Halaqoh Pesantren Cipasung: NU Dalam Ancaman Ring Tinju Syiah VS Wahabi, Liberal Kaderisasi

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – KH Dr Abdi Kurnia Johan menegaskan bahwa Syiah adalah ajaran sesat. Ironisnya, selama 5 tahun terakhir ini banyak orang NU yang terpengaruh Syiah setelah diundang ke Iran. ”Banyak orang- orang NU setelah diundang ke Qom Iran pulangnya membela ajaran Syiah. Saya punya data beberapa pengurus NU dan putera kiai membela Syiah,” tegas Kiai Abdi Kurnia Johan dalam Halaqoh Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Pondok Pesantren Cipasung Jawa Barat asuhan KH. Ahmad Bunyamin Ruhiyat.

Kiai Abdi Kurni selain dikenal sebagai tokoh NU juga popular sebagai intelektual muslim karena banyak melahirkan pemikiran strategis keagamaan. Kiai Abdi Kurni yang alumnus Pesantren Buntet Jawa Barat itu mengaku mengamati secara intensif perkembangan NU yang mulai jadi ajang rebutan pengaruh Syiah dan Wahabi.

“Kalau NU tidak diselamatkan maka nanti NU akan menjadi ring tinju aliran Islam terutama Syiah dan Wahabi yang pada akhirnya akan ada bandar-bandar aliran ke NU,” katanya sembari mengatakan bahwa kini banyak sekali anak anak muda NU menjadi Islam liberal karena memang dikader termasuk di UIN Ciputat.

Halaqoh bertema“Menjernihkan Kembali Ajaran Ahlussunah Waljamaah An- Nahdliyyah” ini selain untuk menyemarakkan haul ke-38 KH Ruhiyat dan haul ke-8 KH Ilyas Ruhiyat juga bagian dari acara Napak Tilas pendirian NU yang dimulai dari Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan Madura.

Napak Tilas ini kemudian berlanjut ke Pesantren Tebuireng Jombang.Lalu dilanjutkan di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo dan Pesantren Assidiqi Putera (Astra) Jember Jawa Timur.

Sementara KH Ahmad Azaim Ibrahimy mengungkapkan bahwa ada indikasi kuat oknum PBNU yang berusaha membelokkan Aswaja lewat ceramah, tulisan, buku yang disebar kepada pengurus NU.

”Bahkan dalam Muktamar kemarin (di alun-alun Jombang-red) konsep awal khashais Aswaja yang diedarkan ke PWNU dan PCNU sangat tidak sesuai dengan Aswaja NU,” kata Kiai Azaim yang pengasuh Pesantren Salafiyah Syaiiyah Sukorejo Situbondo saat tampil satu sesi bersama Kiai Abu Bunyamin Rihiat dan KH Dr Jamaluddin Mariajang, Rais Syuriah PWNU Sulawesi Tengah .

Ia menengarahi bahwa dalam konsep tersebut terkesan menjadi agen dari berbagai aliran dalam Islam. Apalagi, menurut dia, dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-33 itu ternyata banyak melanggar AD/ART.

“Karena itu para dzuriyah pendiri NU tidak boleh membiarkan keadaan NU seperti itu,” tegasnya.

Artinya, para kiai, anak dan cucu pendiri NU serta para pengasuh pesantren seluruh Indonesia sebagai stakeholder (pemangku kepentingan) NU harus menyelamatkan organisasi sosial keagamaan terbesar warisan Mbah Hasyim itu.

Rais Syuriah PWNU Sulawesi Tengah, KH Dr Jamaluddin Mariajang, mengungkapkan, ada beberapa prinsip dasar yang dilanggar dalam Muktamar NU ke-33 di alun-alun Jombang.

Diantaranya, tanggapan atau pandangan umum PWNU terhadap Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) PBNU kepemimpinan Said Aqil Siroj yang secara sepihak ditiadakan. Padahal tanggapan PWNU terhadap LPJ itu sangat mendasar.

Karena salah satu wewenang PWNU dalam Muktamar NU adalah mengevaluasi kinerja PBNU selama lima tahun. Kalau kepemimpinan PBNU tak boleh dievaluasi berarti NU bukan organisasi.

Informasi yang diterima BANGSAONLINE.com, saat Muktamar NU ke-33 di alun-alun itu ada sekitar 29 PWNU dari 33 PWNU seluruh Indonesia ancang-ancang menolak LPJ Said Aqil Siroj sehingga ia seharusnya tak bisa mencalonkan kembali sebagai ketua umum PBNU. Informasi ini tersebar sehingga Said Aqil berusaha melobi para ketua PWNU agarLPJ-nya bisa diterima.

”Said Aqil kan telepon kepada Ketua PWNU, termasuk telpon saya. Intinya dia minta agar LPJ-nya jangan ditolak. Dia minta LPJ-nya diterima dengan catatan,” kata salah seorang Ketua PWNU kepada
BANGSAONLINE.com.

Menurut dia, praktik kecurangan dalam Muktamar NU itu tak lepas dari tersiarnya informasi sikap PWNU yang menolak LPJ Said Aqil. Karena itu para pendukung Said Aqil lalu meniadakan pandangan umum atau tanggapan PWNU terhadap LPJ.

”Ya memang curang, tapi bagaimana lagi, wong mereka memang seperti itu,” kata ketua PWNU yang kini ikut menggugat keabsahan Muktamar NU itu kepada BANGSAONLINE.com. [BangsaOnline/NUgl]


Artikel Terkait