Seri Pembahasan KH. Muhammad Najih Maemoen (II): Jimat Soeharto

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Dalam temu alumni Ribath Darusshohihain, KH. Muhammad Najih Maemoen atau Gus Najih banyak membahas permasalah kekinian Islam khususnya nahdliyyin dan pesantren salaf.

Setelah membahas tentang awal mula dan seluk beluk berdirinya Ribath Darusshohihain yang menurut beliau karena barokah Sayid Muhammad Al Maliki, Gus Najih di akhir cerita sejarah Ribath Darusshohihain tersebut mengingatkan bahwa manusia dimuliakan Allah Ta’ala ketika dia bisa mengaji dan membangun pondok. Hal ini kebalikan dari watak orang Jawa yang biasa memandang kemuliaan manusia jika bisa menyelenggarakan kegiatan ramai-ramai meskipun menyeleweng dari Syari’ah.

“Watak orang Jawa itu menghina poligami, tapi bangga rame-rame mengundang biduan waktu resepsi,” ujar beliau.

Jimat Soeharto

Gus Najih menceritakan sebuah cerita tentang karomah yang disebut “Jimat Soeharto” yang unik dan tidak biasa didengar di khalayak luas. Pada kesempatan tersebut Abah Najih (Panggilan para santrinya terhadap beliau red) menceritakan bahwa ketika beliau akan berangkat ke Makkah al Mukarramah, Mbah Hamid Pasuruan berpesan kepada beliau, “Awas, gaman-gaman diungkal! (Awas, pedang-pedang diasah!)”

Tak lama setelah Abah Najih bermukim di Makkah, terjadi peristiwa Petrus (Penembakan Misterius) yang dilakukan oleh rezim Soeharto dan diduga kuat dipengaruhi PKI. Beliau menegaskan bahwa Soeharto berani berbuat seperti itu karena suka membeli jimat-jimat milik para kiai, termasuk jimat milik Mbah Wahab Hasbullah Jombang.

Beliau lalu menceritakan asal mula dibuatnya jimat tersebut. Kisahnya berawal bahwa dahulu ada seorang santri yang mondok di Sarang bernama Abdul Muhaimin yang notabene merupakan putra Mbah Abdul Aziz Lasem. Beliau merupakan santri yang sangat alim, hingga ketika Mbah Bisyri Syamsuri yang berasal dari Tayu Pati mondok di Sarang lalu diambil menantu oleh Mbah Hasbullah Jombang, beliau lalu ditanya, “Siapa lagi temanmu yang paling alim? Jika ada aku ingin menjadikannya menantuku.”

Mbah Bisyri pun menjawab bahwa beliau mempunyai teman yang sangat alim bernama Abdul Muhaimin. Setelah itu, Mbah Muhaimin pun dinikahkan dengan putri Mbah Hasbullah dan ditirakati dengan dibuatkan jimat untuknya. Mbah Muhaimin diangkat menjadi guru di pesantren Tambakberas Jombang, kemudian selang beberapa lama beliau pindah ke Makkah lalu mendirikan madrasah di sana bernama Darul Ulum.

Hal ini merupakan prestasi luar biasa karena orang Jawa di sana seringkali di- bully oleh orang Arab. Abah Najih mengutip dhawuhane Mbah Maimoen tentang anekdot orang Arab terhadap orang Jawa: Ya Jawa Ya Jawa Baqar (Hai Jawa Hai Jawa Sapi). Menurut orang Arab, orang Jawa dianggap suka makan ular (padahal belut).

Saking terkenalnya Mbah Abdul Muhaimin di kalangan ulama Jawa, hingga Mbah Hasyim Asy’ari pun ingin menikahkan putrinya dengan Mbah Muhaimin. Akhirnya Mbah Muhaimin pun dinikahkan dengan putri Mbah Hasyim yang merupakan janda dari Mbah Maksum Ali Kuaron Jombang yang tidak lain adalah penulis kitab al Amtsilah al- Tashrifiyyah yang sangat terkenal itu dan berjasa mendirikan madrasah-madrasah salafiyyah di daerah Jombang.

Setelah Mbah Muhaimin wafat, jimat yang dibawa oleh beliau lalu diberikan kepada Mbah Baidlowi Lasem. Ketika itu jimat tersebut dipinjamkan kepada Mbah Suyuthi Tasikagung hingga akhirnya berhasil membangun pondok di sana.

Setelah Mbah Suyuthi wafat, jimat sakti tersebut kembali ke tangan Mbah Baidlowi. Jimat itupun lalu diberikan kepada Mbah Wahib Wahab yang dapat mengantarkan beliau menjadi Menteri Agama pada masa pemerintahan Soekarno. Karena kekuatan jimat itu juga Mbah Wahib menjadi sangat berani dan kritis terhadap kebijakan Soekarno yang saat itu dekat dan terpengaruh dengan ide-ide komunis.

Karena dianggap berbahaya bagi kepentingannya, akhirnya Soekarno ingin melengserkan posisi Mbah Wahib dengan menuduh beliau makan uang negara untuk kepentingan pribadinya. Menurut Abah Najih, sikap Soekarno ini timbul
karena Mbah Wahib membuat kebijakan yang pro Syari’ah. Pertama,mengalokasikan uang negara untuk mencetak mushaf Al Quran di Jepang lalu dibagikan ke seluruh masjid dan hotel di Indonesia.
Kedua, membuat aturan setiap terminal harus memiliki toilet agar tidak buang air di sembarang tempat.

Setelah mengetahui Mbah Wahib Wahab difitnah namanya oleh Soekarno, maka Mbah Baidlowi Lasem mengumpulkan santrinya dan berkata, “Ayo dipasotno (Soekarno, pen).” Lalu beliau bersama santri membacakan Yasin empat puluh kali selama beberapa hari berturut-turut. Selang beberapa waktu kemudian, Soekarno lengser dan dibusukkan namanya dengan terjadinya pemberontakan G30S/PKI. Demikian cerita tentang jimat Soeharto.

Bersambung!


Artikel Terkait