Inilah Bid’ah Hasanah Yang Rutin Dilakukan Ibnu Taimiyyah

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Umar bin Ali al-Bazzar, murid Ibnu Taimiyah, berkata dalam kitab al-A’lam al ‘Aliyyah fi Manaqib Ibn Taimiyah (hal. 37-39) yaitu sebuah kitab yang menceritakan kisah hidup (Manaqib) Ibnu Taimiyyah dan ibadah bid’ah hasanah yang dilakukan olehnya tanpa contoh dari Rasululullah Shollahu Alaihi Wasallama:

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻓَﺮَﻍَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﻼﺓِ ﺃَﺛْﻨَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻫُﻮَ ﻭَﻣَﻦْ ﺣَﻀَﺮَ ﺑِﻤَﺎ ﻭَﺭَﺩَ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻟِﻪِ ﺍﻟَﻠَّﻬُﻢَّ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ﻭَﻣِﻨْﻚَ ﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻛْﺖَ ﻳَﺎ ﺫَﺍ ﺍﻟْﺠَﻼَﻝِ ﻭَﺍْﻹِﻛْﺮَﺍﻡِ ﺛُﻢَّ ﻳُﻘْﺒِﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ ﺛُﻢَّ ﻳَﺄْﺗِﻲْ ﺑِﺎﻟﺘَّﻬْﻠِﻴْﻼِﺕَ ﺍﻟْﻮَﺍﺭِﺩَﺍﺕِ ﺣِﻴْﻨَﺌِﺬٍ ﺛُﻢَّ ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻳَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻳُﻜَﺒِّﺮُﻩُ ﺛَﻼﺛًﺎ ﻭَﺛَﻼﺛِﻴْﻦَ ﻭَﻳَﺨْﺘِﻢُ ﺍﻟْﻤِﺎﺋَﺔَ ﺑِﺎﻟﺘَّﻬْﻠِﻴْﻞِ ﻛَﻤَﺎ ﻭَﺭَﺩَ ﻭَﻛَﺬَﺍ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔُ ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟﻰ ﻟَﻪُ ﻭَﻟَﻬُﻢْ وللمسلمين. ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻗَﺪْ ﻋُﺮِﻓَﺖْ ﻋَﺎﺩَﺗُﻪُ؛ ﻻَ ﻳُﻜَﻠِّﻤُﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺿَﺮُﻭْﺭَﺓٍ ﺑَﻌْﺪَ ﺻَﻼﺓِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﻓَﻼَ ﻳَﺰَﺍﻝُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﻳُﺴْﻤِﻊُ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﺭُﺑَّﻤَﺎ ﻳُﺴْﻤِﻊُ ﺫِﻛْﺮَﻩُ ﻣَﻦْ ﺇِﻟَﻰ ﺟَﺎﻧِﺒِﻪِ، ﻣَﻊَ ﻛَﻮْﻧِﻪِ ﻓِﻲْ ﺧِﻼَﻝِ ﺫَﻟِﻚَ ﻳُﻜْﺜِﺮُ ﻓِﻲ ﺗَﻘْﻠِﻴْﺐِ ﺑَﺼَﺮِﻩِ ﻧَﺤْﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ. ﻫَﻜَﺬَﺍَ ﺩَﺃْﺑُﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺮْﺗَﻔِﻊَ ﺍﻟﺸَﻤْﺲُ ﻭَﻳﺰُﻭْﻝَ ﻭَﻗْﺖُ ﺍﻟﻨَّﻬْﻲِ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺼَّﻼﺓِ. ﻭَﻛُﻨْﺖُ ﻣُﺪَّﺓَ ﺇِﻗَﺎﻣَﺘِﻲْ ﺑِﺪِﻣَﺸْﻖَ ﻣُﻼَﺯِﻣَﻪُ ﺟُﻞَّ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﻛَﺜِﻴْﺮﺍً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ. ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳُﺪْﻧِﻴْﻨِﻲْ ﻣِﻨْﻪُ َﺣﺘَّﻰ ﻳُﺠْﻠِﺴَﻨِﻲْ ﺇِﻟَﻰ ﺟَﺎﻧِﺒِﻪِ، ﻭَﻛُﻨْﺖُ ﺃَﺳْﻤَﻊُ ﻣَﺎ ﻳَﺘْﻠُﻮْ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺬْﻛُﺮُ ﺣِﻴْﻨَﺌِﺬٍ، ﻓَﺮَﺃَﻳْﺘُﻪُ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﺍﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔَ ﻭَﻳُﻜَﺮِّﺭُﻫَﺎ ﻭَﻳَﻘْﻄَﻊُ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻮَﻗْﺖَ ﻛُﻠَّﻪُ ـ ﺃَﻋْﻨِﻲْ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﺭْﺗِﻔَﺎﻉِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ـ ﻓِﻲْ ﺗَﻜْﺮِﻳْﺮِ ﺗِﻼَﻭَﺗِﻬَﺎ. ﻓَﻔَﻜَّﺮْﺕُ ﻓِﻲْ ﺫَﻟِﻚَ؛ ﻟِﻢَ ﻗَﺪْ ﻟَﺰِﻡَ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺴُّﻮْﺭَﺓَ ﺩُﻭْﻥَ ﻏَﻴْﺮِﻫَﺎ؟ ﻓَﺒَﺎﻥَ ﻟِﻲْ ـ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ـ ﺃَﻥَّ ﻗَﺼْﺪَﻩُ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﺃَﻥْ ﻳَﺠْﻤَﻊَ ﺑِﺘِﻼَﻭَﺗِﻬَﺎ ﺣِﻴْﻨَﺌِﺬٍ ﻣَﺎ ﻭَﺭَﺩَ ﻓِﻲ ﺍْﻷَﺣَﺎﺩِﻳْﺚِ، ﻭَﻣَﺎ ﺫَﻛَﺮَﻩُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ: ﻫَﻞْ ﻳُﺴْﺘَﺤَﺐُّ ﺣِﻴْﻨَﺌِﺬٍ ﺗَﻘْﺪِﻳْﻢُ ﺍْﻷَﺫْﻛَﺎﺭِ ﺍﻟْﻮَﺍﺭِﺩَﺓِ ﻋَﻠَﻰ ﺗِﻼَﻭَﺓِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﺃَﻭِ ﺍﻟْﻌَﻜْﺲُ؟ ﻓﺮَﺃَﻯ ﺃَﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﻭَﺗِﻜْﺮَﺍﺭِﻫَﺎ ﺣِﻴْﻨَﺌِﺬٍ ﺟَﻤْﻌﺎً ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻟَﻴْﻦِ ﻭَﺗَﺤْﺼِﻴْﻼً ﻟِﻠْﻔَﻀِﻴْﻠَﺘَﻲِﻥْ، ﻭَﻫَﺬَﺍ ﻣِﻦْ ﻗُﻮَّﺓِ ﻓِﻄْﻨَﺘِﻪِ ﻭَﺛَﺎﻗِﺐِ ﺑَﺼِﻴْﺮَﺗٍﻪٍ، ﺍﻫـ ‏(ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺒﺰﺍﺭ، ﺍﻷﻋﻼﻡ ﺍﻟﻌﻠﻴﺔ ﻓﻲ ﻣﻨﺎﻗﺐ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ، ﺹ 39-37/ ).

“Apabila Ibnu Taimiyah sudah selesai shalat shubuh, maka ia berdzikir kepada Allah bersama jamaah yang hadir dengan doa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Allahumma antassalam waminka Assalam…

Lalu ia menghadap kepada jamaah, lalu membaca tahlil-tahlil yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu tasbih, tahmid dan takbir, masing-masing 33 kali. Dan diakhiri dengan tahlil sebagai bacaan yang keseratus. Ia membacanya bersama jamaah yang hadir. Kemudian ia berdoa kepada Allah SWT untuk dirinya dan jamaah serta kaum Muslimin.

Kebiasaan Ibnu Taimiyah telah maklum, ia sulit diajak bicara setelah shalat shubuh kecuali terpaksa. Ia akan terus berdzikir pelan, cukup didengarnya sendiri dan terkadang dapat didengar oleh orang di sampingnya. Di tengah-tengah dzikir itu, ia seringkali menatapkan pandangannya ke langit. Dan ini kebiasaannya hingga matahari naik dan waktu larangan shalat habis.

Aku selama tinggal di Damaskus selalu bersamanya siang dan malam. Ia sering mendekatkanku padanya sehingga aku duduk di sebelahnya. Pada saat itu aku selalu mendengar apa yang dibacanya dan dijadikannya sebagai dzikir. Aku melihatnya membaca al- Fatihah, mengulang-ulanginya dan menghabiskan seluruh waktu dengan membacanya, yakni mengulang -ulang al- Fatihah sejak selesai shalat shubuh hingga matahari naik.

Dalam hal itu aku merenung. Mengapa ia hanya rutin membaca al-Fatihah, tidak yang lainnya? Akhirnya aku tahu –wallahu a’lam–, Bahwa ia bermaksud menggabungkan antara keterangan dalam hadits-hadits dan apa yang disebutkan para ulama; yaitu apakah pada saat itu disunnahkan mendahulukan dzikir-dzikir yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam daripada membaca al-Qur’an, atau sebaliknya? Beliau berpendapat, bahwa dalam membaca dan mengulang-ulang al-Fatihah ini berarti menggabungkan antara kedua pendapat dan meraih dua keutamaan. Ini termasuk bukti kekuatan kecerdasannya dan pandangan hatinya yang jitu.” (Umar Bin Ali Al Bazzar al-A’lam al ‘Aliyyah fi Manaqib Ibni Taimiyah hal. 37-39).

Wallahu Alam


Artikel Terkait