Prihatin! Ulama Jabar Berpengaruh Ini Juga Keluarkan Maklumat Khittah NU

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Ternyata makin banyak kiai pengasuh pondok pesantren yang prihatin terhadap kondisi NU di bawah KH Said Aqil Siradj. Kali ini giliran KH Zainal Abidin, pengasuh Pondok Pesantren Azzainiyyah Sukabumi Jawa Barat yang merasa prihatin. Kiai bepengaruh di Jawa Barat yang akrab dipanggil Kiai Zezen ini mengeluarkan maklumat penting pasca Muktamar NU ke-33 di alun-alun Jombang Jawa Timur.

Dalam keterangan tertulis yang diterima BANGSAONLINE.COM, Kiai Zezen menegaskan bahwa NU kini mengalami pendangkalan dan pergeseran dari nilai- nilai luhur Khittah NU. Padahal khitah NU, menurut dia, adalah syumul, agung dan mulya.

”Bobot ilmu para tokoh (NU) semakin menurun, akhlakul karimah semakin tidak nampak,” kata Kiai Zezen dalam keterangan tertulisnya yang ditandatangani lengkap dengan stempel Pesantren Azzainiyyah yang diterima BANGSAONLINE.COM

Ia juga mencatat bahwa kini bimbingan kepada umat semakin tidak terasa di akar rumput. “Karena di kalangan tokoh-tokoh NU terjadi pergeseran kepentingan sesaat yang terlepas dari khittah NU,” kata kiai berpengaruh di Jawa Barat itu.

Karena itu ia mengajak seluruh ulama, tokoh NU dan warga NU untuk berpegang teguh pada khitah NU dan melakukan upaya dhahir dan batin agar NU tidak disusupi pemikiran-pemikiran di luar Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) An- Nahdliyah dan ideologi yang merongrong Pancasila, UUD 1945, bhinneka tunggal ika dan NKRI.

Menurut dia, kita harus bersyukur karena pada 1926 Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mendirikan NU sehingga kita mempunyai wadah yang syumul, mencakup seluruh aturan Allah dan Rasulullah. Ia menegaskan bahwa NU memiliki para tokoh yang ahli dalam ilmu dan sangat dalam di wilayah qalbu (hati).

”Sehingga layak disebut pencetak para wali Allah atau pengikut para wali yang baik,” katanya.

Sebelumnya diberitakan BANGSAONLINE.COM bahwa kekecewaan terhadap KH Said Aqil Siraj tampaknya kian meluas. Buktinya, langkah mufaroqoh terhadap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan KH Said Aqil Siraj terus menjalar ke berbagai pesantren di berbagai daerah.

Semula Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur yang mengawali mufaraoqoh terhadap PBNU. Pesantren peninggalan KHR As’ad Syamsul Arifin yang kini diasuh cucunya, KH Ahmad Azaim Ibramy ini menganggap Muktamar NU ke-33 di alun-alun Jombang tak sah karena pelaksanaanya banyak melanggar AD/ ART dan menista para kiai, terutama kiai PCNU dan PWNU.

Sikap memisahkan diri dari PBNU kepemimpinan Said Aqil itu juga dilakukan KH TGH. L. A. Khoiry Adnan, pengasuh Pondok Pesantren Attamimy Brangsak Praya Kab. Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kiai Khoiry Adnan selain pengasuh pesantren besar di Lombok juga Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB.

Ia mengaku telah menerima dan membaca dengan cermat “Maklumat Mufaroqoh” yang ditandatangani oleh KHR. Ach. Azaim Ibrohimy, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur tanggal 21 September 2015, sebagai pelanjut perjuangan Khadratussyekh KHR. As’ad Syamsul Arifin.

”Sangat mengesankan karena keputusan tersebut didasarkan atas pengamatan bathiniyah dan lahiriyah. Dalam hal pengamatan bathiniyah saya ikut melakukan istikhoroh, ternyata isyaratnya sama dengan pendapat KHR. Ach. Azaim Ibrohimy, sedangkan secara lahiriyah saya menyaksikan sendiri bagaimana kemungkaran penyelenggara muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Alun-alun Jombang tersebut,” kata Kiai Khoiry Adnan dalam keterangan tertulisnya yang diterima BANGSAONLINE.COM, Senin (28/9/2015).

Tampaknya gelombang penolakan terhadap Said Aqil Siradj terus membesar dan meluas. “Ini akhirnya NU yang menanggung beban,” kata seorang ketua PWNU kepada BANGSAONLINE.COM. [NUgl]


Artikel Terkait