Berikut Sebagian Amalan Ajaran Salaf Bukan Salafi Wahabi

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Berikut ini sebagian amalan dan ajalan salafuna shalihin dari ulama salaf yang tetap dilestarikan dan diamalkan tanpa perlu memperdulikan salafi wahabi.

AJARAN ULAMA SALAF, HENDAKLAH DIAMALKAN OLEH UMAT & JANGAN PEDULIKAN LARANGAN KAUM WAHHABI SALAFI

Oleh KH. Luthfi Bashori

Pembahasan anjuran mrngamalkan ajaran para ulama Salaf ini sudah ada sejak jaman dahulu kala, termasuk pembahasan

حَدِيثُ “الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ” أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حبان عن حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ وَضَعَّفَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ فِي الْعِلَلِ وَهُوَ مُضْطَرِبُ الْإِسْنَادِ قَالَهُ الْمُنْذِرِيُّ

Hadits “Ulama adalah pewaris para nabi” diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, dan Ibnu Hibban dari Abu Ad Darda. Didhaifkan oleh Ad Daruquthni dalam Al ‘Ilal, hadits ini isnadnya mudhtharib (guncang), ini dikatakan oleh Al Mundziri. (At Talkhish Al Habir, 3/357)

Syaikh Husein Salim Asad, dia juga mengatakan isnadnya dhaif. (As Sunan Ad Darimi No. 432, Cet. 1. 1407H. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Tetapi, yang lebih kuat adalah bahwa hadits ini tidaklah dhaif karena banyaknya jalan yang saling menguatkan satu sama lain. Berikut keterangan para muhadditsin:

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

رواه الحاكم مصححا من حديث أبى الدرداء و حسنه حمزة الكنانى و ضعفه عندهم باضطراب فى سنده ، لكن له شاهد يتقوى بها
Diriwayatkan oleh Al Hakim secara shahih, dari hadits Abu Ad Darda, dan dihasankan oleh Hamzah Al Kinani dan ada yang mendhaifkannya  bagi mereka hadits ini idhthirab (guncang) dalam sanadnya, tetapi hadits ini memiliki banyak syahid (saksi yang menguatkannya). (Fathul Bari, 1/160)

Imam Muhammad Thahir bin Ali Al Fatani Rahimahullah berkata:

” العلماء ورثة الأنبياء ” صححه جماعة وضعفه آخرون بالاضطراب في سنده لكن له شواهد قال شيخنا له طرق يعرف بها إن للحديث أصلا

“Ulama adalah pewaris para nabi” , dishahihkan oleh jamaah ahli hadits, dan didhaifkan oleh yang lainnya dengan menyebutkan adanya idhthirab pada sanadnya, tetapi hadits ini memiliki syawaahid (saksi penguat). Syaikh kami mengatakan bahwa hadits ini memiliki banyak jalan yang dengannya bisa diketahui bahwa hadits ini memiliki dasar. (Tadzkiratul Maudhu’at, Hal. 20)

Hal senada juga dikatakan oleh Imam As Sakhawi Rahimahullah (Al Maqashid Al Hasanah, 1/459), juga Imam Al ‘Ajluni. (Kasyful Khafa, 2/64)

Mengamalkan suatu amalan baik itu menurut para ulama, tidaklah harus sesuai dengan tekstual ayat Alquran maupun hadits Nabi SAW, sekalipun suatu amalan yang sesuai dengan tekstual ayat Alquran maupun hadits Nabi SAW itu sangatlah mulia. Namun boleh juga mengamalkan suatu amal baik itu berdasarkan pemahaman para ulama salaf.

Hanya kaum Wahhabi Salafi saja yang sering ‘iseng’ melarang umat Islam agar tidak mengikuti ajaran para ulama, termasuk para Ulama Walisongo.

Banyak ajaran kebaikan yang terlahir dari para shahabat Nabi SAW, dan diberlakukan dari masa ke masa oleh umat Islam hingga saat ini, seperti mutiara kata dari:

Shahabat Ibnu Mas’ud: Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah.

Khalifah Ali bin Abi Thalib: Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu.

Khalifah Umar bin Khatthab: Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.

Ajaran yang positif dan baik seperti ini, banyak terdapat dalam buku mutiara kata, buku pembinaan akhlaq maupun buku sastra Arab, dan hingga saat ini masih dipertahankan keberadaannya  oleh umat Islam.  

Termasuk juga ajaran yang terlahir dari para ulama salaf yang generasinya jauh di bawah para shahabat, namun eksistensi ajaran mereka diakui oleh dunia Islam. Misalnya ajaran Imam Hasan Bashri, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi`i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ghazali, dan para imam lainnya, seperti juga ajaran Imam Nawawi yang menyatakan: Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk.

Ada juga ajaran ulama Salaf yang mengkhususkan tema tentang fadhliah amal kebaikan tertentu, seperti yang dilakukan oleh Imam As-Suyuthi beliau berkata;

– Surah Al-Fatihah mencegah kemurkaan Tuhan.
– Surah Yasin mencegah rasa haus di Hari Kiamat.
– Surah Ad-Dukhan mencegah ketakutan-ketakuan di Hari Kiamat.
– Surah Al-Waqiah mencegah kemiskinan dan kemelaratan.
– Surah Al-Mulk mencegah siksa kubur.
– Surah Al-Kautsar mencegah permusuhan lawan-lawan. 
– Surah Al-Kafirun mencegah kekufuran di waktu roh akan dicabut.
– Surah Al-Ikhlash mencegah kemunafikan.
– Surah Al-Falaq mencegah kedengkian orang-orang yang dengki.
– Surah An-Nas mencegah was-was.

Intinya, umat Islam hendaklah selalu mengikuti ajaran Alquran dan Hadits serta ajaran para ulama Salaf, karena semua itu dapat mencetak watak seseorang menjadi jiwa yang shaleh, bahkan dapat mengantarkan seseorang menuju kehidupan yang lebih baik selama di dunia maupun kelak di akhirat.

Wallahu Alam

Sumber Halaman Aswaja Garis Lurus


Artikel Terkait