Menentang Said Agil Siraj, Pesantren Cipasung Keluarkan Sikap Sangat Tegas Terhadap PBNU

Shortlink:

image

MAKLUMAT: Pengasuh Pondok Pesantren Cipasung Jawa Barat KH. Ahmad Bunyamin Ruhiat, MSI, (tengah) bersama KH. Jamaluddin Mariajang (kanan), Rais Syuriah PWNU Sulawesi Tengah dan KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy (kiri), pengasuh PP Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo.

NUGarisLurus.Com – Pesantren Cipasung yang dipimpin KH. Ahmad Bunyamin Ruhiyat mengeluarkan Maklumat Penegakan Kembali Khittah 1926. Maklumat itu disampaikan bertepatan dengan haul ke-38 KH. Ruhiyat dan haul ke-8 KH Ilyas Ruhiyat melalui forum halaqoh bertema: “Menjernihkan Kembali Ajaran Ahlussunah Waljamaah An-Nahdliyyah” di Pesantren Cipasung,
Tasikmalaya, Rabu (30/9).

Maklumat itu dideklarasikan didasari keprihatinan terhadap kondisi Nahdlatul Ulama (NU) sekarang. Menurut kiai yang akrab dipanggil Abun itu ada dua faktor utama yang mengakibatkan NU kehilangan jati diri dan berkah perjuangan. Kedua hal itu adalah menurunnya akhlakul karimah an- nahdliyyah termasuk yang terjadi dalam Muktamar ke-33 NU di Alun alun Jombang.

“Yang kedua adalah ditinggalkannya prinsip dan nilai Khittah NU yang telah dirumuskan dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama Tahun 1983 di Pesantren Salafiyyah Syafi’iyyah Sukorejo, Situbondo, kemudian disahkan dalam Muktamar NU ke-27 Tahun 1984 di tempat yang sama,” ujar Kiai Abun dalam maklumatnya yang dikirim kepada BANGSAONLINE.com Rabu, (30/9/2015).




Sikap tegas Kiai Abun ini menyentak warga NU. Karena dalam kepengurusan PBNU hasil Muktamar NU ke-33 yang kini digugat ke pengadilan itu nama Kiai Abun diletakkan nomor 1 oleh Said Aqil sebagai A’wan. Ini berarti Kiai Abun justru berseberangan dengan Said Aqil Siraj cs.

Menurut Maklumat itu, dua prinsip pokok yang tercantum dalam Khittah NU tersebut adalah pemurnian dan pengembangan ajaran (manhaj) nahdliyyah dan prinsip kemandirian NU dari ketergantungan kepada partai politik.

Pemurnian artinya hanya mereka yang berideologi dan mempunyai sikap keagamaan ahlussunah waljamaah an- nahdiyyah yang boleh memimpin jami’yyah NU. Sedangkan pengembangan adalah bagaimana manhaj nahdliyyah dikembangkan untuk dapat memenuhi perkembangan zaman.

“Pengembangan ini harus jelas miqat-nya yakni keaslian ajaran Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy`ari. Karena tanpa miqat yang jelas akan terjadi pengubahan dan penggeseran arah dan haluan perjuangan NU, sehingga NU akan menjadi NU yang lain dari aslinya,” papar Kiai Abun.

Selanjutnya yang dimaksud dengan kemandirian adalah tata nilai yang rahmatan lil alamin ala NU seharusnya menjiwai gerakan kebangsaan, termasuk menjiwai seluruh partai-partai politik, bukannya partai politik/firqoh yang lain yang menguasai dan mengendalikan haluan NU.

Menurut maklumat tersebut, proses Muktamar ke-33 NU di Alun-alun Jombang dan produk yang dihasilkannya, baik produk manhaji maupun organisasi, sama sekali tidak mencerminkan danmenjamin tegaknya dua prinsip Khittah NU tersebut.

Dengan demikian, diperlukan adanya sebuah Majelis Penegakan Khittah NU, guna menyelamatkan dan mengembangkan NU menjelang umur satu abad (100 tahun). ”Dan kami menyerukan agar para ulama NU dan warga nahdliyyin mempertahankan dan mengembangkan ajaran ahlussunah waljamaah an-nahdliyyah sesuai dengan prinsip-prinsip Khittah NU,” tegasnya.

Maklumat yang dikeluarkan Pesantren Cipasung ini menambah daftar panjang pondok pesantren yang menyikapi secara tegas terhadap PBNU di bawah Said Aqil Siroj. Sebelumnya, para kiai dan cucu pendiri NU melakukan napak tilas pendirian NU yang intinya menolak kepemimpinan Said Aqil Siroj. Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo yang diasuh KH Azaim Ibrahimy melakukan mufaroqoh terhadap PBNU di bawah kepemimpinan Said Aqil. Bahkan Pesantren Tebuireng secara tegas menolak mengakui PBNU hasil Muktamar NU ke-33 di alun-alun.

Seperti diberitakan, Napak Tilas yang digelar para kiai dan cucu pendiri NU itu diawali di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, kemudian berlanjut di Pesantren Tebuireng Jombang. Lalu dilanjutkan di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo dan Pesantren Assidiqi Putera (Astra) Jember Jawa Timur. [BangsaOnline/NUgl]


Artikel Terkait