Mustasyar PCI NU Maroko Sayangkan Sejak Awal Partai Cemari Kirab NU

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Kirab NU dalam acara memperingati Resolusi Jihad NU adalah acara sangat baik dan patut dibanggakan. Namun sangat sayang, sebagaimana yang terjadi dalam kirab NU tahun -tahun sebelumnya, partai kembali cemari dan menanam kepentingan. Itulah yang diungkapkan Mustasyar PCI NU Maroko KH. Nasrullah Afandi MA. Berikut ini pernyataannya seperti dirilis Suara Merdeka.

Kalangan pondok pesantren menyambut suka cita dengan ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai hari santri Nasional. Yang diantara agendanya adalah Kirab
Resolusi Jihad yang di mulai Minggu siang (18/10) start dari Tugu pahlawan Surabaya, di lepas oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj hingga nanti finish di Jakarta pada tanggal 22 Oktober.

Namun sungguh disayangkan, acara itu sudah dicemari kepentingan parpol tertentu.
Hal itu, dikemukakan oleh Mustasyar PCI (Pengurus Cabang Istimewa) NU Maroko, KH Nasrulloh Afandi, MA kepada media.

“Sungguh menyedihkan. Kirab Hari Santri Nasional (Yang baru pertama kali) Diperingati & Dirayakan ini, langsung dicermari oleh kepentingan Partai Politik tertentu. Ruh Resolusi Jihad Pun Pudar” jelasnya.

Padahal, tandas Gus Nasrul  Sapaan akrabnya- Memang, peristiwa resolusi Jihad dipelopori oleh elite-elite NU, namun Momentum Hari Santri Nasional, adalah milik semua elemen bangsa Indonesia.

“Tidak ada komunitas manapun, apalagi partai politik manapun, yang berhak mengklaim momentum itu adalah milik golongannya” Tutur Kandidat Doktor Maqoshid Syariah Universitas Al- Qurawiyin Maroko itu.

“Namun sungguh memprihatinkan, sangat kentara di ruang publik, bahwa peringatan hari santri nasional, di awal kali peringatan ini, sudah tercemari oleh kepentingan partai politik tertentu, ini jelas sebuah fenomena yang sangat memprihatinkan, dan harus segera dihentikan Gerakan parpol itu, sebelum tanggal 22 Oktober sebagai puncak hari Santri Nasional” tandas pria yang juga anggota pengasuh pesantren asy- Syafi’iyyah Kedungwungu, Indramayu Jabar itu. [SuaraMerdeka/NUgl]


Artikel Terkait