Seri Pembahasan KH. Muhammad Najih Maimoen (I) : Syiah, Wahabi Dan Liberal Hakikatnya Adalah Teroris

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Pada Kamis kemarin (6 Dzul Qo’dah 1436 H/20 Agustus 2015 M) para alumni Ribath Darusshohihain menyelenggarakan acara Temu Alumni untuk kesekian kalinya. Temu alumni ini merupakan acara rutinan yang dilaksanakan setahun sekali pada bulan Syawwal akhir atau awal Dzul Qa’dah untuk tetap merekatkan ta’alluq antara alumni dengan pengasuh Ribath Syaikhina KH. Muhammad Najih Maemon, sekaligus sebagai forum komunikasi antar santri alumni Ribath Darusshohihain.

Sebagaimana dikutip dari akun faceebok Ribath Darusshohihain, Gus Najih menyampaikan banyak sorotan tentang situasi NU terkini setelah muktamar juga tentang PPP dan PKB. Menurut Gus Najih PPP dan NU saat ini sudah terkontaminasi virus liberal dan PKB sudah sejak lama menjadi liberal. Selain itu Gus Najih juga menyampaikan harapannya bahwa harapan saat ini hanyalah pada pesantren salaf.

Gus Najih memberi tahdzir (peringatan) tentang bahaya liberalisasi dalam tubuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Nahdlatul Ulama (NU) yang sedang bergeliat sekarang ini. Beliau pun memberikan berbagai pandangan politiknya, diantaranya bahwa Gus Najih berikhtiar keras agar PPP tidak dimasuki paham liberal.

“Waktu muktamar PPP sebelum muktamar terakhir kemarin, saya membela mati-matian SDA (Suryadharma Ali) karena pada waktu itu rival politiknya adalah orang liberal. Saya kirim SMS ke DPC-DPC (Dewan Perwakilan Cabang), akhirnya SDA jadi Ketua Umum PPP. Tapi PPP sekarang sudah kemasukan liberal. Sudah ada perwakilan Kristen di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, NTT, dan Papua, padahal sebelumnya belum pernah ada. Ini karena ada Romahurmuzi yang hakikatnya PKB- GusDurian itu,” tandas beliau.

Muktamar NU agustus kemarin juga tidak lepas dari sorotan. Beliau menegaskan bahwa Muktamar NU kemarin hakikatnya adalah Muktamar PKB dan juga PDI, karena Megawati hadir di situ. NU sekarang sudah menjadi liberal dalam urusan pemikiran, Sedangkan PKB liberal urusan politik.

Menurut beliau, pada muktamar kemarin KH. Ma’ruf Amin terpilih menjadi Rois ‘Amm PBNU karena beliau aktif di PKB, sedangkan lawannya KH. Hasyim Muzadi tidak terpilih karena tidak aktif di PKB.

“Gus Mus (Mustofa Bisri) awalnya pengen Mbah Moen menjadi Rais ‘Amm dan dia yang jadi wakilnya. Targetnya agar Mbah Moen tidak bisa aktif mengurusi PBNU karena sudah sepuh, lalu Gus Mus yang aktif. Ternyata yang jadi Rais ‘Am Kiai Ma’ruf Amin yang anti liberal, akhirnya dia nggak mau,” kata Gus Najih.

Syi’ah, Wahhabi, dan Liberal Adalah Teroris

Selanjutnya Abah Najih menegaskan bahwa Syi’ah, Wahhabi, dan Liberal hakikatnya adalah teroris. Hanya Ahlussunah wal Jama’ah yang moderat dan tidak teroris, yakni Asy’ariyyah dan Maturidiyyah. Fiqh Syafi’i juga merupakan Fiqh yang paling moderat karena paling banyak qaul dibandingkan madzhab lainnya.

“Karena itu di Sarang Mbah Zubair mengaji kitab Mahalli (Syarh al-Mahalli ‘ala Minhaj al-‘Abidin), kalau di Ploso mengaji Fathul Wahhab. Itu sifat tawasuthnya Ahlussunnah wal Jama’ah. Tapi menurut NU dan PKB sekarang, tawassuth itu gandengan dengan Kristen dan Konghucu. Iki ora tawassuth, njegur neroko jenenge (Ini Bukan Tawassuth Tapi Namanya Masuk Neraka) ,” Terus beliau.

Status Orang Kafir Indonesia

Menurut Gus Najih, orang kafir di Indonesia statusnya adalah kafir mu’ahad yang menurut ajaran kitab mesti diberikan pergaulan dengan baik oleh orang Muslim. “Tapi karena kafir di Indonesia sekarang banyak yang radikal, makanya hal ini tidak diinformasikan dalam buku- buku saya (bahwa statusnya muahad red) ,” kata beliau.

Akan tetapi beliau mengingatkan lagi bahwa tulisan- tulisan beliau yang selama ini bernada keras dan kritik tajam ini tidak dimaksudkan untuk menyulut api peperangan. “Tapi kalau suatu ketika harus perang ya kita mesti siap,” tegasnya.

Bersambung!


Artikel Terkait