Imam Besar NU Garis Lurus: Resolusi Jihad NU Dan Penegakan Syariat Islam

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Makna resolusi jihad NU yang diprakarsai Hadhrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menurut Imam Besar NU Garis Lurus dan Imam Besar Aswaja Garis Lurus KH. Luthfi Bashori adalah penegakan dan formalisasi ‘Syariat Islam’.

MEMAKNAI HARLAH RESOLUSI JIHAD NU KE 70

(Luthfi Bashori*)

Meneguhkan kembali kewajiban memperjuangkan penegakan syariat serta pembentengan aqidah Aswaja dalam tubuh Nahdlatul Ulama.

Mengingat pada Anggaran Dasar NU Pasal 2 ayat 2 tentang tujuan berdirinya NU adalah: Menegakkan Syari’at Islam menurut haluan Ahlussunnah wal Jamaah.

Maka berdasarkan pasal dan ayat ini, tentunya yang dimaksud dengan kalimat Menegakkan Syariat Islam yaitu termasuk memperjuangkan formalisasi syariat Islam dalam tatanan hukum positif negara secara konstitusional.

Misalnya mengupayakan untuk penge-gol-an PERDA-PERDA anti kemaksiatan yang sangat dibutuhkan oleh umat Islam.

Termasuk juga penguatan kembali perjuangan memberantas pornografi dan pornoaksi yang telah dicetuskan lewat Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi, agar lebih efektif hingga dapat membentengi akhlaq generasi penerus Nahdlatul Ulama.

Atau penguatan kembali undang-undang yang bersifat sanksi terhadap para pelanggar norma agama sekaligus norma kemasyarakatan.

Semestinya sudah jelas bagi warga NU, baik yang berada dalam struktur kepengurusan, mulai dari yang duduk di pusat hingga daerah, maupun warga NU kultural, bahwa salah satu kewajiban bersama adalah berjuang bagaimana cara menerapkan Anggaran Dasar NU pada pasal pentingnya formalisasi syariat Islam dalam undang-undang negara, sebagaimana tersebut di atas.

Dengan demikian jika ada sekelompok orang yang tidak mentaati Anggaran Dasar NU pada pasal ini, apalagi jika menentangnya, maka sudah bisa dipastikan bahwa mereka itu pada hakekatnya bukanlah warga NU yang baik, sekalipun misalnya mereka sedang duduk dalam kepengurusan, karena secara otomatis mereka itu bukan warga yang dimaksud oleh AD/ART Ormas NU.

Karena warga NU yang hakiki, adalah warga yang konsekwen serta konsisten dengan ketentuan Jam’iyyah serta ajaran para pendahulunya, minimal sebagaimana yang telah dituangkan dalam AD/ART Organisasi.

Saat ini, sudah banyak orang yang berbaju NU, namun perilakunya sangat bertentangan dengan AD/ART ASLI yang telah dibukukan oleh para ulama pendahulu NU.

Adapun ringkasan AD/ART NU khususnya dalam bidang aqidah keislaman, adalah mencakup nila perjuangan pembentengan aqidah Ahlus sunnah wal jama’ah, yang sesuai ajaran KH. Hasyim Asy’ari dan para pendiri NU lainnya,
sebagaimana yang termaktub dalam Muqaddimah Qanun Asasi NU.

Atau yang termaktub dalam buku Risalah Ahlis Sunnah wal Jamma’ah, karya Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari.

Misalnya mengenai keharusan warga NU menolak bid’ah dhalalah (ajaran/aliran sesat), yang saat ini ada upaya dikembangkan oleh para pengusungnya dalam tubuh NU sendiri.

Contohnya, Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari telah melarang warga NU mengikuti aliran sesat semisal Syi’ah Zaidiyyah, padahal kesalahannya relatif ringan, yaitu mereka mengatakan bahwa S. Ali bin Abi Thalib lebih afdhal daripada S. Abu Bakar dan S. Umar RA, kesalahan itupun sudah dianggap sesat dan ditolak oleh Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari.

Apalagi mengikuti atau mendukung eksistensi Syi’ah Imamiyyah Khomeniyyah yang berpusat di Iran.

Salah satu ajaran Syi’ah Imamiyah adalah pendiskriditan hingga pencacimakian, bahkan pengkafiran para Shahabat RA serta para istri Nabi Muhammad S.A.W.

Caci maki dan pengkafiran itu termaktub dalam kitab rujukan utama mereka Al-Kaafi karangan Al-Kulaini, serta buku-buku rujukan utama Syiah Imamiyah.

Untuk itulah warga NU berhak untuk  mempertanyakan pertanggungjawaban PBNU atas maraknya aliran Syi’ah di Indonesia akhir-akhir ini.

Sudah menjadi rahasia umum adanya puluhan mahasiswa yang kini belajar aqidah Syi’ah Imamiyah di kota Qum Iran, atas rekomendasi oknum elit NU di negeri ini.

Yang mana salah satu program pengiriman Mahasiswa ke Iran adalah untuk memperdalam aqidah Syi’ah Imamiyah, agar kelak dapat diajarkan kepada masyarakat, saat mereka pulang kampung.

Jadi jelas, pengiriman mahasiswa ke perguruan Syiah di Iran ini sangat berbahaya dan sangat bertentangan dengan ajaran Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari.

Warga NU juga harus menolak dengan tegas ajaran dan pemikiran SEPILIS (Sekulerisme-Pluralisme-Liberalisme) yang marak diusung oleh tokoh-tokoh liberal namun berbaju NU.

Bahkan sebagian dari mereka, ada yang menjabat sebagai pengurus NU baik pada tingkat pusat, wilayah, maupun daerah, padahal pemikirannya telah keluar dari Anggaran Dasar maupun Muqaddimah Qanun Asasi NU.

Sebagai contoh, ada salah seorang pengurus PBNU, ada yang melontarkan gagasan liberalnya tentang pelaksanaan haji, ia memperbolehkan amalan wuquf di Arafah maupun mabit di Muzdalifah dan lempar jumrah di Mina, pada waktu-waktu di luar tanggal 10 s/d 13 Dzul Hijjah, dengan pertimbangan demi keselamatan jiwa.

Misalnya jika ada jamaah haji yang ingin wuquf di Arafah atau mabit di Mina, tapi memilih pada bulan Syawwal, yang demikian ini hukumnya boleh menurutnya, karena dianggap bulan Syawwal termasuk dalam katagori ayat Alhajju asyhurun ma’luumaat (haji itu dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu), alias mulai bulan Syawwal hingga Dzul Hijjah, demikianlah cara kaum liberal dalam menafsiri ayat secara global hanya berdasar pemikirannya sendiri.

Kesalahan oknum ini adalah tidak mau tunduk dan patuh kepada hadits Nabi S.A.W: Khudzuu ‘anni manaasikakum (ambillah/ikutilah aku (Nabi S.A.W) dalam melaksanakan manasik hajimu).

Nabi S.A.W sendiri melaksanakan ibadah haji dan mengajarkannya tepat tanggal 10 sd 13 Dzul Hijjah.

Manasik haji yang sesuai tuntunan Nabi  Muhammad SAW inipun sudah dilaksanakan oleh masyarakat Islam seluruh dunia, bahkan mulai sejak Nabi S.A.W masih hidup, dilanjutkan oleh para ulama salaf, termasuk para pendiri dan sesepuh NU, serta segenap umat Islam di seluruh dunia.

Contoh lain adalah keberadaan oknum NU yang ditokohkan, namun secara vulgar ‘hobi’ berkhotbah di gereja.

Dengan tanpa merasa berdosa ia berkhotbah di depan umat Kristiani, ia mengagung-agungkan ‘tuhan’ Yesus, dan bersenandung lagu-lagu gerejawi.

Pernah juga ada oknum sentral PBNU yang melontarkan rencana pembangunan sebuah gedung bertingkat, dengan komposisi lantai dasar akan diperuntukkan sebagai masjid bagi umat Islam, sedangkan lantai tingkat satu diperuntukkan sebagai gereja bagi umat Kristiani, lantai tingkat dua diperuntukkan sebagai pure bagi penganut Hindu, demikian dan seterusnya, dengan alasan demi kebersaam umat beragama.

Tentunya kita tidak ingin Organisasi NU ini dijadikan komoditi bagi kepentingan berkembangnya aliran sesat di Indonesia, maupun kepentingan non muslim.

Sebab perilaku-perilaku semacam itu, sangat bertentangan dengan ajaran syariat Nabi SAW dan ijtihad para ulama salaf yang menjadi basic pemikiran para pendiri NU.

Alangkah baiknya jika seluruh warga NU baik yang duduk dalam struktural maupun yang warga kultural, selagi aqidah dan pemahamannya masih lurus dan istiqamah, untuk peduli terhadap permasalahan-permasalahan semacam ini. 

Lantas hendaklah setiap warga NU, berani berjuang secara riil dalam membersihkan ‘Penyakit Aqidah’ yang sedang bercokol dalam tubuh NU.

Semoga dengan adanya HARLAH RESOLUSI JIHAD NU KE-70 ini, seluruh komponen NU yang  berhaluan lurus dan istiqamah dapat bersatupadu dalam menjaga Kemurnian Organisasi Nahdlatul Ulama.

__________________________
* Penulis adalah Pengurus (Syuriah) MWC.NU Singosari Malang.

Sumber PejuangIslam.com


Artikel Terkait