KBNU Tuding Gunakan Cara Wahabi, Ini Jawaban Imam Besar NU Garis Lurus

Shortlink:

image

Imam Besar NU Garis Lurus KH. Luthfi Bashori sowan kepada ulama sepuh, KH. Zubair Muntashor Pengasuh Ponpes Nurul Kholil, Bangkalan Madura.

NUGarisLurus.Com – Sebuah grup whatsapp KBNU membuat BC yang tersebar lewat jejaring sosial tentang beberapa poin ketakutan mereka konflik sektarian di Timur Tengah merembet ke Indonesia. Namun anehnya seperti kehabisan ungkapan ilmiah mereka justru menuding NU Garis Lurus adalah wahhabi.

Bahkan mereka seperti menutup mata bahwa NU Garis Lurus justru sangat tegas menolak dan membongkar penyimpangan wahabi, Namun karena kehabisan kata ilmiah tudingan fitnah menjadi pamungkas ilmiah. Mereka resah jalan Amar Makruf Nahi Munkar yang ditempuh NU Garis Lurus membahayakan kepentingan mereka dan menganggapnya itu cara wahhabi. Meskipun di lain pihak aliran wahabi sudah sering menuding NU Garis Lurus syiah. Itu artinya mereka kehabisan jurus dan pemikiran ilmiah.

Berikut ini wawancara mitra redaksi NUGarisLurus.com dengan tokoh sentral pejuang Aswaja yang juga murid ulama besar Aswaja Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki yaitu KH. Luthfi Bashori. Kyai Luthfi adalah pemilik website PejuangIslam.Com NU Garis Lurus.

Mohon maaf mengganggu waktunya Kyai. Sebagai pengelola Website Pejuang Islam NU Garis Lurus, Apa tanggapan Kyai dengan beredarnya artikel yang berisi “Tuduhan oknum PBNU” yang disuarakan lewat group Whatsapp KBNU yaitu isu bahwa NU Garis Lurus adalah sebagai kelompok yang selalu menggunakan cara-cara Wahhabi untuk menghancurkan NU dari dalam?

KH. Luthfi Bashori: Sebenarnya itu isu hoax, dan isu semacam ini sudah lama sekali dihembuskan oleh kalangan JIL yang pro Syiah, bahkan sejak Gus Dur masih hidup, mereka menyebarkan tuduhan yang hanya berdasarkan asumsi semata, bukan fakta yang sesuai realita di lapangan.

Kenyataan yang bagaimana maksud Kyai?

KH. Luthfi Bashori: Kenyataan di lapangan justru sebaliknya, karena faktor perilaku beberapa tokoh sentral PBNU yang seringkali secara terang-terangan menyalahi aturan Syariat Islam, khususnya dengan melawan ajaran Aqidah yang telah digariskan oleh KH. Hasyim Asy’ari, misalnya dengan dalil HAM, lantas membela Syiah, membela gereja, dan membela beberapa kemungkaran aqidah yang menggrogoti paham Aswaja, maka banyak para ulama yang yang sangat prihatin dengan keselamatan aqidah warga NU, akhirnya memilih mufaraqah dari PBNU.

Contoh paling kongkrit, di saat Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU, maka KH. As’ad Syamsul Arifin dan KH. Hasan Asy’ari atau Mbah Mangli secara terang-terangan menyatakan mufaraqah.

Saat ini tatkala Said Aqil Siradj ‘mengaku-aku’ sebagai Ketua Umum PBNU (maaf meminjam istilah KH. Sholahuddin Wahid), maka dengan tegas KHR. Achmad Azaim Ibrahimy, KH. Khoiri Adnan dan beberapa kyai juga menyatakan mufaraqah.

Bahkan beberapa cabang NU mengadakan perlawanan dengan berbagai cara sesuai dengan versi masing-masing. Ini pertanda semakin banyaknya para ulama yang gelisah dengan kondisi Stuktur NU dari pusat hingga daerah-daerah.

Sekalipun masih banyak kalangan JIL yang sengaja menghembuskan stigma Wahhabi pada saya khususnya, namun seiring berjalannya waktu, para ulama yang masih lurus aqidahnya, dan diberi hati terbuka oleh Allah, Alhamdulillah mereka mulai menyadari bahwa apa yang selama ini saya lakukan, yaitu menyatakan ‘Perang’ terhadap Wahhabi, Syiah dan khususnya JIL (Liberalisme), adalah suatu keniscayaan dalam rangka menjaga aqidah warga NU, agar tidak terperdaya ikut-ikutan beraqidah seperti keyakinan Gus Dur, Said Aqil Siradj, Masdar Farid, Ulil Abshar, dan tokoh-tokoh Pluralis nan Liberalis lainnya yang mereka jadikan icon dan panutan.

Jika jujur mempelajari pemikiran KH. Hasyim Asy’ari, misalnya yang tertera dalam kitab karya beliau, Risalah Ahlis Sunnah wal Jamaah, kebetulan saya mengkajinya di Masjid Hizbullah Singosari Malang,¬† maka perilaku semacam oknum-oknum yang saya sebut di atas itu, sebenarnya sudah sangat jauh mereka melenceng dari ajaran KH. Hasyim Asya’ari.

Saya dan banyak Kyai sangat sedih. Hanya saja kebanyakan mereka hanya menyimpannya dalam dada, atau hanya dapat disampaikan dalam forum-forum terbatas.

Sedangkan saya sendiri, bismillah, keprihatinan ini saya suarakan secara terbuka. Termasuk sebagai doa, semoga Allahlah yang merubah  NU ke depan menuju kepada arah yang lebih baik.

Saya dan sekian banyak para ulama baik yang duduk di struktural maupun Ulama Kultural NU, selalu bermohon kepada Allah, agar dianugerahi organisasi NU yang bebas dari Syiah, NU yang bebas dari Wahhabi, NU yang bebas dari Pluralisme dan Liberalisme.

Terima kasih Kyai atas waktu dan keterangannya, mohon doa semoga kami-kami para pemuda NU selalu mendapat barakahnya para Ulama NU yang masih Lurus dan Tegas seperti Kyai, khususnya dalam melawan kemungkaran aqidah.

Wallahu Alam


Artikel Terkait