Diskusi Ilmiah Pesantren Sidogiri: Tentang Said Agil, Profesor Doktor Yang Suka Bilang Goblok

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Imam Besar NU Garis Lurus KH. Lutfi Bashori menyampaikan argumentasinya dalam diskusi ilmiah yang diikuti oleh santri senior Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur.

Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, M.A alias SAS dalam satu kesempatan pernah menyatakan, “Kalau kita ini kadang melihat anak berjenggot itu seperti kesebelasan sepakbola. Berjenggot mengurangi kecerdasan. Syarat yang sebenarnya untuk mendukung kecerdasan otak ketarik oleh jenggot. Semakin panjang semakin goblok.”

Pernyataan SAS itu menuai kecaman dan  kontroversi dari berbagai kalangan. Baik melalui media sosial, ceramah-ceramah, maupun diskusi ilmiah. “Yang saya tahu SAS dulu berjenggot. Berarti saat itu dia goblok dong ,” ujar KH. Luthfi Bashori Alwi, yang juga salah satu pengurus MUI Malang, dalam diskusi ilmiah di Pondok Pesantren Sidogiri, Sabtu malam (7/11).

Menurut hemat saya, lanjutnya, tujuan SAS itu objeknya kepada orang Wahabi. Dia sebenarnya ingin mengatakan bahwa jenggot Wahabi itu semakin panjang semakin goblok.
“Tapi SAS yang ngaku professor doktor itu lho tidak bisa ngomong seperti itu. Mana kecerdasan dia. Kok mengatakan jenggot mengurangi kecerdasan secara umum. Dia tidak berani menyatakan jenggotnya orang Wahabi. Saya aja berani meski bukan ketua PBNU. Akhirnya kemakan semuanya. Setiap orang berjenggot dianggap goblok. Padahal pendiri NU, KH. Hasyim Asyari berjenggot. Kan lucu. Ini namanya kontradiksi,” ujarnya.

SAS waktu kuliah di Mekkah memang dekat dengan Wahabi. Buktinya, dalam disertasinya SAS berani mengkafirkan Imam al-Ghazali. Itu kan langkahnya orang-orang Wahabi. SAS seorang Doktor jebolan Universitas Umm al-Qura Mekkah, jurusan Perbandingan Agama, otomatis dapat pesangon dari Saudi yang mayoritas warganya adalah beraliran Wahabi. Maka SAS berani menyerang ulama-ulama Sunni sekelas Imam al- Ghazali, rujukannya adalah kitab al-Qadir. Kitab sesat, mengkafirkan Syekh Abdul Qadir al-Jilani, al Ghazali dan ulama- ulama Sunni lainnya.

Tetapi, dalam satu kesempatan saya pernah berkujung ke kantor PBNU karena ada perlu. Saya disuruh menunggu di ruang tunggu. Ternyata pengurus NU lagi menerima tamu-tamu dari kedutaan Iran. Jadi, PBNU dalam tanda kutip, ‘berselingkuh dengan Iran (Syiah)’. “Saya mengatakan demikian karena saya berani bertanggungjawab kalau pernah melihat dengan mata kepala sendiri,” tegas pengasuh Pesantren Ribath Al Murtadla Singosari Malang Jawa Timur itu.

Pada akhirnya SAS terlibat selingkuh dengan orang-orang Iran (Syiah). Karenanya lagu lama (pro Wahabi) diganti. Umumnya, orang Wahabi anti sufi sedangkan orang Syiah anti orang Wahabi. Sekarang, SAS kontra Wahabi karena dapat dana dari Iran. Makanya dia berani mengkritik orang-orang Wahabi. Tatkala dia selingkuh dengan orang Wahabi yang diganyang adalah ulama- ulama Ahlussunah wal Jamaah. Tetapi cara SAS yang kasar menyatakan semua orang berjenggot goblok tidak mencerminkan tokoh Nasional.

“Bagimana sikap saya? Alhamdulillah apapun yang terjadi jenggot tetap akan saya pelihara sampai ajal menjemput,” kata KH. Luthfi Bashori, santri ulama kharismatik, As-Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasani. [Sidogiri/NUgl]


Artikel Terkait