Wahabi Dan Jidat Hitam Yang Riya’ Tanda Khawarij

Shortlink:

image

image

Tokoh Wahabi

image

Tokoh Wahabi

NUGarisLurus.Com – Jidat hitam milik kaum wahabi belum tentu adalah tanda keshalihan dan bisa menjadi tanda riya’. Sebagian ulama bahkan menyebut secara jelas bahwa jidat hitam yang sengaja dibuat adalah ciri -ciri kaum khawarij.

Imam Muhammad bin Ahmad As-Showi Al-Maliki dalam kitabnya Hasyiah As-Showi ‘Ala Tafsir Al-Jalalain juz 4 hal. 134 cet. Al-Haromain Li At-Thoba’ah Wa An-Nashr Wa At-Tauzi’ Singapura QS. Al-Fath: 29 menjelaskan maksud ayat yang berbunyi,

(سيماهم فى وجوههم من أثر السجود)
وليس المراد به ما يصنعه بعض الجهلة المرائين من العﻻمة فى الجبهة، فأنه من فعل الخوارج، وفى الحديث: اني ﻻبغض الرجل واكرهه اذا رايت بين عينيه اثر السجود.

(Tanda-tanda mereka di wajahnya (terlihat) dari bekas sujudnya)
Dan maksud darinya bukanlah apa yang dilakukan oleh sebagian orang BODOH yang merasa RIYA’ (pamer) dari tanda-tanda di jidat. Maka itu sesungguhnya yg dikerjakan kaum KHAWARIJ.
Dalam hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku sangat MARAH dan sangat TIDAK MENYUKAI jika aku melihat seorang lelaki yang diantara kedua matanya ada tanda bekas sujudnya.”

Hadits yang di sebutkan Imam Ash Showi diatas ﺭﻭاه ايضا ﺍﻟﺪﻳﻠﻤﻲ ﺻﺎﺣﺐ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻔﺮﺩﻭﺱ ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ juga diriwiyatkan oleh penulis kitab Al Firdaus Imam Ad Dailami riwayat Shahabat Anas Bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Al Imam Al-Khothib As-Syarbini Asy Syafi’i penulis kitab fiqh mazhab Syafi’i Mughni Al Muhtaj Syarakh Al Minhaj Imam An Nawawi dalam Tafsirnya Sirojul Munir juz 4 hal. 31 menjelaskan maksud ayat, سيماهم فى وجوههم من أثر السجود mengutip perkataan Imam Al-Baghowi sbb:

وقال البغاوى: وﻻ يظن من السيما مايصنعه بعض المرائين من اثر هيئة السجود فى جبهة فأن ذالك من سيماالخوارج.

“Jangan menyangka sesungguhnya dari tanda -tanda yang dilakukan sebagian orang -orang yang riya’ (muroo’iin) itu termasuk tanda bekas saat sujud di jidat, karena sesungguhnya hal itu adalah tanda -tanda khawarij.”

ﻭﻓﻲ ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﺑﻦ ﺍﻷﺛﻴﺮ ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺍﻟﺜﻘﺎﺕ ﻭﻣﻨﻪ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺪﺭﺩﺍﺀ ﺃﻧﻪ ﺭﺃﻯ ﺭﺟﻼً ﺑﻴﻦ ﻋﻴﻨﻴﻪ ﻣﺜﻞ ﺛﻐﻨﺔ ﺍﻟﺒﻌﻴﺮ ﻓﻘﺎﻝ : ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻫﺬﺍ ﻛﺎﻥ ﺧﻴﺮﺍً ﻳﻌﻨﻲ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺟﺒﻬﺘﻪ ﺃﺛﺮ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻛﺮﻫﻬﺎ ﺧﻮﻓﺎً ﻣﻦ ﺍﻟﺮﻳﺎﺀ ﻋﻠﻴﻪ. ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : “ﺇﻧﻲ ﻷﺑﻐﺾ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﺃﻛﺮﻫﻪ ﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺖ ﺑﻴﻦ ﻋﻴﻨﻴﻪ ﺃﺛﺮ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ” ﻭﻋﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﺘﻘﺪّﻣﻴﻦ : ﻛﻨﺎ ﻧﺼﻠﻲ ﻓﻼ ﻳﺮﻯ ﺑﻴﻦ ﺃﻋﻴﻨﻨﺎ ﺷﻲﺀ ﻭﻧﺮﻯ ﺃﺣﺪﻧﺎ ﺍﻵﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻴﺮﻯ ﺑﻴﻦ ﻋﻴﻨﻴﻪ ﺭﻛﺒﺔ ﺍﻟﺒﻌﻴﺮ ﻓﻼ ﻧﺪﺭﻱ ﺃﺛﻘﻠﺖ ﺍﻟﺮﺅﻭﺱ ﺃﻡ ﺧﺸﻨﺖ ﺍﻷﺭﺽ. ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺃﺭﺍﺩ ﺑﺬﻟﻚ ﻣﻦ ﺗﻌﻤﺪ ﺫﻟﻚ ﻟﻠﻨﻔﺎﻕ.

Dewasa ini banyak orang mengukur keshalihan seseorang dari ketebalan kapal hitam yang ada dijidatnya, semakin hitam dan tebal jidat seseorang maka semakin dia dianggap sebagai orang yang ahli ibadah dan ahli sujud. Hal ini berdasarkan pemahaman sempit mereka terhadap ayat yang berbunyi :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS. Al-Fath:29).

Banyak orang yang tidak mengetahui makna ayat ini dengan baik, sehingga mereka menafsirkan ayat di atas dengan pemahaman yang keliru. Dan anehnya pemahaman yang salah itu diklaim sebagai pendapat yang paling benar. Mereka menyangka bahwa maksud dari bekas sujud itu adalah tanda hitam di dahi karena sujud, bahkan ada sebagian dari mereka yang mencemooh seorang ulama’ sholih hanya karena jidatnya tidak hitam maka dianggap ulama yang yang tidak sholih sebab jidatnya seperti kaleng. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan dari ayat tersebut. Pakar tafsir Imam At-Thabari meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik. Dalam sebuah riwayat lain yang beliau nukil juga dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan bekas sujud adalah kekhusyu’an. Juga diriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546) bahkan Imam Syirbini al Khotib Asy Syafi’i dalam tafsir diatas yang disandarkan dari riwayat Ibnu Atsir bahwa mereka yang SENGAJA MELAKUKANNYA SUPAYA JIDAT HITAM ADALAH TANDA KEMUNAFIKAN.

Sementara itu dalam Sunan Kubro karangan Imam Baihaqi diterangkan:

عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟

Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698).

Dalam redaksi lain dari Ibnu Umar juga meriwayatkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.

Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).

عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.

Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).

عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.

Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).

Bahkan Imam Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat tersebut adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij ” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr). Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”. Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya. Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”. Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,

يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ رِجَالٌ كَانَ هَذَا مِنْهُمْ هَدْيُهُمْ هَكَذَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لاَ يَرْجِعُونَ فِيهِ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ لاَ يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ

“Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun al Qur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Ciri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Imam Ahmad Bin Hanbal no 19798 dinilai shahih li gharihi oleh Syeikh Syu’aib al Arnauth).

Oleh karena itu, ketika kita sujud hendaknya proporsonal dan sewajarnya saja, yang penting antara lambung dan paha agak renggang serta ketiak sedikit dibuka, jangan terlalu berlebih-lebihan sehingga hampir seperti orang yang telungkup. Tindakan inilah yang sering menjadi sebab timbulnya bekas hitam di dahi, meskipun sebenarnya belum tentu orang tersebut benar-benar ahli sujud.

Jadi, bagi yang JIDAT-nya pada kapalan hingga muncul cap stempel menghitam janganlah merasa paling ‘ABID dan SHALIH kemudian menyalahkan orang lain, boleh jadi ANDA lah KAUM KHAWARIJ MASA KINI. Na’udzubillahi min dzalik. Wallahu Alam dan semoga bermanfa’at. Aamiin


Artikel Terkait