Kaidah penting yang harus difahami oleh Wahhabi [Pengusung nama albani]

Shortlink:

NUGarisLurus.com- Ramai orang tidak faham atas konsep sebuah kaidah, akibatnya akan menarik kepada sebuah pemahaman yang salah. 12208541_967471343326378_4640980714229238608_njika hal itu terjadi pada wilayah ilmu, terlebih ilmu yang berkaitan dengan agama, maka akibatnya menjadi semakin  Fatal, masyarakat Awam harus diberi perhatian atas perkara ini, sebagai contoh adalah Masalah kaidah Muhaddist dan Al hafidz dalam Ilmu Hadist.  orang yang tidak layak menyandang gelar sebagai Muhaddist dipopulerkan sebagai Muhaddist, gelar-gelar yang sangat sensitif dalam keilmuan agama islam ini dengan mudah di populerkan dan disebarluaskan melalui media-media terlebih media sangat mudah diakses oleh segenap lapisan masyarakat mulai dari yang awam sampai kepada orang paling awam sekalipun. Nashiruddin Al albani adalah salah satu contoh dari seorang tokoh yang dipopulerkan oleh pengikutnya sebagai Muhaddist yang mempunyai otoritas dalam menentukan hadist yang sohih dan Hadist yang dha’if.

opini ini dibangun secara masis dan sistemis, sehingga terbangun sebuah opini dikalangan lapisan masayarakat awam bahwa nashiruddin al albani memang seorang yang mempunyai kemampuan dan ototritas dalam menentukan Hadist Sohih maupun dha’if.  sangat Naif sekali jika hal yang demikian tidak sesuai dengan kenyataan nya, sehingga akan lebih banyak lagi Ummat yang tergiring kepada opini semacam ini dan semakin jauh terjerambab kepada jebakan dan penyesatan. 

Kaidah penting

Muhaddist bukanlah orang yang mempunyai hak dalam menshohihkan dan mendhaifkan Hadist, karena menshohihkan dan mendhaifkan hadist itu merupakan tanggung jawab atau tugas dari Al hafidz, alhafidz peringkatnya dalam sisi keilmuan lebih tinggi kedudukan nya daripada Muhaddist.

Al muhaddist : adalah orang yang mampu menghafal nama-nama Rawi-rawi [Rijal] beserta dengan sanad-sanad nya.

sedangkan Al hafidz adalah melebihi daripada Muhaddist, yaitu disamping Hafal nama-nama rawi-rawi beserta dengan sanad-sanadnya juga mampu mengetahui kedudukan atau keadaan para Perawi disetiap kedudukan dan tingkatan riwayat nya.
Albani yang mengaku sebagai Muhaddist adalah Dusta, dia memfasih-fasihkan dalam menshohihkan dan mendhaifkan Hadist, hal itu di sebebkan oleh Kebodohan nya terhadap kaidah ini. sebagaimana kebodohan nya terhadap Ilmu hadist. dia adalah orang yang tidak mempunyai keahlian terhadap masalah ini. banyak Hadist-hadist dhaif yang di shahihkan olehnya. dan banyak pula hadist-hadist Sohih yang di dhaifkan oleh nya.

Semoga bermanfaat !


Artikel Terkait