Pesantren Rais Syuriah PWNU NTB KH. Khoiri Adnan Juga Mufaroqoh Dari PBNU

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Kekecewaan terhadap KH Said Aqil Siraj tampaknya kian meluas. Buktinya, langkah mufaroqoh terhadap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan KH Said Aqil Siraj terus menjalar ke berbagai pesantren di berbagai daerah.

Seperti diberitakan, semula Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur yang mengawali mufaraoqoh terhadap PBNU. Pesantren peninggalan KHR As’ad Syamsul Arifin yang kini diasuh cucunya, KH Ahmad Azaim Ibramy ini menganggap Muktamar NU ke-33 di alun-alun Jombang tak sah karena pelaksanaannya banyak melanggar AD/ART dan menista para kiai, terutama kiai PCNU dan PWNU.

Kini sikap memisahkan diri dari PBNU kepemimpinan Said Aqil itu juga dilakukan KH TGH. L. A. Khoiry Adnan, pengasuh Pondok Pesantren Attamimy Brangsak Praya Kab. Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kiai Khoiry Adnan selain pengasuh pesantren besar di Lombok juga Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB.

Ia mengaku telah menerima dan membaca dengan cermat “Maklumat Mufaroqoh” yang ditandatangani oleh KHR. Ach. Azaim Ibrohimy, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur tanggal 21 September 2015, sebagai pelanjut perjuangan Khadratussyekh KHR. As’ad Syamsul Arifin.

”Sangat mengesankan karena keputusan tersebut didasarkan atas pengamatan bathiniyah dan lahiriyah. Dalam hal pengamatan bathiniyah saya ikut melakukan istikhoroh, ternyata isyaratnya sama dengan pendapat KHR. Ach. Azaim Ibrohimy, sedangkan secara lahiriyah saya menyaksikan sendiri bagaimana kemungkaran penyelenggara muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Alun-alun Jombang tersebut,” kata Kiai Khoiry Adnan dalam keterangan tertulisnya yang diterima BANGSAONLINE.com , Senin (28/9/2015).

Karena itu – tegas Kiai Khoiry Adnan – semenjak menyaksikan pelaksanaan muktamar di Alun alun Jombang itu dirinya sudah tidak mau lagi mengakui muktamar dan hasilnya.

”Saya merasa tidak sanggup bertanggung jawab kepada umat Nahdliyin dan Allah SWT,” katanya tegas.

Ia mengaku sangat setuju dan mendukung keputusan KHR. Ach. Azaim Ibrohimy. ”Bahkan saya tidak pernah mengakui kepengurusan PBNU hasil muktamar ke-33 NU di Alun-alun Jombang sebelum lahirnya Maklumat Mufaroqoh. Artinya saya sudah mengambil keputusan mendahului Mufaroqoh beliau,” katanya.

Ia berharapa kepada seluruh ulama NU dan warga Nahdliyin agar bersatu padu untuk menjaga dan mengamalkan ahlussunnah waljama’ah annahdliyah. Ia juga menganjurkan agar warga Nahdlatul Ulama melakukan gerakan bathin bertaqorrub kepada Allah SWT.  [BangsaOnline/NUgl]


Artikel Terkait