Kemiskinan Tanpa Iman Lahan Semai Komunisme

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Seperti memasukkan tabung berisi udara ke dalam bak air, Semakin ditekan, daya lontarnya tentu akan semakin kuat. Power akibat tekanan benda, sering digunakan untuk menggerakkan alat. Daya lontar, bisa menggerakkan torak pada mesin, pada turbin, bahkan hentakan akibat tekanan panas pada motor yang kita pakai, juga akibat dari daya tekan, yang lontarannya bisa menggerakan mesin.

Proses ini mungkin dapat menjadi gambaran pada fenomena sosial yang terjadi. Walau berasal dari hukum fisika, namun prakteknya pada bidang sosial bisa di aplikasikan, walau dalam bentuk yang berbeda.

Sejak awal, dalam Manifesto Komunis, “mbahnya” kaum komunis yang bernama Karl Marx telah mencanangkan ideologi yang menggambarkan akan adanya revolusi sebagai dampak dari mekanisme reaksi ini. Revolusi yang menggunakan “daya lontar” ini, kemudian akan menghasilkan sebuah efek berantai. Seperti telah kami asumsikan diatas.
Lalu apa saja “daya lontar” yang bisa digunakan dalam hal kemasyarakatan-sosial?

Kaum komunis menyadari, bahwa ada kekuatan manusia yang begitu dahsyat jika “meledak” dan bisa menimbulkan efek beruntun, apakah itu? Nomor satu adalah lapar. Jika manusia lapar, maka tak segan-segan dia akan berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Yang kedua, adalah kecemburuan. Sering kecemburuan mengakibatkan sentimen kuat, baik itu pada pribadi maupun golongan. Lalu kecemburuan ini akan mewujud menjadi “daya ledak” yang ketiga, yaitu kemarahan. Bagi kaum komunis, potensi “ledakan” ini bisa digunakan sebagai alat bagi terwujudnya revolusi menuju sebuah “tatanan masyarakat” sesuai dengan cita-cita mereka. Yaitu sebuah tatanan masyarakat tanpa kelas, yang sama- rata. Terhapusnya kelas-kelas sosial di masyarakat, otomatis berdampak pada terhapusnya kepemilikan pribadi. Lalu singkatnya kaum miskin yang “meledak” (pen: ber-revolusi) , akan dipimpin oleh serikat-serikat yang akhirnya akan mewujud dalam sebuah partai proletariat (pen: Partai Komunis).

Ok … Sebelum lebih jauh, kita batasi dahulu perbincangkan ini mengenai asumsi “daya lontar” ini terlebih dahulu.

Jelas, seperti halnya menyemai bibit tanaman, tentu memerlukan media tanam. Media untuk menanam adalah tanah, humus atau apa saja yang bisa menopang hidup bagi akar hingga daun tanaman, bahkan bisa menopang tegaknya pohon.

Bagi ideologi komunis, media yang digunakan untuk “menyemai” ajarannya adalah rakyat miskin. Seperti kami jelaskan di atas. Lapar, kecemburuan serta kemarahan, sangat mudah terjadi dalam kondisi miskin. Tentu jika mereka kurang atau bahkan tak ada iman. Namun bagi orang-orang komunis  tentu tak ada  keterkaitan normatif, norma dan iman jelas disingkirkan jauh-jauh. Orang yang sangat lapar akan bisa melakukan hal-hal nekad hanya untuk sepotong roti. Dalam kondisi demikian propagandis komunis tentu tak perlu lelah menjelaskan filsafat Marxis, untuk mengajaknya hanyut pada alur gerakan mereka.

Setelah kaum miskin ini “on the track” pada tujuan komunis, mulailah “digarap” dengan agitasi yang membakar, dihasud dengan kecemburuan serta kebencian pada kaum kaya, pemilik modal, perangkat pemerintah seperti tentara, juga pada para Ulama (kaum agamawan). Orang-orang komunis menghasud rakyat yang telah miskin tadi untuk cemburu, lalu marah bahkan sampai melakukan hal-hal anarkis. Merebut alat-alat produksi, menyegel tanah bahkan menguasai aset-aset publik, karena berangapan pemerintah melindungi kaum kaya. Ujung-ujungnya adalah makar. Ini yang terjadi dalam sejarah masa lalu. Di Indonesia, kita belum lupa dengan makar orang-orang komunis, seperti pada peristiwa Madiun, peristiwa G30S/PKI di tahun 1965 serta peristiwa makar komunis lainnya.

Jadi asumsi “penyemaian” ideologi ini akan subur bila disemai di lahan yang bernama “kemiskinan”. Rakyat miskin, atau rakyat yang “dimiskinkan” adalah sebuah fase untuk “meledakkan” cita-cita komunis. Maka kita harus waspada, jangan sampai orang-orang komunis atau mereka yang teracuni oleh ideologi komunis menduduki tempat-tempat strategis yang dapat membuat kebijakan untuk rakyat. Akibatnya kemiskinan bukan berkurang, justru malah “digenjot” lebih banyak, karena sebagai “lahan semai” bagi ideologi serta tujuan mereka.

Maka tugas kita segenap komponen Ahlussunnah waljama’ah yang tak menginginkan komunisme hidup di bumi Indonesia, dalam menangkal ajaran komunis tak lain  adalah memperkuat sisi keimanan masyarakat. Karena ajaran komunis tak akan berhasil pada masyarakat yang beriman teguh.

Wallahu Alam

Penulis: AR. Helmi


Artikel Terkait