Takut Nahi Munkar Karena Belum Lurus, Suci Dan Sempurna? Ini Jawaban Para Ulama

Shortlink:

image

image

NUGarisLurus.Com – Banyak sekali orang salah paham memahami agama dan menderita sindrom ketakutan berbuat baik sekedar untuk menegur, mengingatkan atau meluruskan penyimpangan karena merasa diri belum suci, lurus dan sempurna.

Jika untuk menegur kemunkaran harus menunggu diri kita sempurna, lurus dan suci, Maka tidak ada yang berhak melakukan Amar Makruf Nahi Munkar kecuali Nabi Muhammad Shollahu ‘Alaihi Wasallama.

Lalu bagaimana konsep amar makruf nahi mungkar dalam Islam? Berikut penjelasan lengkap para ulama bahwa lurus, suci dan sempurna bukanlah syarat amar makruf nahi munkar.

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ” ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ : ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺸْﺘَﺮَﻁُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﻣِﺮِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﻫِﻲ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻛَﺎﻣِﻞَ ﺍﻟْﺤَﺎﻝِ ، ﻣُﻤْﺘَﺜِﻠًﺎ ﻣَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﻪِ ، ﻣُﺠْﺘَﻨِﺒًﺎ ﻣَﺎ ﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻨْﻪُ ، ﺑَﻞْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮُ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺨِﻠًّﺎ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﻪِ ، ﻭَﺍﻟﻨَّﻬْﻲُ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺘَﻠَﺒِّﺴًﺎ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻨْﻪُ .

ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳَﺠِﺐُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺷَﻴْﺌَﺎﻥِ : ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﻣُﺮَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻳَﻨْﻬَﺎﻫَﺎ ، ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮَ ﻏَﻴْﺮَﻩُ ﻭَﻳَﻨْﻬَﺎﻩُ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﺧَﻞَّ ﺑِﺄَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ ، ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺒَﺎﺡُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺈِﺧْﻠَﺎﻝُ ﺑِﺎﻟْﺂﺧَﺮِ؟ ! ”

ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ” ﺷﺮﺡ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ” ‏(2/23 )

Berkata Imam Nawawi; Para Ulama berkata: “Tidak disyaratkan orang yang melakukan Amar Makruf Nahi munkar itu harus sempurna tindakannya, Dan sudah melakukan apa yang telah diperintahkannya dan sudah menjauhi apa yang dicegah olehnya Tapi dia wajib memerintahkan kebaikan meskipun dia sendiri belum melakukan dan wajib mencegah keburukan meskipun dia sendiri masih mengerjakan.

Maka yang wajib dia lakukan adalah dua perkara: Memerintahkan diri sendiri untuk melakukan kebaikan dan mencegah dirinya melakukan keburukan serta juga memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan. Jika dia melanggar salah satunya, Bagaimana mungkin dia diperbolehkan melanggar yang lainnya?! (Syarah Shahih Muslim 2/23)

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ : ” ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﻟَﻴْﺴَﺖْ ﻓِﻴﻪِ ﻭَﺻْﻤَﺔٌ ، ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻧَّﻪُ ﺍﻟْﺄَﻭْﻟَﻰ ﻓَﺠَﻴِّﺪٌ ، ﻭَﺇﻟَّﺎ ﻓَﻴَﺴْﺘَﻠْﺰِﻡُ ﺳَﺪَّ ﺑَﺎﺏِ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﺇِﺫَﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻫُﻨَﺎﻙَ ﻏَﻴْﺮُﻩُ” ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ” ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ” ‏( 13/53 ‏)

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqholani: “Adapun orang yang berkata bahwa tidak boleh melakukan amar makruf kecuali orang yang tidak punya cela. Maka jika dia menghendaki itu yang lebih utama menjadi baik, Jika tidak dia sama saja telah menutup pintu perkara amar makruf nahi munkar jika memang tidak ada lagi yang mau melakukan selain dia (Fathul Bari 13/15)

Jika syarat Amar Makruf nahi mungkar adalah suci tanpa dosa maka tidak ada yang bisa melaksanakannya kecuali Nabi Muhammad Shollahu ‘Alaihi Wasallama.

ﻭَﻗَﺪْ ﻗِﻴﻞَ: ﺇﺫَﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﻌِﻆْ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻣَﻦْ ﻫُﻮَ ﻣُﺬْﻧِﺐٌ   *** 
ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﻌِﻆُ ﺍﻟْﻌَﺎﺻِﻴﻦَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ

Dikatakan dalam sebuah syair: “Jika tidak boleh menasehati manusia seseorang yang mempunyai dosa   ###  Maka lalu siapa yang berhak menasehati para ahli maksiyat setelah nabi muhammad wafat?!

ﻭَﻗِﻴﻞَ ﻟِﻠْﺤَﺴَﻦِ ﺍﻟْﺒَﺼْﺮِﻱِّ : ﺇﻥَّ ﻓُﻠَﺎﻧًﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻌِﻆُ ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ : ﺃَﺧَﺎﻑُ ﺃَﻥْ ﺃَﻗُﻮﻝَ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﺃَﻓْﻌَﻞُ.

ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟْﺤَﺴَﻦُ : ﻭَﺃَﻳُّﻨَﺎ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﻣَﺎ ﻳَﻘُﻮﻝُ؟ ﻭَﺩَّ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺪْ ﻇَﻔِﺮَ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﺄْﻣُﺮْ ﺃَﺣَﺪٌ ﺑِﻤَﻌْﺮُﻭﻑٍ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻪَ ﻋَﻦْ ﻣُﻨْﻜَﺮٍ.

Ditanyakan kepada Imam Hasan Al Bashri tentang seseorang: “Sesungguhnya Fulan itu tidak mau memberi nasehat dan dia berkata bahwa dia takut masuk kategori orang yang mengatakan apa yang tidak dia kerjakan”.

Maka Imam Hasan Al Bashri menjawab: “Siapa diantara kita yang sudah melakukan apa saja yang sudah kita katakan?! Sungguh syaitan telah berbahagia dengan sebab ini tidak ada lagi yang mau melakukan Amar Makruf Dan tidak ada lagi yang berani melakukan nahi munkar”.

ﻭَﺍﻟْﺤَﺎﺻِﻞُ : ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﺠِﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻣُﺆْﻣِﻦٍ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺸُّﺮُﻭﻁِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻘَﺪِّﻣَﺔِ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮُ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬْﻲُ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﻟَﻮْ ﻓَﺎﺳِﻘًﺎ ﺃَﻭْ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺇﺫْﻥِ ﻭَﻟِﻲِّ ﺃَﻣْﺮٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺟُﻠَﺴَﺎﺋِﻪِ ﻭَﺷُﺮَﻛَﺎﺋِﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﻌْﺼِﻴَﺔِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻓَﻴُﻨْﻜِﺮُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ، ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻣُﻜَﻠَّﻔُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟْﺄَﻣْﺮِ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬْﻲِ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ” ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ “ﻏﺬﺍﺀ ﺍﻷﻟﺒﺎﺏ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ ﺍﻵﺩﺍﺏ ” ‏(1/215 )

Kesimpulannya: “Wajib bagi setiap mukmin beserta syarat -syaratnya melakukan Amar makruf Nahi Munkar meskipun orang fasik dan tanpa izin pemerintah untuk melakukan nahi munkar meskipun terhadap teman duduk bersama yang melakukan maksiyat secara bersama dengannya dan terutama atas dirinya sendiri untuk mengingkarinya KARENA SEMUA MANUSIA mendapatkan perintah untuk melakukan amar makruf nahi munkar ( Ghoda’ul Al albab Fisy Syarakh Mandumah Al Adab 1/125)

ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﻌﺮﺑﻲ : ” ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮْﻃِﻪِ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻋَﺪْﻟًﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ، ﻭَﻗَﺎﻟَﺖْ ﺍﻟْﻤُﺒْﺘَﺪِﻋَﺔُ : ﻟَﺎ ﻳُﻐَﻴِّﺮُ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮَ ﺇﻟَّﺎ ﻋَﺪْﻝٌ .

ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺳَﺎﻗِﻂٌ ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟْﻌَﺪَﺍﻟَﺔَ ﻣَﺤْﺼُﻮﺭَﺓٌ ﻓِﻲ ﻗَﻠِﻴﻞٍ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖِ ، ﻭَﺍﻟﻨَّﻬْﻲُ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻋَﺎﻡٌّ ﻓِﻲ ﺟَﻤِﻴﻊِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ” ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ” ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ” ‏( 1/349 ‏)

Berkata Imam Abu Bakar  Ibnu Al Arabi Al Maliki:  “Menurut Ahlu Sunnah Bukan Syarat dari amar makruf nahi munkar harus orang yang adil”.

Tapi menurut Ahlu Bid’ah syarat amar makruf nahi munkar harus orang yang adil. Pendapat ini telah jatuh Dikarenakan sifat keadilan hanya dimiliki oleh sebagian kecil manusia, Sementara Nahi munkar mencegah kemunkaran itu bersifat umum untuk seluruh manusia. (Ahkam Al Qur’an 1/349).

Wallahu Alam.

Penulis: Muhammad Lutfi Rochman
Khuwaidim Ma’had Al Anshory


Artikel Terkait