Apa Itu Tawassul Menurut Aswaja? Berikut Jawabannya

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Berikut ini kajian tawassul menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang kami kutip dari halaman Aswaja Garis Lurus.

APA SIH TAWASSUL  MENURUT ASWAJA ITU ?

Oleh KH. Luthfi Bashori

Banyak orang yang salah pengertian di dalam memahami arti Tawwsul yang selama ini  dilaksanakan oleh warga Aswaja, lantas mereka yang tidak memahaminya itu sering kali dengan  serta merta menuduh negatif (seperti  tuduhan syirik dan bid’ah) terhadap amaliah Tawassulnya warga Aswaja.

Sayangnya tuduhan itu terlontar hanya berdasarkan asumsi (pandangan dari luar) semata, bukan berdasarkan  sesuatu yang riil dilakukan oleh warga Aswaja itu sendiri. Padahal, tuduhan yang tidak berdasarkan fakta ilmiah itu dapat dikategorikan sebagai syahadatuz zuur (tuduhan bohong) yang dosanya sangat besar di sisi Allah.

Coba misalnya, ada seorang lelaki yang berprofesi sebagai dokter kulit dan alat lelamin, tiba-tiba didatangi seorang wanita pelacur yang ingin berobat karena terkena penyakit kulit & kelamin. Apa bisa si dokter lelaki ini langsung dituduh sebagai lelaki hidung belang ahli berzina, hanya  berdasarkan asumsi karena si dokter itu telah memasukkan seorang pelacur wanita di ruang kerjanya?

Tentu dalam kode etik kedokteran tidak sedemikian negatifnya, dan tentunya dalam ruang praktek kedokteran spesialis kulit & alat kelamin itu ada asisten, yang bertugas di samping melayani kepentingan dokter dalam urusan mengobati pasennya, juga berfungsi sebagai kontrol sosial bagi pekerjaan kedokteran itu sendiri, sekalipun kemungkinan besar fungsi asisten sebagai kontrol sosial  ini tidak tercatat dalam kode etik secara resmi.

Intinya, suatu hukum itu itu tidak dapat dijatuhkan kepada seseorang, hanya berdasarkan asumsi semata, maka Islam mengajarkan bahwa penentuan suatu hukum itu dapat dijatuhkan harus berdasarkan fakta dan bukti nyata.

Baik bentuk fakta dan buktinya itu sesuai dengan kejadian di lapangan, misalnya si dokter tadi benar-benar berzina dengan pasen sang pelacur dan disaksikan oleh empat orang lelaki dewasa, maupun fakta dan bukti tertera dalam kaidah syariat yang tertulis  bersumber dari Alquran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas.

Kembali kepada pembahasan hakikat Tawassul yang diamalkan oleh warga Aswaja, adalah merupakan amalan ibadah sunnah sebagai berikut:

1.  Tawassul adalah salah satu bentuk metode berdoa yang benar-benar memohon  kepada Allah secara murni, bukan kepada siapa-siapa selain Allah.

2. Tawassul adalah doa murni kepada Allah, hanya saja orang yang bertawassul itu menggunakan jasa  ‘pihak lain’ (perantara) untuk menyampaikan doanya kepada Allah.

3.  Orang yang bertawassul itu boleh menggunakan jasa ‘pihak lain’ sebagai perantara, yang biasanya ‘pihak lain’ itu adalah amal ibadahnya sendiri yang baik, atau berdoa dengan perantara Al-asmaul husna (nama-nama Allah), atau perantara doa Nabi SAW untuk umatnya, atau perantara doa orang tua untuk anak-anaknya, atau perantara doa seorang kiai untuk murid-murudnya, atau perantara doa orang shalih untuk jama’ahnya. Namun semua doa itu tetap ditujukan kepada Allah semata, bukan kepada ‘pihak lain’ yang dijadikan perantara.

Seseorang itu boleh saja berdoa secara independen, tanpa harus menggunakan jasa perantara. Namun syariat juga memperbolehkan seseorang itu berdoa dengan menggunakan jasa perantara.

Sebenarnya, hal semacam ini lumrah-lumrah saja terjadi di kalangan masyarakat atau umat Islam. Contohnya, seseorang itu boleh-boleh saja bepergian jauh (misalnya dari Malang menuju Surabaya, sebut saja jaraknya 100 km) secara independen tanpa dengan perantara apapun termasuk tanpa perantara alat transportasi, yaitu sengaja ditempuh dengan jalan kaki, misalnya dilakukan oleh seorang olah ragawan, atau seorang penghobi jalan kaki.

Atau boleh juga pergi dengan menggunakan perantara berupa angkutan, sebut saja naik bis. Atau berangkat dengan naik mobil yang disupir  sendiri, atau disupiri orang lain.

Semuanya itu boleh-boleh saja, yang penting tidak melanggar lalu lintas di jalan dalam bentuk apapun, maka akan aman hingga tujuan.

Demikian juga, umat Islam yang akan berdoa kepada Allah, mereka boleh-boleh saja berdoa sendiri langsung memohon kepada Allah, tapi boleh juga meminta tolong orang tuanya untuk mendoakan dirinya kepada Allah demi terwujud harapannya, atau minta tolong orang lain yang dianggap shalih karena secara dhahir adalah ahli ibadah dan dekat dengan Allah, agar menyampaikan harapannya (mendoakan untuk dirinya) kepada Allah.

Nah, baik berdoa dengan perantara orang tua maupun orang lain yang shalih inilah yang namanya Tawassul versi Aswaja. Jadi bukan berdoa memohon kepada orang tuanya sendiri atau kepada orang lain yang shalih, agar orang tua dan orang lain yang shalih itulah yang mengabulkan doanya.

Jika orang tadi menyakini bahwa yang dapat mengabulkan harapan dan doanya itu adalah orang tuanya sendiri  atau orang lain yang dijadikan perantara untuk mendoakannya itu, maka keyakinan semacam demikian ini adalah sebuah kesyirikan yang nyata. Karena baik orang tua maupun orang lain itu, bukanlah Tuhan yang dapat mengabulkan doa-doanya.

Demikian juga, jika ada orang yang ingin berdoa dengan menggunakan metode perantara (Tawassul), namun yang dipergunakan Tawassul (perantara) itu adalah sebuah kejahatan atau orang jahat (ahli maksiat), misalnya lewat dukun dan paranormal, maka perilaku ini jelas-jelas bertentangan dengan syariat, karena Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintahkan umat Islam untuk berbuat kejahatan dan kemaksiatan. Bahkan orang tadi dapat terjerumus ke dalam kesyirikan.

Jadi bertawassul itu tetap dianjurkan, tentunya harus memenuhi kaidah-kaidah yang telah ditentukan, dan tidak melanggar larangan syariat. Adapun anjuran bertawassul ini datangnya langsung dari Allah sebagaimana berikut ini:

Dalil anjuran tawassul dalam firman Allah yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (bertawassullah) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.(QS. Almaidah, 35).

Sedangkan para shahabat Nabi SAW juga mengamalkan Tawassul sebagai berikut: 

Dari Anas bin malik bahwa Sy. Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, beliau dan para shahabat meminta hujan kepada Allah melalui Sy. Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Sy. Abbas berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhkan kami bertawassul (berperantara) kepada-Mu melalui Nabi kami, maka turunkanlah hujan, dan kami bertawassul dengan paman Nabi kami maka turunkanlau hujan kepada kami, lalu turunlah hujan. (HR. Bukhari, juz 1 hal 137)

Sumber: FB Aswaja Garis Lurus


Artikel Terkait