabung di panggung sambil bernyanyi seakan ingin menghilangkan kepenatan.

Panitia daerah Ahmad Noufa Khairul Faizin mengatakan panggung apresiasi sengaja disiapkan guna memberi ruang berekpresi bagi kader-kader IPNU IPPNU. Mereka bisa menampilkan kreativitas bersama musik host yang ditampilkan.

“Selama kongres kami menampilkan hiburan musik di sini. Mulai sore hingga malam 1-3 grup musik menghibur teman- teman peserta kongres di panggung apresiasi,” ujarnya pada NU Online.

Peserta asal Pati Maksum mengaku senang atas penampilan IPNU Band yang menghibur . Terlebih lagi, banyak kader- kader IPNU-IPPNU dari seluruh Indonesia yang kreatif bernyanyi di atas panggung.

“Salut deh ama panitia, kita tidak hanya terbebani pembahasan-pembahasan materi sidang, tetapi juga bisa terhibur,” katanya singkat. [Antara/NU/NUgl]


Artikel Terkait