Kenapa Muhaddats Wahabi Al Albani Gampang Meremehkan Hadits Dho’if Jika Dari Ulama Aswaja?

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Wahabi hari ini menobatkan diri sebagai “Sebagai PETA BID’AH DUNIA ” sangat anti dan meremehkan Hadits Dho’if apalagi jika dinukil atau diriwayatkan ulama Aswaja. Hadits Dhoif ( berarti lemah ) tidaklah sama dengan Hadits Maudhu’/ Palsu. Hadits meskipun itu dho’if adalah hadits yang bersumber dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bukan hadits yang dikarang-karang atau yang dibuat-buat oleh sembarang manusia. Hanya saja salah satu pemangkunya (sanadnya) ada yang terputus sehingga hadits itu menjadi dhoif, tapi tetap saja hadits dhoif bukan hadits palsu!
Bukan UNTUK DIBUANG DITEMPAT SAMPAH…!!! Wahai orang yang berakal…!!!

Bahkan kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama panutan Wahhabi seperti Ibn Taimiyah, Ibn al-Qayyim dan Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi sebenarnya juga penuh dengan hadits- hadits dha’if dan terkadang pula hadits-hadits maudhu’.

NAMUN, fitnah di buat oleh orang pertama yang menolak terhadap hadits dha’if dalam wilayah apapun termasuk dalam konteks fadha’il al- a’mal adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani, ahli hadits yang sering hadats dari Wahhabi kelahiran Yordania. Al-Albani bukan hanya menolak hadits dha’if, bahkan juga beranggapan bahwa mengamalkan hadits dha’if dalam fadha’il adalah bid’ah dan tidak boleh dilakukan. Lebih dari itu, al Albani juga memposisikan hadits dha’if sejajar dengan hadits maudhu’ seperti dapat dibaca dari judul bukunya, Silsilat al-Ahadits al Dha’ifah wa al- Maudhu’ah wa Astaruha al-Sayyi’ lil-Ummah (serial hadits-hadits dha’if dan maudhu’ serta dampat negatifnya bagi umat). Itu artinya dulu dia belajar hadits otodidak tapi tidak paham ilmu ‘Mustholah Al Hadits’.

Permasalahan yang menyangkut hadits dhaif sebenarnya sudah selesai sejak berabad-abad lalu. Jumhur mayoritas ulama yang mu’tabar dari Ahlus Sunnah Wal Jama’ah empat 4 mazhab telah sepakat bulat bahwa hadits-hadits dhaif boleh digunakan sepanjang untuk fadhilah amal, untuk memotivasi agar orang lebih terdorong untuk beramal, bukan untuk masalah aqidah dan menetapkan hukum syara’.

Ulama-ulama hadits terkemuka pada jaman dulu juga mencantumkan hadits-hadits dhaif ini ke dalam kitab-kitab hadits mereka, misalnya Sunan At Tirmidzi, Al-Baihaqi, Al-Mustadrak Imam Hakim, Mishkat Al-Masabih dan lain- lainnya. Bahkan Imam Bukhori sendiri yang terkenal dengan kitabnya yang paling sohih setelah Al Qur’an juga banyak memuat hadits dhaif dalam salah satu kitab beliau, Al-Adabul Mufrad. Hal ini juga diikuti oleh ulama-ulama berikutnya seperti al -Thabarani, Abu Nu’aim, al-Khathib al-Baghdadi, al-Baihaqi dan lain-lain. Sehingga kemudian tidaklah aneh apabila kitab-kitab tashawuf dan adzkar yang memang masuk dalam wilayah fadha’il al-a’mal seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din, karya al Ghazali, al-Adzkar karya al-Nawawi dan semacamnya banyak mengandung hadits-hadits dha’if.

Semua madzhab Imam yang Empat yakni Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali sepakat bahwa hadits dhoif tidak boleh dibuang semuanya, karena hadits dhoif adalah hadits Rasulullah yang berderajat dhoif, bukan hadits maudhu’ atau palsu karena palsu bukanlah hadits. Imam Hambali Ahmad Bin Hanbal, yang katanya madzhabnya dipakai di Saudi Arabia dalam Mahkamah Syari’ah di sana, memutuskan bisa mengambil hukum dengan bersandar pada hadits dhoif sekalipun, jika saja tidak didapati ada hadits yang shohih dalam perkara tersebut. Imam Syafi’i memakai hadits dhoif sebagai penyemangat dalam beramal (fadhoilul a’mal). Demikian juga halnya Imam Hanafi dan Imam Maliki.

Beda Cara Pembelaan Ulama Aswaja Ibnu Hajar Dan Wahabi Al Albani

Dalam kitab hadits musnad Imam Ahmad Bin Hanbal banyak juga ditemukan hadits dhoif bahkan menurut sebagian ulama wahabi menyebutnya maudlu’, Namun pembelaan terhadap Imam Ahmad Bin Hanbal justru datang dari ulama Aswaja Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani Asy Syafi’i fiqhan Al ‘Asyari mazhaban Rahimahullah yang mendapat julukan ‘Amirul Mukminin fil hadits’. Selain penulis kitab Syarakh Shahih Bukhari Fath Al Bari beliau juga menulis kitab pembelaan buat Musnad Imam Ahmad Bin Hanbal. Berikut kutipannya;

ﻭﻗﺪ ﺛﺒﺖ ﻋﻦ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺃﻧﻬﻢ ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﺇﺫﺍ ﺭﻭﻳﻨﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻼﻝ ﻭﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﺷﺪﺩﻧﺎ ، ﻭﺇﺫﺍ ﺭﻭﻳﻨﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻀﺎﺋﻞ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ﺗﺴﺎﻫﻠﻨﺎ .” ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ( ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺴﺪﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺬﺏ ﻋﻦ ﻣﺴﻨﺪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ص. ١١)

“Sudah tetap datang dari Imam Ahmad dan selainnya dari para Imam -Imam, Sesungguhnya mereka berkata: “Ketika kami meriwayatkan hadits dalam perkara halal dan haram kami melakukan riwayat dengan ketat (harus shohih dan tidak gampang meriwayatkan hadits dhoif). Dan jika kita meriwayatkan hadits dalam rangka Fadhoil Al A’mal untuk keutamaan beramal dan sejenisnya kami meriwayatkan hadits dengan gampang (termasuk riwayat yang dhoif). Selesai perkataan Imam Ibnu Hajar Al Asqolani Asy Syafi’i dalam kitabnya Al Qoul Al Musaddid Fiz Azdabi An Al Musnadi Al Imam Ahmad.

Lalu Bagaimana Tanggapan Al Albani?

Jika ada hadits dhoif berasal dari para Imam Aswaja yang pemikirannya berseberangan dengan aqidah wahabi seperti Imam Asy Syuyuti Asy Syafi’i Al Asy’ari penulis kitab hadits Jami’ Ash Shogir, Al Albani langsung dengan gaya ‘Sok Pintar’ menyeleksi ulang kitab Asy Suyuthi yang sudah diseleksi sendiri oleh penulisnya dan bilang ini dhoif, ini maudlu’ palsu dll.

Namun bagaimana dengan Musnad Imam Ahmad ? Al Albani melakukan pembelaan untuk musnad Imam Ahmad Bin Hanbal karena ketidakadilan dan kedunguan seorang Albani dalam ilmu hadits. Berikut pembelaannya terhadap Imam Ahmad Bin Hanbal dengan cara menyalahkan bahwa itu kesalahan putranya bernama Abdullah bin Ahmad bin Hanbal.

ﺱ‏) – ﻫﻞ ﻣﺴﻨﺪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ ﺍﻟﺼﺤﺎﺡ؟

ﺇﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻟﻢ ﻳﺤﺘﺞّ ﺑﻜﻞ ﺭﺍﻭٍ ﻭﺑﻜﻞ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﻓﻲ ‏[ ﻣﺴﻨﺪﻩ‏]، ﻷﻥ ‏[ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ ‏] ﻟﻴﺲ ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ ﺍﻟﺼﺤﺎﺡ، ﻭﻻ ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺴﻨﻦ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﻘﻊ ﻓﻴﻬﺎ ﺑﻴﺎﻥ ﻣﻦ ﻳﺤﺘﺞّ ﺑﻪ ﻣﻤﻦ ﻻ ﻳﺤﺘﺞّ ﺑﻪ ﻭﻟﻮ ﺃﺣﻴﺎﻧﺎ. ﺗﺨﺮﻳﺞ ‏[ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺴﻨﺔ‏] ﻻﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺎﺻﻢ ‏( 1/226: ‏).

ﺱ ‏)- ﻫﻞ ﻣﻌﻨﻲ ﺫﻟﻚ ﺍﻥ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ ﻛﻠﻬﺎ ﺃﻗﻞ ﺩﺭﺟﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺍﻟﺼﺤﺔ؟

ﺑﻞ ﻳﻔﻮﻕ ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ ﺃﺣﻴﺎﻧﺎ ﺑﻌﺾ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﺔ. ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻛﻼﻡ ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺎﻋﺚ ﺍﻟﺤﺜﻴﺚ ‏(1/109).

Al Albani ditanya apakah Musnad Imam Ahmad bin Hanbal termasuk kitab hadits Shohih?

Al Albani menjawab: Imam Ahmad tidak menggunakan semua hadits dan semua rowi sebagai hujjah terhadap semua hadits yang ada dalam musnad Imam Ahmad. Karena Al Musnad bukan termasul kitab shahih dan juga bukan kitab sunan yang didalamnya terdapat penjelasan dari apa yang terkadang bisa dibuat hujjah dan terkadang tidak. Al Albani menukil katanya jawaban ini dari Ibnu Ashim.

Lalu Al albani ditanya, Apakah itu artinya semua hadits dalam kitab Al Musnad keshahihannya ada di bawah dua kitab Shahih Bukhari Muslim?

Bahkan terkadang keshahihannya melebihi kitab Shahih bukhari Muslim ( Selesai jawaban Al Albani dalam kitab Ba’its Al Hasits). Lihat kedunguan jawabannya.

Berikut ini pertanyaan lain untuk Al Albani;

ﺱ ‏)- ﻫﻞ ﻳﻮﺟﺪ ﻓﻲ ﻣﺴﻨﺪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺍﺣﺎﺩﻳﺚ ﺿﻌﻴﻔﺔ؟

ﻣﺴﻨﺪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ؛ ﻓﻬﻮ ﻟﻐﺰﺍﺭﺓ ﻣﺎﺩﺗﻪ ﺗﻜﺜﺮ ﻓﻴﻪ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﻀﻌﻴﻔﺔ، ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻤﺎ ﻻ ﺧﻼﻑ ﻓﻴﻪ ﻋﻨﺪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ. ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﻌﺮﺍﻗﻲ : ﻭﺃﻣﺎ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﻀﻌﻴﻒ ﻓﻴﻪ ﻓﻬﻮ ﻣﺤﻘﻖ، ﺑﻞ ﻓﻴﻪ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﻣﻮﺿﻮﻋﺔ ﺟﻤﻌﺘﻬﺎ ﻓﻲ ﺟﺰﺀ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺹ 100 . ﺛﻢ ﻧﻘﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺃﻧﻪ ﺭﺩّ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ : ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺴﺪﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺬﺏ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ ﻗﻮﻝ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺑﺄﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﻣﻮﺿﻮﻋﺔ. ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻛﻼﻡ ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ ﺍﻟﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﻮﻃﻲ.(ﺩﻓﺎﻉ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻨﺒﻮﻱ‏).

Apakah ditemukan dalam kitab Al Musnad Ahmad hadits dhoif?

Al Albani menjawab: Musnad Imam Ahmad karena kedalaman pemikirannya banyak terdapat didalamnya hadits dhoif. Dan ini adalah sesuatu yang tidak di perkhilafkan oleh Ahli Ilmu. Berkata Al Hafidz Al Iraqi: adapun didalamnya ada hadits dhoif itu suatu kenyataan. Selanjutnya Al Albani bahkan mengaku sudah mengumpulkan hadits maudlu’ atau palsu dari kitab Al Musnad dalam satu juz yang katanya disebutkan oleh Imam Syuyuti dalam kitabnya hal. 100. Selanjutnya Albani menukil pendapat Ibnu Hajar yang sudah membela Imam Ahmad dalam kitabnya bahwa tidak ada dalam kitab Al Musnad yang ma’udlu atau palsu. (Selesai perkataan ngawur ngalor ngidul Albani yang bilang sudah ngumpulin hadits maudlu’ tapi berkata membela kutipan Ibnu Hajar. Omongan Albani ini ada dalam kitabnya yang menyerang Syekh Al Bhuti).

Lihatlah…. Cara ngawur yang katanya ‘Muhaddits’ Wahabi ini…!

Ini pernyataan lebih ngawur lagi yang justru menyalahkan Abdullah putra Imam Ahmad karena dialah sebenarnya yang menambah -nambahi kitab Musnad Imam Ahmad.

ﺱ ‏)- ﻣﺎ ﻫﻮ ﺍﻟﺴﺒﻴﻞ ﻟﻤﻌﺮﻓﺔ ﺯﻳﺎﺩﺍﺕ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﻓﻲ ﻣﺴﻨﺪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ؟

ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﻠﻮﻡ ﺃﻥ ﻣﺴﻨﺪ ﺃﺣﻤﺪ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺮﻭﻳﻪ ﻋﻨﻪ ﺍﺑﻨﻪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﻳﺮﻭﻳﻪ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﻘﻄﻴﻌﻲ – ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ – ، ﻓﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺃﺣﻤﺪ ﻓﻴﻪ؛ ﻓﻼ ﺑﺪ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﺬﻛﺮ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﺳﻤﻪ، ﻭﻫﻲ – ﻋﺎﺩﺓ – ﺗﻜﻮﻥ ﻣﺼﺪﺭﺓ ﺑﻘﻮﻝ ﺍﻟﻘﻄﻴﻌﻲ: ‏( ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻲ .. ‏)، ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻮﻉ ﻫﻮ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﻋﻠﻰ ‏[ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ ‏]، ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺯﻳﺎﺩﺍﺕ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ؛ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻘﻄﻴﻌﻲ ﻓﻴﻬﺎ: ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ: ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻓﻼﻥ ﺑﻦ ﻓﻼﻥ .. ‏) ﻳﺴﻤﻲ ﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻮ ﻏﻴﺮ ﺃﺑﻴﻪ. . ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻛﻼﻡ ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺬﺏ ﺍﻷﺣﻤﺪ ﻋﻦ ﻣﺴﻨﺪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ.

ﺱ ‏)- ﻫﻞ ﺯﻳﺎﺩﺍﺕ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﺬﻩ ﻛﺘﺎﺑﺎ ﺧﺎﺻﺎ؟

ﺯﻳﺎﺩﺍﺕ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﺬﻩ ﻟﻴﺴﺖ ﻛﺘﺎﺑﺎ ﺧﺎﺻﺎ ﺃﻟﻔﻪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻫﻲ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺳﺎﻗﻬﺎ ﻓﻲ ‏[ ﻣﺴﻨﺪ‏] ﺃﺑﻴﻪ ﻳﺮﻭﻳﻬﺎ ﻋﻦ ﺷﻴﻮﺥ ﻟﻪ ﺑﺄﺳﺎﻧﻴﺪﻫﻢ ﻋﻨﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﺗﺘﻤﻴﺰ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺍﺕ ﻋﻦ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ‏[ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ‏] ﺑﺎﻟﺘﺄﻣﻞ ﻓﻲ ﺷﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺃﻱّ ﺣﺪﻳﺚ ﻓﻴﻪ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ؛ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ‏[ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ‏] ، ﻭﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻮﻉ ﻳﻘﺎﻝ ﻓﻴﻪ: ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ‏)، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻋﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﺑﻴﻪ؛ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺯﻳﺎﺩﺍﺗﻪ ﻓﻲ ‏[ﻣﺴﻨﺪ‏] ﺃﺑﻴﻪ، ﻭﻓﻴﻪ ﻳﻘﺎﻝ:‏( ﺭﻭﺍﻩ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺯﻳﺎﺩﺍﺗﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ ‏) .. ﻓﻴﺠﺐ ﺍﻟﺘﻨﺒّﻪ ﻟﻬﺬﺍ، ﻓﻜﺜﻴﺮﺍ ﻣﺎ ﺍﺧﺘﻠﻂ ﺍﻷﻣﺮ ﻋﻠﻰ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺤﻔّﺎﻅ ﻓﻀﻼ ﻋﻦ ﻏﻴﺮﻫﻢ، ﻓﻴﻌﺰﻯ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻷﺣﻤﺪ ﻭﻫﻮ ﻻﺑﻨﻪ.ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻛﻼﻡ ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺏ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ﻭﺍﻟﺘﺮﻫﻴﺐ. ‏(1/151)

Inti perkataan Al Albani diatas adalah agar dibedakan mana yang asli Musnad Imam Ahmad dan mana yang tambahan dari putranya Abdullah. Pembelaan ngawur yang karena ingin membela Imam Ahmad justru tidak jujur dalam keilmuan hadits.

Sebagai contoh: Imam Hambali Ahmad Bin Hanbal mengambil hukum bersentuhnya kulit antara pria dan wanita dewasa yang bukan mahrom membatalkan wudhu’. Padahal hadits ini kedudukannya dhaif, diriwayatkan dari Aisyah ra. Meskipun demikian ulama empat mazhab tidak pernah menyesatkan Imam Hambali Ahmad Bin Hanbal atas tindakan beliau yang mengutip hadits dhaif sebagai dalil untuk menegakkan hukum (hujjah). Kenapa hadits dhoif tidak serta merta dibuang? Logikanya begini…!

Imam Hambali Ahmad Bin Hanbal umpamanya. Beliau menghafal sejuta hadits lengkap dengan sanad-sanadnya. Namun kenyataannya, hadits yang beliau hafal itu hanya sempat dituliskan sebanyak 27.688 buah hadits. Nah, kemana perginya yang 970 ribuan hadits lagi? Semua yang tersisa itu Tentu karena TIDAK DAPAT DITULISKAN, BUKAN KARENA DIBUANG begitu saja! Hal ini disebabkan karena kesibukan sang Imam dalam mengajar sehari-hari, menjawab pertanyaan masyarakat, memberi fatwa dan juga beribadah untuk dirinya sendiri. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Imam Hambali Ahmad Bin Hanbal setiap malam melakukan sholat sekitar 300 rakaat banyaknya. Belum lagi karena keterbatasan peralatan saat itu. Kertas belum banyak, juga tinta dan pena masih sangat sederhana. Sementara mesin ketik, alat cetak, apalagi computer sama sekali belum ada. Sebab itulah sedikit sekali hadits yang beliau hafal itu yang sempat ditulis dan sampai kepada kita.

Namun demikian, tidaklah serta merta hadits- hadits yang tidak sempat ditulis itu terbuang dan hilang begitu saja. Para murid yang setiap hari bergaul dengan sang guru pasti sempat memperhatikan dan menghafal setiap gerak langkah sang guru. Dan, gerak langkah sang guru ini pastilah sesuai dengan tuntunan sejuta hadits yang beliau hafal di dadanya. Sehingga kelak setelah sang guru wafat para muridnya mulai menulis dalam berbagai masalah dengan rujukan perilaku atau fiil perbuatan sang guru tersebut. Prilaku dan tindakan sang guru tersebut kemudian hari dituliskan juga sebagai hadits yang terwarisi oleh kita sehingga kini.

Dalam rangka memilah dan memilih hadits dhaif para ulama hadits empat mazhab membagi-baginya dalam berbagai bagian. Ada yang membaginya ke dalam 42 bagian, ada yang membaginya menjadi 49 bagian dan ada yang membaginya ke dalam 89 bagian. Hadits-hadits inilah yang dipilah dan dipilih dan sebagiannya dapat diamalkan juga karena dhaifnya tidak keterlaluan.

Ulama hadits bukanlah sembarangan orang. Mereka memiliki ukuran tersendiri agar masuk ke dalam golongan ulama hadits. Ada ulama hadits yang sampai derajat al hafizh, yakni mereka yang telah menghafal 100 ribu hadits lengkap dengan sanad-sanadnya. Di atas derajat al hafizh ada yang disebut ulama al hujjah, yakni mereka yang menghafal 300 ribu hadits beserta sanad -sanadnya. Di atas kedua derajat ini ada lagi yang dinamai al hakim, yakni yang kemampuannya diatas hafizh dan hujjah. Dahsyat bukan?

Sayangnya, ada segelintir manusia akhir zaman, yang mana dia bukan seorang al hafizh, bukan pula seorang al hujjah apalagi seorang al hakim, tetapi anehnya mereka berani bersuara lantang mengkritik dan menuduh sesat amal serta keputusan ulama-ulama hadits terdahulu. Kata mereka hadits ini dhoif lemah, hadits itu maudlu’, hadits ini palsu, hadits ini munkar menyalahi pendapat ahli hadits tempo dulu, padahal mereka tidak pernah sekalipun bertemu dengan salah seorang pemangku (sanad) dari hadits yang mereka kritik itu. Sementara yang mereka caci itu justru orang-orang yang pernah kenal, bertemu dan bergaul langsung dengan para sanad tersebut.

Lantas, ketika mereka sudah mengatakan sanad ini dan sanad itu terpercaya, tiba-tiba muncul manusia yang lahir entah zaman kapan dan hanya bermodal membaca buku di perpustakaan, seenaknya saja menyalahkan ulama-ulama hadits tempo dulu, dan merasa paling benar. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!. Lalu mereka yang manakah yang patut kita percaya?

Hadits dha’if yang sebelumnya dianjurkan diamalkan oleh para ulama salaf dan khalaf, kini hanya karena seorang al Albani menganggapnya bid’ah dan berdampak negatif bagi umat. Secara tidak langsung, al- Albani berarti telah menghujat seluruh ahli hadits sejak generasi salaf yang meriwayatkan hadits-hadits dha’if dalam kitab-kitab mereka termasuk Ibnu Taimiyyah dan murid  muridnya dan memberi contoh yang negatif bagi umat.

Wallahu a’lam.


Artikel Terkait