Kekeliruan Wahabi Dan Kekolotan Pemahaman Lafadh كل بدعة ضلالة

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Berikut ini tulisan lengkap pembahasan tentang kesalahpahaman dan kekolotan sekte wahabi memahami hadits كل بدعة ضلالة . Sehingga mudah menjadi Ahli Bid’ah karena sering menuduh bid’ah.

image

PEMAHAMAN LAFADZ KULLU كل  VERSI WAHABI YANG KOLOT

Bagi para penuntut ilmu yang sudah pernah mempelajari ilmu mathiq di pesantren Salafiyyah (pesantren klasik NU), Bahwa menurut istilah ilmu manthiq arti kata KULLU sudah
sangat dimaklumi pengertiannya, yaitu:

1- Ada kata “kullu” yang berarti “setiap/tiap-tiap/semua″ ini disebut “kullu kulliyah”

2- Ada kata “kullu” yang berarti “sebagian” yang disebut “kullu kully”

PERTAMA

Syikil awal
ﻛﻞ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﺑﺪﻋﺔ ﻭﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ

Kullu beridhofah kepada Nakiroh, Dan khobarnya dengan nakiroh dan khobarnya juga mufrad, Bukan  jumlah.

Syikil awal had wasathnya yaitu mahmul kepada shugro dan maudhu kepada kubro, Maka natijahnya kulliyah mujabah.

Natijah syikil awal adalah
ﻛﻞ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﺿﻼﻟﺔ

Idhofatnya tetap dengan nakiroh, Khobarnya juga mufrad dan nakiroh.

Adapun  lafadh,

كل ضلالة في النار

Ini ada perbedaan dengan kullu sebelumnya, Karena khobarnya dengan memakai huruf jar yang menyebabkan ada jumlah di sana atau ghoiru mufrad, Tidak bisa disamakan dengan kullu sebelumnya.

Makanya ulama yang Alim seperti Al Imam An – Nawawi akan bilang bahwa itu عام مخصوص. Kecuali ulama kolot wahabi yang kelahiran badui nejd pasti salah kaprah.

Mungkin mereka akan bantah dengan KULLU dalam Al Qur’an secara sepotong -potong?!

Kita akan beberkan:

ﻛﻞ ﻧﻔﺲ ﺫﺍﺋﻘﺔ ﺍﻟﻤﻮﺕ

Walaupun kullu beridhofah kepada nakiroh seperti yang di atas, Tapi lihat khobarnya. Khobarnya itu adalah sesuatu yangg beridhofah kepada alif lam yaitu makrifah. Sedangkan kullu diatas khobarnya nakiroh, Tidak bisa di samakan juga kalo dengan pendapat Imam An Nawawi yang pertama. Apalagi disini kullu nya cuma sekali/ tidak bermurakkab, Jadi langsung itu natijahnya. Tidak perlu ada qiyas lagi. Jadi ini sama sekali tidak bisa di samakan dengan yang pertama.

Dalam kitabnya Al Ibda’ Fi Kamalis Syar’i Wa Khothor al Ibtida’  Ulama Wahabi Syekh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin berkata secara jujur tentang KULLU dalam Al Quran yang pasti butuh pengecualian:

ﺍَﻥَّ ﻣِﺜْﻞَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﺘَّﻌْﺒِﻴْﺮِ ( ﻛُﻞُّ ﺷَﻴْﺊٍ ) ﻋَﺎﻡٌّ ﻗَﺪْ ﻳُﺮَﺍﺩُ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﺨَﺎﺹُّ , ﻣِﺜْﻞُ ﻗَﻮْﻟِﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻋَﻦْ ﻣَﻠَﻜَﺔِ ﺳَﺒَﺄٍ : ( ﻭَﺃُﻭْﺗِﻴَﺖْ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺷَﻴْﺊٍ ) ﻭَﻗَﺪْ ﺧَﺮَﺝَ ﺷَﻴْﺊٌ ﻛَﺜِﻴْﺮٌ ﻟَﻢْ ﻳَﺪْﺧُﻞْ ﻓِﻲ ﻣُﻠْﻜِﻬَﺎ ﻣِﻨْﻪُ ﺷَﻴْﺊٌ ﻣِﺜْﻞُ ﻣُﻠْﻚِ ﺳُﻠَﻴْﻤَﺎﻥَ .

Sesungguhnya redaksi seperti ini “  (segala sesuatu) adalah kalimat general yang terkadang dimaksudkan pada makna terbatas, seperti firman Alloh tentang ratu Saba’; “Ia dikaruniai segala sesuatu” (QS, An Naml: 23). Sedangkan banyak sekali sesuatu yang tidak masuk dalam kekuasaannya, seperti kerajaan Nabi Sulaiman. (Syeh al ‘Utsaimin, ,hal 336)

Kita lihat Sang Syekh mengacu pada kenyataan, bahwa tidak semua berada dalam kekuasaan ratu Saba’, karena kenyataannya banyak yang tidak masuk dalam kekuasaannya termasuk kerajaan Nabi Sulaiman. Pertanyaannya, mengapa beliau dan pengikut kolotnya tidak melakukan hal yang sama (melihat kenyataan) pada hadits “”. Terlebih jika memperhatikan hadits-hadis yang lain…???

Contoh Hadits:

ﻛﻞ ﻣﺴﻜﺮ ﺧﻤﺮ ﻭﻛﻞ ﻣﺴﻜﺮ ﺣﺮﺍﻡ

Orang cerdas pasti tahu bahwa tidak semua yang memabukkan bisa disebut Khomr. Seperti minum bensin, Oli, Gas, Makan kecubung dll.

Contoh Hadits lain:

كلطم راع وكلكم مسؤل عن راعيته

Tentunya anak kecil, orang gila dll tidak termasuk. karena kaidah masyhur mengatakan كل قاعدة مستسنيات Setiap kaidah pasti ada pengecualian begitu juga hadits كل بدعة.

Adapun sebagai contoh “kullu kully”, adalah firman Allah: “wa ja’alnaa minal maa’i kulla syai’in hayyin” yang artinya “Dan telah kami jadikan dari air SEBAGIAN makhluk hidup”. Dalam ayat ini kalau kata “kulla syai’in” diartikan “setiap/semua” maka akan kontra (bertentangan) dengan kenyataan bahwa ada makhluk hidup yang
dijadikan Allah tidak dari air. Ada makhluk yang dijadikan dari cahaya seperti malaikat, dan ada yang dijadikan dari api; contohnya jin juga syetan dijadikan dari api.

Sebagaimana firman Allah: “wa kholaqol jaanna min maarijin min naar” yang artinya “Dan Allah telah menjadikan jin itu dari api” Dari uraian di atas maka sudah jelaslah bahwa arti “kullu” itu ada dua yaitu “setiap/semua″ dan “sebagian”. Dalam mengartikan “KULLU” tidak bisa serampangan begitu saja, tetapi harus melihat kontek kalimatnya agar nantinya tidak menjadi kontra dengan realitas, fakta atau kenyataan yang ada.

Oleh karena itu menjadi sangat mengherankan apa yang selama ini
diperlihatkan oleh kaum wahabi yang bangga dengan kesalahan dan kekolotan dalam mengartikan “kullu” tanpa melihat kontek kalimat, sehingga mereka memaksakan arti “setiap/ semua” untuk kata KULLU dalam hadits BID’AH tersebut. Sehingga mereka ngotot menggunakan dalil “kullu bid’atin dlolalah” sebagai alat untuk membid’ahkan (baca: mengharamkan) apa saja yang tidak ada contohnya dari Nabi. Ini karena mereka menganggap semua/setiap bid’ah itu sesat tanpa kecuali.

Tentunya ini kontra dengan kenyataan dan realitas bahwa ternyata ada bid’ah (hal baru) yang baik (hasanah). Sampai-sampai sayyidina Umar RA memuji bid’ah “NI’MATUL BID’ATU HADZIHI; alangkah bagus bid’ah ini”.

Sesuai pendapat Imam An Nawawi, Amirul Mukminin Fil Hadits Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar al ‘Asqolani dalam Fathul Bari berkata :

ﻭَﺍﻟْﻤُﺮَﺍﺩُ ﺑِﻘَﻮْﻟِﻪِ ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٌ ﻣَﺎ ﺃُﺣْﺪِﺙَ ﻭَﻟَﺎ ﺩَﻟِﻴْﻞَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﺑِﻄَﺮِﻳْﻖٍ ﺧَﺎﺹٍّ ﻭَﻟَﺎ ﻋَﺎﻡٍّ

Dan yang dikehendaki dengan Hadits Kullu Bid’atin Dholalah adalah Perkara yang diadakan dan baginya tidak terdapat dalil (yang bersumber) dari syara’, baik dengan jalan Khusus maupun dalil umum. ( Fathul Bari Syarah Shohih Al Bukhori , vol. 13, hlm. 254)

Al ‘Allamah Muhammad Abdur Rouf al Manawi dalam Faidhul Qodir :

ﻭَﻗَﻮْﻟُﻪُ – ﻭَﻛُﻞُّ… ﺇِﻟَﻰ ﺁﺧِﺮِﻩِ – ﻋَﺎﻡٌ ﻣَﺨْﺼُﻮْﺹٌ

Dan adapun Sabda Rosul “Wa Kullu”‘ dst.. adalah ‘Am Makhsush ( Faidhul Qodir syarah Al Jami’us Shoghir , vol. 2, hlm. 217,

Sebenarnya Syekh Wahabi Al Utsaimin secara tidak langsung mengakui hal ini, berikut pernyataan beliau selanjutnya :

ﺍَﻟْﺎَﺻْﻞُ ﻓِﻲ ﺍُﻣُﻮْﺭِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺍَﻟْﺤِﻞُّ ﻓَﻤَﺎ ﺍُﺑْﺘُﺪِﻉَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺣَﻠَﺎﻝٌ ﺍِﻟَّﺎ ﺍَﻥْ ﻳَﺪُﻝَّ الدَّﻟِﻴْﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﺗَﺤْﺮِﻳْﻤِﻪِ , ﻟَﻜِﻦْ ﺍُﻣُﻮْﺭِ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﺍَﻟْﺎَﺻْﻞُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺍﻟْﺤَﻈَﺮُ ,ﻓَﻤَﺎ ﺍُﺑْﺘُﺪِﻉَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺣَﺮَﺍﻡٌﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﺍِﻟَّﺎ ﺑِﺪَﻟِﻴْﻞٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺸْﺮُﻭْﻋِﻴَّﺘِﻪِ

Hukum asal dalam perkara perkara dunia adalah halal, maka inofasi (bid’ah) dalam urusan dunia adalah halal, kecuali ada dalil yang menunjukkan ke-haram- annya. Tetapi hukum asal dalam urusan agama adalah terlarang, maka apa yang diadakan (bid’ah) dalam urusan-urusan agama adalah haram dan bid’ah, kecuali ada dalil dari al Kitab dan Sunnah yang menunjukkan kemasyru’annya. (Syeh al ‘Utsaimin Syarah al Aqidah al Wasithiyyah hal 639-640)

ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﻮَﺍﻋِﺪِ ﺍﻟْﻤُﻘَﺮَّﺭَﺓِ ﺍَﻥَّ ﺍﻟْﻮَﺳَﺎﺋِﻞَ ﻟَﻬَﺎ ﺍَﺣْﻜَﺎﻡُ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺻِﺪِ , ﻓَﻮَﺳَﺎﺋِﻞُ ﺍﻟْﻤَﺸْﺮُﻭْﻉِ ﻣَﺸْﺮُﻭْﻋَﺔٌ, ﻭَﻭَﺳَﺎﺋِﻞُ ﻏَﻴْﺮِ
ﺍﻟْﻤَﺸْﺮُﻭْﻉِ ﻏَﻴْﺮُ ﻣَﺸْﺮُﻭْﻋَﺔٍ , ﺑَﻞْ ﻭَﺳَﺎﺋِﻞُ اﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡِ ﺣَﺮَﺍﻡٌ , ﻓَﺎﻟْﻤَﺪَﺍﺭِﺱُ ﻭَﺗَﺼْﻨِﻴْﻒُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻭَﺗَﺄْﻟِﻴْﻒُ ﺍﻟْﻜُﺘُﺐِ ﻭَﺍِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺑِﺪْﻋَﺔً ﻟَﻢْ ﻳُﻮْﺟَﺪْ ﻓِﻲ ﻋَﻬْﺪِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻠَﻰ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻮَﺟْﻪِ ﺍِﻟَّﺎ ﺍَﻧَّﻪُ ﻟَﻴْﺲَ ﻣَﻘْﺼَﺪًﺍ ﺑَﻞْ ﻫُﻮَ ﻭَﺳِﻴْﻠَﺔٌ, ﻭَﺍﻟْﻮَﺳَﺎﺋِﻞُ ﻟَﻬَﺎ ﺍَﺣْﻜَﺎﻡُ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺻِﺪِ, ﻭَﻟِﻬَﺬَﺍ ﻟَﻮْ ﺑَﻨَﻰ ﺷَﺤْﺺٌ ﻣَﺪْﺭَﺳَﺔً ﻟِﺘَﻌْﻠِﻴْﻢِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻣُﺤَﺮَّﻡٍ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﺒِﻨَﺎﺀُ ﺣَﺮَﺍﻣًﺎ, ﻭَﻟَﻮْ ﺑَﻨَﻰ ﻣَﺪْﺭَﺳَﺔً ﻟِﺘَﻌْﻠِﻴْﻢِ ﻋِﻠْﻢٍ ﺷَﺮْﻋِﻲٍّ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﺒِﻨَﺎﺀُ ﻣَﺸْﺮُﻭْﻋًﺎ

“Dan diantara kaedah yang ditetapkan adalah bahwa “Perantara (wasilah) itu memiliki hukum-hukum maqoshid (tujuan) nya. Jadi perantara untuk tujuan yang disyari’atkan adalah disyari’atkan (pula), dan perantara untuk tujuan yang tidak disyari’atkan (perantara tsb) juga tidak disyari’atkan, bahkan perantara tujuan yang diharamkan adalah haram (hukumnya) Adapun pembangunan madrasah- madrasah, menyusun ilmu, mengarang kitab, meskipun itu semua Bid’ah dan tidak ditemukan/tidak didapati pada masa Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam dalam bentuk seperti  ini, namun ia bukan tujuan melainkan hanya perantara, sedang hukum perantara (wasilah) mengikuti hukum tujuannya. Oleh karena itu bila seseorang membangun madrasah untuk mengajarkan ilmu yang diharamkan maka membangunnya dihukumi haram, dan bila membangun madrasah untuk mengajarkan ilmu syari’at, maka pembangunannya disyari’atkan.” (Syekh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin,hal; 18-19)

Contoh pembahasan Mantik
ﻛﻞ ﻣﺴﻜﺮ ﺧﻤﺮ ﻭﻛﻞ ﻣﺴﻜﺮ ﺣﺮﺍﻡ

Syikil awal Syikil tsani adhrubnya Yaitu kulliyatani mujabatani. Pada shugro dan kubronya:
ﻛﻞ ﻣﺴﻜﺮ ﺧﻤﺮ ﻭﻛﻞ ﻣﺴﻜﺮ ﺣﺮﺍﻡ

Natijahnya adalah juz-iyah mujabah yaitu
ﺑﻌﺾ الخمر ﺣﺮﺍﻡ
Rumus:

ﺍﻟﺸﻜﻞ ﺍﻷﻭﻝ
ﺗﻘﺪﻡ ﺃﻥ ﺑﺎﻟﻘﻴﺎﺱ ﻣﺘﻘﺪﻣﺘﻴﻦ, ﺻﻐﺮﻯ, ﻭ ﻛﺒﺮﻯ : ﻭﺍﻟﻤﻘﺪﻣﺔ
ﺍﻟﺼﻐﺮﻯ ﺇﻣﺎ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﻮﺟﺒﺔ ﻛﻠﻴﺔ ﺃﻭ ﻣﻮﺟﺒﺔ ﺟﺰﺋﻴﺔ ﺃﻭ ﺳﺎﻟﺒﺔ ﻛﻠﻴﺔ ﺃﻭ ﺳﺎﻟﺒﺔ ﺟﺰﺋﻴﺔ.

ﻓﺄﺣﻮﺍﻟﻬﺎ ﺇﺫﻥ ﺃﺭﺑﻌﺔ, ﻭﺃﺣﻮﺍﻝ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻛﺬﻟﻚ: ﻓﺈﺫﺍ ﺿﺮﺑﻨﺎ
ﺃﺣﻮﺍﻝ ﺍﻟﺼﻐﺮﻯ ﻓﻰ ﺃﺣﻮﺍﻝ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﺼﻮﺭ ﺍﻟﻌﻘﻠﻴﺔ
ﺍﻟﺘﻰ ﻳﺼﺢ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻣﻘﺪﻣﺘﺎ ﺍﻟﻘﻴﺎﺱ ﺳﺖ ﻋﺸﺮﺓ
ﺻﻮﺭﺓ ﻭﻛﻞ ﺻﻮﺭﺓ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺼﻮﺭ ﺗﺴﻤﻰ ﺿﺮﺑﺎ . ﻭ ﺫﻟﻚ
ﻷﻥ ﺍﻟﺼﻐﺮﻯ :

1 ) ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻮﺟﺒﺔ ﻛﻠﻴﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻳﺼﺢ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ:
ﻣﻮﺟﺒﺔ ﻛﻠﻴﺔ, ﻣﻮﺟﺒﺔ ﺟﺰﺋﻴﺔ, ﺳﺎﻟﺒﺔ ﻛﻠﻴﺔ , ﺳﺎﻟﺒﺔ ﺟﺰﺋﻴﺔ.

2) ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻮﺟﺒﺔ ﺟﺰﺋﻴﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻳﺼﺢ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ:
ﻣﻮﺟﺒﺔ ﻛﻠﻴﺔ, ﻣﻮﺟﺒﺔ ﺟﺰﺋﻴﺔ, ﺳﺎﻟﺒﺔ ﻛﻠﻴﺔ , ﺳﺎﻟﺒﺔ ﺟﺰﺋﻴﺔ.

3) ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺳﺎﻟﺒﺔ ﻛﻠﻴﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻳﺼﺢ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ:
ﻣﻮﺟﺒﺔ ﻛﻠﻴﺔ, ﻣﻮﺟﺒﺔ ﺟﺰﺋﻴﺔ, ﺳﺎﻟﺒﺔ ﻛﻠﻴﺔ , ﺳﺎﻟﺒﺔ ﺟﺰﺋﻴﺔ.

4) ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺳﺎﻟﺒﺔ ﺟﺰﺋﻴﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻳﺼﺢ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ:
ﻣﻮﺟﺒﺔ ﻛﻠﻴﺔ , ﻣﻮﺟﺒﺔ ﺟﺰﺋﻴﺔ , ﺳﺎﻟﺒﺔ ﻛﻠﻴﺔ , ﺳﺎﻟﺒﺔ ﺟﺰﺋﻴﺔ.

Bahwa qiyas memiliki dua muqodimah, shugra dan kubra: muqodimah shugra adakalanya menjadi mujabah kuliah, mujabah juz-iyah, salibah kulliah atau salibah juz-iyah. Dengan demikian bentuknya menjadi empat, begitupun pada bentuk kubra :

Apabila kita kalikan bentuk muqodam shugra kedalam muqodimah kubra maka muncullah 16 bentuk aqliyah yang sah menjadi dua muqodimah qiyas, dan setiap bentuk dari bentuk-bentuk ini dinamakan dharb.

1. Mujibah kulliah dengan:
Mujibah kulliah, mujibah juz-iyah, salibah kulliah, salibah juz-iyah.
2. Mujibah juz-iyah dengan:
Mujibah kulliah, mujibah juz-iyah, salibah kulliah, salibah juz-iyah.
3. Salibah kulliah dengan :
Mujibah kulliah, mujibah juz-iyah, salibah kulliah, salibah juz-iyah.
4. salibah juz-iyah dengan :
Mujibah kulliah, mujibah juz-iyah, salibah kulliah, salibah juz-iyah.

Dan begitu seterusnya.

LAFADZ KULLU DALAM AL QUR’AN PUN MENERIMA TAHSISH, PEMAHAMAN WAHABI DALAM MEMAHAMI LAFADZ KULLU MENYERUPAI MU’TAZILAH

Dalam tulisan kami sebelumnya sudah kami paparkan kekolotan wahabi memahami lafadz kullu ( كل ) dalam hadits كل بدعة ضلالة. Rupanya wahabi tidak bisa memahami ilmu mantiq. Namun kali ini kami akan membahas lafadz كل dengan gaya lain supaya badui dari nejd dapat memahami.

Dalam Al Qur’an disebutkan Ayat:

كل من عليها فان (الرحمن : ٢٦)

Menurut pembahasan tauhid Aswaja seperti yang di jabarkan Imam Al Bajuri bahwa Ayat ini memunculkan pengecualian yaitu: 4 Malaikat pemimpin, Bidadari dan Nabi Musa As saat Malaikat Isrofil As meniup terompet pertama.

Takhsish dari hadits riwayat muslim:
كل ابن ادم يأكله التراب إلا عجب الذنب.

Jadi menurut hadits ini Tulang ekor belakang manusia merupakan pengecualian yang tidak akan hancur.

Berikutnya firman Allah:

كل شيء هالك إلا وجهه (القصص : ٨٨)

Ayat ini juga عام مخصوص Selain di Takhsish dengan lafadz إلا Berkata Imam Jalaluddin Asy Suyuthi dalam nadhom bait:

ثمانية حكم البقاء يعمها  # من الخلق والباقون في حيز العدم

هي العرش و الكرسي نار و جنة # و عجب و أرواح كذا اللوح والقلم

Maksudnya pengecualian dari Lafadh كل dalam Ayat di atas ada 8 Yaitu: Arsyi, Kursi, Neraka, Surga, Tulang ekor , Para arwah dan ruh, Lauh mahfudz dan Qolam. 8 makhluk Allah ini tidak akan musnah dan hancur.

Logikanya jika dalam Al Qur’an Kalam Allah saja menerima pengecualian tentu sudah sepantasnya hadits kalam Nabi juga menerima. seperti qoidah menyebutkan:

كل قاعدة مستثنيات
و كل عا م مخصوص

Setiap Qoidah ada pengecualian dan Setiap yang umum ada kekhususan.

Tentu Bid’ah Hasanah sangat layak menjadi kekhususan dari hadits كل بدعة ضلالة. Terakhir kami akan suguhkan dialog Imam Ahmad Bin Hanbal dengan pengikut Muktazilah yang berpikiran dangkal seperti kaum wahabi dalam memahami lafadz Kullu (كل):

ﺃﻥ ﻛﻠﻤﺔ ” ﻛﻞ” ﺗﻄﻠﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﺍﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﻋَﻠَﻰ ﻣﻌﺎﻥٍ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻭﻣﻨﻬﺎ : ﺍﻟﻌﻤﻮﻡ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻳﺴﻤﻮﻧﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﻄﻖ: ﺃﻟﻔﺎﻅ ﺍﻟﻌﻤﻮﻡ، ﻭﻫﻲ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﺼﻮﺭ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻭﺗﺤﻴﻂ ﺑﺠﻤﻴﻊ ﻣﺎ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻴﻪ، ﻓﺈﺫﺍ ﻗﻠﺖ : ﻛﻞ ﺍﻟﻄﻼﺏ. ﻣﻌﻨﻰ ﺫﻟﻚ ﺃﻧﻚ ﻻ ﺗﺴﺘﺜﻨﻲ ﻣﻨﻬﻢ ﺃﺣﺪﺍً، ﻭﻟﻜﻨﻬﺎ ﺃﻳﻀﺎً ﺗﺄﺗﻲ ﺃﺣﻴﺎﻧﺎً ﻟﻌﻤﻮﻡ ﻣﻘﻴﺪ، ﻭﻫﻮ ﻻ ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻟﻌﻤﻮﻡ ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻭﺟﻪ،
ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻟﻤﺎ ﺟَﺎﺀَ ﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ، ﻳﻨﺎﻇﺮﻭﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃَﺣْﻤَﺪ ﺭَﺣِﻤَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓﻲ ﻣﺠﻠﺲ ﺍﻟﺨﻠﻴﻔﺔ، ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻟﻪ: ﻳﺎ ﺃَﺣْﻤَﺪ ! ﺃﻟﻴﺲ ﺍﻟﻘُﺮْﺁﻥ ﺷﻲﺀ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﺑﻠﻰ . ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﺃﻟﻴﺲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻳﻘﻮﻝ: ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺧَﺎﻟِﻖُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ [ﺍﻟﺰﻣﺮ 62:]؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺑﻠﻰ، ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﺇﺫﻥ ﺍﻟﻘُﺮْﺁﻥ ﻣﺨﻠﻮﻕ.

ﻓﺮﺩ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃَﺣْﻤَﺪ ﺑﺈﻟﺰﺍﻡ ﻳﻮﺿﺢ ﺃﻥ ﻛﻠﻤﺔ ﻛﻞ ﻫﻨﺎ ﻟﻴﺴﺖ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﺍﻹﻃﻼﻕ .

ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻧﻪ ﻟﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃَﺣْﻤَﺪ : ( ﺃﻭ ﻟﻴﺲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻳﺢ ﺍﻟﺘﻲ ﺃﺭﺳﻠﻬﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻋﺎﺩ : ﺗُﺪَﻣِّﺮُ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺑِﺄَﻣْﺮِ ﺭَﺑِّﻬَﺎ ) ﺍﻷﺣﻘﺎﻑ 25:]؟ ﻓﻬﻞ ﺩﻣﺮﺕ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ؟ ﻭﻫﻞ ﺩﻣﺮﺕ ﺍﻷﺭﺽ؟ ﻭﻫﻞ ﺩﻣﺮﺕ ﺍﻟﺮﻣﺎﻝ؟ ﺇﻧﻤﺎ ﺗﺪﻣﺮ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﺃﻣﺮﺕ ﺑﺘﺪﻣﻴﺮﻩ، ﻭﻫﻮ ﻫَﺆُﻻﺀِ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﻣﺎ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﻣﻮﺍﻟﻬﻢ ﻭﺃﻣﺘﻌﺘﻬﻢ، ﺃﻭ ﻣﺴﺎﻛﻨﻬﻢ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ.

ﻓﻜﻠﻤﺔ ” ﻛﻞ” ﺇﺫﺍً ﻟﻴﺲ ﻣﺪﻟﻮﻟﻬﺎ ﺍﻟﺸﻤﻮﻟﻴﺔ ﺍﻟﻜﺎﻣﻠﺔ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻭﻗﺖ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺗﺄﺗﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻜﻠﻤﺔ ﺑﺤﺴﺐ ﺍﻟﺴﻴﺎﻕ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻴﻪ، ﻓﻌﻤﻮﻣﻬﺎ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻄﻠﻘﺎً، ﻭﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺨﺼﻮﺻﺎً، ﺃﻭ ﺧﺎﺻﺎً ﺑﻤﺎ ﻳﻘﻴﺪﻩ، ﻭﺗﻌﻴﻨﻪ ﺍﻟﻘﺮﺍﺋﻦ ﺍﻟﺤﺎﻓﺔ ﺑﻪ.

ﺛُﻢَّ ﺍﻧﺘﻘﻞ ﺇِﻟَﻰ ﺗﺤﺮﻳﻒ ﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ ﻟﻤﻌﻨﻰ : ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ [ 284: ] ، ﺑﺄﻧﻪ: ﻭﻫﻮ ﻋَﻠَﻰ ﻣﺎ ﻳﻘﺪﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﺪﻳﺮ، ﺃﻭ ﻋَﻠَﻰ ﻣﺎ ﻳﺸﺎﺀ ﻗﺪﻳﺮ، ﻭﻣﻘﺼﻮﺩﻫﻢ ﺑﺬﻟﻚ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺸﺎﺀ ﺃﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ﺍﻟﻘﺒﻴﺤﺔ، ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺸﺎﺀ ﻣﻌﺎﺻﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ، ﻛﻤﺎ ﺳﺒﻖ ﻓﻲ ﺑﺤﺚ ﺍﻹﺭﺍﺩﺓ، ﻗﺎﻟﻮﺍ: ﻭﻫﻮ ﻋَﻠَﻰ ﻣﺎ ﻳﺸﺎﺀ ﻗﺪﻳﺮ، ﻭﻻ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ: ﻋَﻠَﻰ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻗﺪﻳﺮ، ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﺪﺧﻠﻮﺍ ﺃﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ﻫﺬﻩ، ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﻭﻫﻮ ﻋَﻠَﻰ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻣﻘﺪﻭﺭ ﻟﻪ ﻗﺪﻳﺮ ، ﻭﺃﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ﻟﻴﺴﺖ ﻣﻘﺪﻭﺭﺓ ﻟﻪ. ﻓﺮﺩ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻤُﺼﻨِّﻒ ﺭَﺣِﻤَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻫﻨﺎ ﺑﺄﻧﻚ ﺇﺫﺍ ﻗﻠﺖ: ﻓﻼﻥ ﺑﻤﺎ ﻳﻌﻠﻤﻪ ﻋﻠﻴﻢ، ﻭﻓﻼﻥ ﺑﻤﺎ ﻳﻘﺪﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﺪﻳﺮ، ﺃﻧﻬﺎ ﻻ ﺗﺜﺒﺖ ﻓﺎﺋﺪﺓ ﻓﻲ ﺣﻖ ﺍﻟﻤﺨﻠﻮﻕ، ﻓﻜﻴﻒ ﻓﻲ ﺣﻖ ﺍﻟﻠﻪ – ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ -؟ !
ﻭﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ – ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ – ﻗﺪﻳﺮ ﻋَﻠَﻰ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﺑﺈﻃﻼﻕ، ﺣﺘﻰ ﺃﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ، ﻓﻬﻲ ﻣﻦ ﻣﺸﻴﺌﺘﻪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ. ﺍﻟﺸﺎﻫﺪ ﺃﻥ ﻗﺪﺭﺓ ﺍﻟﻠﻪ – ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ – ﺗﺘﻀﻤﻦ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻛﻠﻴﺔ ﻣﻄﻠﻘﺔ، ﻟﻜﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻃﻤﺲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻠَﻰ ﺑﺼﺎﺋﺮﻫﻢ، ﻭﺃﺿﻞ ﻋﻘﻮﻟﻬﻢ، ﻭﺧﺘﻢ ﻋَﻠَﻰ ﻗﻠﻮﺏ ﻫﻢ، ﺩﺧﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺃﺳﺌﻠﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺮﻳﺪﻭﻥ ﺑﻪ ﺍﻟﺘﺸﻜﻴﻚ، ﻭﺑﺬﺭ ﺍﻟﺸﺒﻬﺎﺕ ﻓﻲ ﻗﻠﻮﺏ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ. ﻣﻦ ﻣﻌﺎﻧﻲ ﻛﻠﻤﺔ ” ﻛﻞ” ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﻭﺍﻟﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ

Datang orang Muktazilah mendatangi  Imam Ahmad Bin Hanbal untuk menantangnya berdebat di depan Khalifah.

Al-Mu’tazili berkata: “Allah telah berfirman:

ﺧَﺎﻟِﻖُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ

“Pencipta segala sesuatu.” (QS. al-An’am: 102 )

dan Al-Qur’an adalah “sesuatu”, berarti Al-Qur’an
adalah makhluk!”

Berkata Imam Ahmad: “Sesungguhnya ayat yang ada lafadz كل  ini bersifat umum akan tetapi yang dikehendaki adalah khusus bukan umum. Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang angin yang menyebabkan kaum ‘Ad binasa karenanya:

ﺗُﺪَﻣِّﺮُ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺑِﺄَﻣْﺮِ ﺭَﺑِّﻬَﺎ

“Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya.” (QS. Al-Ahqof: 25 )

ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻧﻪ ﻟﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃَﺣْﻤَﺪ : ( ﺃﻭ ﻟﻴﺲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻳﺢ ﺍﻟﺘﻲ ﺃﺭﺳﻠﻬﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻋﺎﺩ : ﺗُﺪَﻣِّﺮُ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺑِﺄَﻣْﺮِ ﺭَﺑِّﻬَﺎ ) ﺍﻷﺣﻘﺎﻑ 25:]؟

Imam Ahmad menjawab lafadz Kullu tidak bermakna mutlak. seperti lafadz كل dalam kisah azab terhadap kaum ‘Ad. Apakah angin tersebut telah membinasakan langit ? membinasakan bumi ? membumihanguskan pasir ?
segala sesuatunya secara merata ? ataukah angin tersebut tidak membinasakan kecuali yang Allah perintahkan saja?” tanya Imam Ahmad.

Namun Muktazilah masih tetap kolot tidak mau menerima pengecualian كل dari Imam Ahmad bin Hanbal dan tetap menuduh Al Qur’an adalah Makhluk. Hampir sama dengan Wahabi yang kolot  tidak mau menerima pengecualian BID’AH HASANAH dari hadits كل بدعة ضلالة. Andai mau sedikit berpikir cerdas.

Wallahu Alam

Diolah dari fanspage Pesantren https://m.facebook.com/profile.php?id=157940200961628


Artikel Terkait