Didepan Gereja, Lintas Agama Nyalakan Lilin Dan Doa Bersama Demi Gus Dur Pahlawan

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Kelompok lintas iman (lintas agama) dan Gusdurian di Jombang, Jawa Timur, menggelar doa bersama dan tumpengan di Gereja Kristen Indonesia (GKI) setempat. Doa berbau pemurtadan yang dilakukan dengan cara menyalakan lilin itu untuk memperingati hari pahlawan sekaligus pengukuhan Gus Dur sebagai pahlawan Pluralisme, senin malam (9/11/15).

Do’a bersama lintas agama sendiri sudah mendapat fatwa haram dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor:  3/MUNAS VII/MUI/7/2005 Tentang
DO’A BERSAMA, dalam   Musyawarah Nasional   MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H. / 26-29 Juli 2005 M.

Diantara perwakilan elemen yang hadir diantaranya Gus Mamik (PPDU Peterongan), Suudi Yatmo (Lesbumi NU Jombang), Bhikku Nyana Virya (Trowulan), serta Yusuf Wibisono (Ketua PWI Jombang). Kemudian disusul Arif Gumantia (Majelis Sastra Madiun/
GUSDURian Madiun), Pdt. Eddy Kusmayadi (Prasasti), Maria Cikwa (FPK), Yusianto (INTI), Joko Fattah Rochim (FRMJ), Pdt.Simon Filantropa dari GKI Jawa Timur dan Pdt.Andreas Kristianto dari GKI Jombang juga turut hadir dalam acara tersebut.

Pembacaan doa bersama ini diawali oleh pendeta dari agama Kristen dan dilanjutkan agama Budha serta agama lainnya. Usai pembacaan doa, masing masing perwakilan tersebut memberikan apresiasi terhadap sosok Gus Dur. Dimulai dari majelis agung GKJW (Gereka Kristen Jawi Wetan) Jawa Timur diwakili Pendeta Puji, kemudian Jeanny dari Konghucu, serta Biku Nyana Wirya dari Mahavihara Trowulan. Selanjutnya aktivis muda NU Maghfuri Ridwan, Suudi Yatmo dari Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin), serta Pendeta Andreas Kristianto.

Dari paparan tersebut forum menyepakati bahwa Gus Dur sangat layak dianugeri gelar pahlawan. “Gus Dur selalu membela kelompok minoritas. Beliau selalu menghargai perbedaan. Beliau layak diberi gelar pahlawan,” ujar Biku Nyana Wirya.

Biku Nyana Wirya, berharap, Pemerintah segera memberikan gelar pahlawan pluralisme itu kepada Gus Dur. Dia beralasan, Gur Dur layak menyandang gelar tersebut karena menurutnya, perjuangannya yang besar dan menonjol untuk kaum minoritas tanpa memandang suku, agama, ras dan budaya.

“Pada malam hari ini kita wujudkan
pengukuhan tersebut dan kita berharap secepatnya karena dari Menteri sosial Khofifah Indar Parawansa juga sudah mengatakan pengukuhan Gus Dur sebagai pahlawan tinggal menunggu waktu,” kata Nyana Wirya.

Dia juga menyebut peran Gus Dur dalam mengakomodir etnis Tionghoa. Saat orde baru, hak-hak kelompok minoritas seperti warga Tionghoa dipasung. Nah, ketika Gus Dur menjadi presiden, pasungan itu dilepas. Warga Tionghoa boleh merayakan Imlek, kran kesenian Tionghoa dibuka lebar, serta warga bermata sipit ini diperbolehkan menggunakan nama asli.

“Gus Dur selama hidup sangat banyak berbuat untuk kemanusiaan. Mensos Khofifah Indar Parawansa sudah menegaskan kalau gelar pahlawan untuk Gus Dur tinggal menunggu waktu. Makanya kami yakin bahwa Gus Dur adalah pahlawan,” katanya menambahkan.

Sementara itu, Ketua PWI Jombang Yusuf Wibisono mengatakan, ketokohan Gus Dur menjadi tauladan bagi masyarakat Indonesia baik sebagai ulama maupun presiden.

Menurut Yusuf, Gus Dur adalah pendobrak ketika terjadi pengekangan terhadap kebebasan pers. Hal itu diwujudkan Gus Dur dengan membubarkan Departemen Penerangan yang selalu mengintimidasi tentang kebebasan pers.

“Ketika ada pemberedelan pers beliau berada digaris depan untuk melawan. Yakni saat tabloid monitor pada tahun 1990 yang terkena intimidasi dan di beredel pada era orde baru,” kata aktivis pluralisme ini.

Hal yang sama juga diceritakan oleh sahabat dekat Gus Dur, KH Su’udi. Ketua MWC NU Mojoagung dan Padepokan Jagad Besi ini mengatakan, Gus Dur adalah sosok yang sangat sederhana dan bisa dekat dengan siapa saja.

Ketua Lesbumi Jombang ini mengatakan, bahwa Gus Dur sosok yang suka terhadap seni dan tradisi bangsa Indonesia. Tidak suka berbasa-basi. Makanan kesukaan Gus Dur botokan iwak jendil dan soto daging. Kebiasaan Gus Dur suka pergi malam-malam mencari tempat makan,” ungkap KH Su’udi mengenang.

Sementara itu, Koordinator Gusdurian Jatim Aan Anshori, selaku panitia mengatakan, acara tersebut digelar dalam rangka refleksi Hari Pahlawan. Isinya, pengukuhan Gus Dur sebagai pahlawan serta meneguhkan Jombang sebagai kota toleran.

“Namun yang terpenting lagi adalah meneladani sosok Gus Dur, serta terus menggali pemikiran beliau,” pungkas Aan yang juga aktivis pro LGBT atau penyimpangan sek sejenis ini. (DBS)

Keputusan Bahsul Masail Muktamar NU Di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Tentang Haramnya Doa Lintas Agama

Berikut Keputusan Bahtsul Masail al- Diniyah al-Waqi’iyyah Muktamar XXX NU di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, 21-27 Nop. 1999, tentang “Doa Bersama Antar Umat Beragama”

Soal : Bagaimana hukum doa bersama antar berbagai umat beragama yang sering dilakukan di Indonesia?

Jawab: Tidak boleh, kecuali cara dan isinya tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Dasar Pengambilan: (1) Hasyiyah al- Jamal ‘ala Fathil Wahhab Juz V, hlm. 226: Wa’ibaratuhu: walazimanaa man’uhum idhhaarun minkum baynanaa ka-ismaa’ihim iyyaana qaulahum lillaahi tsaalitsu tsalaatsah. (“Menjadi keharusan kita untuk mencegah mereka menampilkan hal tersebut di kalangan kita, semisal mereka memperdengarkan syiar mereka; Allah adalah trinitas.”)

Dasar Pengambilan: (2) Hasyiyah al- Jamal Juz II, hlm. 119: Wa’ibaaratuhu: Laa yajuuzu at-ta’miinu ‘alaa du’aail kaafiri li-annahu ghairu maqbuulin liqaulihi Ta’aalaa: Wa maa du’aaul kafiriina illaa fii dhalaalin. (Dan tidak boleh mengamini doa orang kafir karena doanya tidak diterima dengan firman Allah SWT: Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka” (ar- Ra’du: 14).

Dasar Pengambilan: (3) al-Bujairimi ‘alal Khathib juz IV, hlm. 235: (yang artinya):
“Haram mencintai orang kafir, yakni adanya rasa suka dan kecenderungan hati kepadanya. Sedangkan sekedar bergaul secara lahir saja, hukumnya makruh… adapun bergaul dengan mereka untuk mencegah timbulnya sesuatu mudharat yang tidak diinginkan yang mungkin dilakukan oleh mereka, ataupun mengambil sesuatu manfaat dari pergaulan tersebut, maka hukumnya tidak haram.”

Dasar Pengambilan: (4) Mughnil Muhtaj, Juz I hal. 232, yang juga menegaskan, bahwa haram hukumnya mengamini doa orang-orang kafir, sebab doa orang kafir tidak maqbul. (Wa laa yajuuzu an- yuammina ‘alaa du’aaihim kamaa qaalahu ar-Rauyani li-anna du’aal kaafiri ghairul maqbuuli…).

(Sumber: buku Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam: Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004), penerbit: Lajtah Ta’lif wan-Nasyr, NU Jatim, cet.ke-3, 2007, hal. 532-534). Wallahu a’lam.


Artikel Terkait