Pernah Sebut Syekh Ali Jabir Wahabi Taqiyah, Ini Alasan Ilmiah KH. Idrus Ramli

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Beberapa waktu lalu Dewan Pakar ASWAJA NU Center KH. Muhammad Idrus Ramli memperingatkan bahwa artis arab Syekh Ali Jabir (SAJ) adalah wahabi taqiyah. Melalui facebook ‘Muhammad Idrus Ramli’ Rais Syuriah NU Kencong ini membeberkan bukti -bukti kecenderungan wahabi seorang Ali Jabir.

MELURUSKAN KESALAHAN SYEKH ALI JABER

Sekitar tiga bulan yang lalu, saya mendapat kiriman dua rekaman video Syekh Ali Jaber, artis Wahabi yang sering mengisi acara di televisi nasional. Rekaman pertama, tertanggal 19 Juni, 2015 di TV One, berdurasi 36 detik. Sedangkan rekaman kedua, tidak tertera tanggal tayangnya, berdurasi 1 menit 10 detik, juga di TV One. Mengingat ada beberapa sahabat Ahlussunnah Wal-Jamaah yang meminta tanggapan kami terhadap kedua rekaman tersebut, berikut ini kami transkrip rekaman video tersebut, sekaligus dengan tanggapan kami terhadapnya.

Pada rekaman pertama, 19 Juni, TV One, durasi 36 detik, SAJ berkata:

“Banyak sekarang orang berdoa, tetapi doanya tercampur ada syiriknya. Orang merasa diri tidak diterima doanya, jadi dia menggantungkan diri menunggu harus ada kiai siapa, atau wali siapa, atau habib siapa, atau syeikh siapa, baru bisa diterima doanya. Doa Iblis, syetan pernah berdoa, dan sudah diterima doanya. Apalagi orang mukmin, apalagi orang muslim, jauh lebih pantas diterima.”

Pernyataan SAJ di atas memberikan tiga kesimpulan:

Pertama, berdoa dengan menunggu doanya kiai, wali, habib atau syeikh hukumnya syirik. SAJ tidak menjelaskan, apakah hal ini termasuk syirik akbar, seperti kebiasaan kalangan Wahabi Takfiri yang kerjanya mengkafirkan kaum Muslimin, atau syirik ashghar (kecil). Tetapi bagaimanapun, vonis syirik dalam hal-hal kecil, adalah akidah pokok kaum Wahabi.

Kedua, berdoa dengan cara berjamaah, salah seorang dari mereka berdoa, lalu jamaah lainnya membacakan amin. Mungkin cara ini yang disyirikkan oleh SAJ.

Ketiga, doa Iblis atau Syetan yang “dikabulkan” oleh Allah, bisa dijadikan pelajaran oleh umat Islam, bahwa doa mereka akan diterima meskipun tanpa menunggu orang wali, kiai, habib dan syekh.

Tentu saja pernyataan SAJ di atas salah dan tidak benar. Ketika seorang muslim punya hajat yang ingin dimohonkan kepada Allah, banyak cara yang dianjurkan oleh al-Qur’an dan Sunnah agar kita lakukan, agar doa kita dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Cara agar doa segera dikabulkan oleh Allah tersebut dalam bahasa agama dinamakan dengan wasilah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya”. (QS. al-Maidah : 35).

Dalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kita agar mencari wasilah yang dapat mendekatkan kita kepada Allah. Dalam menafsirkan wasilah dalam ayat ini, al-Hafizh Ibn Katsir mengatakan:

وَالْوَسِيْلَةُ هِيَ الَّتِيْ يُتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى تَحْصِيْلِ الْمَقْصُوْدِ.

“Wasilah adalah segala sesuatu yang dapat menjadi sebab sampai pada tujuan”. (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 2/50).

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita agar mencari wasilah, yaitu sarana yang mendekatkan diri kita kepada Allah, agar doa kita misalnya dikabulkan. Ada beberapa wasilah yang diterangkan dalam al-Qur’an dan Sunnah agar kita lakukan.

Pertama, Asma’ul-Husna

Kedua, amal shaleh

Ketiga, doa orang shaleh

Keempat, menyebut orang shaleh dalam doa

Kelima, memanggil orang shaleh dengan tujuan istighatsah

Kembali kepada ceramah SAJ di atas, yang mensyirikkan doa seorang ulama, kiai, habib dan syech agar hajat kita dikabulkan, jelas membuktikan bahwa SAJ benar-benar Wahabi dan bertentangan dengan ajaran Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Berkaitan dengan kesunnahan meminta doa orang shaleh, dalam kitab-kitab hadits sangat banyak diterangkan, antara lain:

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَتْ أُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ خَادِمُكَ أَنَسٌ ادْعُ اللهَ لَهُ قَالَ اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ. قَالَ أَنَسٌ فَوَاللهِ إِنَّ مَالِيْ لَكَثِيْرٌ وَإِنَّ وَلَدِيْ وَوَلَدَ وَلَدِيْ لَيُعَادُّوْنَ اليَّوْمَ عَلىَ نَحْوِ الْمِائَةِ. رواه البخاري 

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ibuku berkata: “Hai Rasulullah, pelayanmu Anas doakan kepada Allah untuknya.” Lalu beliau berdoa: “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah apa yang Engkau berikan padanya.” Anas berkata: “Demi Allah hartaku sekarang ini sangat banyak, dan anak cucuku hari ini lebih dari seratus.” (HR al-Bukhari).

Perhatikan dalam hadits tersebut, sahabat Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, ibunya Anas bin Malik, meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar mendoakan putranya, Anas bin Malik. Hadits ini menjadi dalil anjuran meminta didoakan kepada orang yang shaleh, apakah seorang wali, ulama, habib atau syekh, termasuk Syaikh Ali Jabir. Dalam kitab-kitab hadits dan sirah, banyak sekali tentang permintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar didoakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima permintaan mereka, tidak mengatakan, “Kalian telah syirik, karena meminta didoakan kepadaku, tidak berdoa langsung kepada Allah”. Dalam hadits lain diriwayatkan:

وعن عمر بن الخطاب رضي الله عنه، قَالَ : اسْتَأذَنْتُ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم في العُمْرَةِ ، فَأذِنَ لِي ، وَقالَ : (( لاَ تَنْسَنا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ )) فَقَالَ كَلِمَةً مَا يَسُرُّنِي أنَّ لِي بِهَا الدُّنْيَا وفي رواية : وَقالَ : (( أشْرِكْنَا يَا أُخَيَّ في دُعَائِكَ )) . حديث صحيح رواه أَبُو داود والترمذي، وَقالَ: (( حديث حسن صحيح )) .

Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan umrah, lalu ia memberiku izin dan bersabda: “Jangan engkau lupakan kami adikku dari doamu.” Ia mengucapkan satu kalimat, aku tidak senang seandainya kalimat tersebut ditukar dengan dunia. Dalam satu riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sertakan kami wahai adikku di dalam doamu.” (HR, Abu Dawud [1498], al-Tirmidzi [3562], dan Ibnu Majah [2894]. Al-Tirimidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih).

Hadits di atas menganjurkan kepada kita agar meminta didoakan kepada orang-orang yang melakukan amal ibadah atau amal shaleh. Imam Muslim juga meriwayatkan:

عَنْ أُسَيْرِ بْنِ جَابِرٍ، أَنَّ أَهْلَ الْكُوفَةِ وَفَدُوا إِلَى عُمَرَ، وَفِيهِمْ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ يَسْخَرُ بِأُوَيْسٍ، فَقَالَ عُمَرُ: هَلْ هَاهُنَا أَحَدٌ مِنَ الْقَرَنِيِّينَ؟ فَجَاءَ ذَلِكَ الرَّجُلُ فَقَالَ عُمَرُ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم قَدْ قَالَ: «إِنَّ رَجُلاً يَأْتِيكُمْ مِنَ الْيَمَنِ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ، لاَ يَدَعُ بِالْيَمَنِ غَيْرَ أُمٍّ لَهُ، قَدْ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ، فَدَعَا اللهَ فَأَذْهَبَهُ عَنْهُ، إِلاَّ مَوْضِعَ الدِّينَارِ أَوِ الدِّرْهَمِ، فَمَنْ لَقِيَهُ مِنْكُمْ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ». رواه مسلم 

Dari Usair bin Jabir, bahwa penduduk Kufah bertamu kepada Khalifah Umar, di antara mereka ada seorang laki-laki yang selalu mengolok-olok Uwais. Lalu Umar berkata: “Apakah di sini ada seseorang dari suku Qarani?” Lalu laki-laki tersebut datang. Lalu Umar berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesunggguhnya seorang laki-laki akan datang kepada kalian dari Yaman, bernama Uwais. Ia hanya meninggalkan seorang ibu. Pada tubuhnya ada putih-putih, lalu ia berdoa kepada Allah, lalu Allah menghilangkan putih-putih itu kecuali sebesar uang dinar atau dirham. Barangsiapa yang menjumpainya dari kalian, maka mintalah ia berdoa agar Allah mengampuni kalian.” (HR Muslim).

Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat terkemuka agar meminta didoakan kepada Uwais al-Qarani. Hadits ini menjadi dalil kesunnahan meminta didoakan kepada orang-orang yang shaleh. Meminta doa kepada orang-orang shaleh bukan termasuk perbuatan syirik.
Atau boleh jadi, yang disyirikkan oleh SAJ adalah tradisi doa bersama, dengan cara seorang ulama atau kiai membacakan doa, lalu para jamaah membacakan amin. Apabila kemungkinan ini yang dikehendaki oleh SAJ, jelas pernyataan SAJ benar-benar salah dan bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah. Dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala menceritakan tentang dikabulkannya doa Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalaam:

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا. (يونس : ٨٩).

“Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan doa kamu berdua, oleh karena itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus.” (QS. Yunus : 89).

Dalam ayat di atas, al-Qur’an menegaskan tentang dikabulkannya doa Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalaam. Padahal yang berdoa sebenarnya Nabi Musa ‘alaihissalaam,sedangkan Nabi Harun ‘alaihissalaam hanya mengucapkan amin, sebagaimana diterangkan oleh para ulama ahli tafsir. Nabi Musa ‘alaihissalam yang berdoa dan Nabi Harun ‘alaihissalam yang mengucapkan amin, dalam ayat tersebut sama-sama dikatakan berdoa. Hal ini menunjukkan bahwa doa bersama dengan dimpimpin oleh seorang imam adalah ajaran al-Qur’an, bukan ajaran terlarang. (Bisa dilihat dalam Tafsir al-Hafizh Ibnu Katsir, 4/291).

Sementara dalil-dalil hadits tentang doa bersama, dengan cara seorang ulama membacakan doa, sedangkan para jamaah membacakan amin, telah diterangkan dalam banyak riwayat hadits, antara lain:

1) Hadits Zaid bin Tsabit radhiyallaahu ‘anhu

عن قيس المدني أن رجلا جاء زيد بن ثابت فسأل عن شيء فقال له زيد : عليك بأبي هريرة فبينا أنا وأبو هريرة وفلان في المسجد ندعو ونذكر ربنا عز و جل إذ خرج إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم حتى جلس إلينا فسكتنا فقال : ” عودوا للذي كنتم فيه ” . فقال زيد : فدعوت أنا وصاحبي قبل أبي هريرة وجعل النبي صلى الله عليه و سلم يؤمن على دعائنا ثم دعا أبو هريرة فقال : اللهم إني سائلك بمثل ما سألك صاحباي وأسألك علما لا ينسى . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم آمين فقلنا يا رسول الله ونحن نسأل الله علما لا ينسى فقال سبقكما بها الدوسي رواه والنسائي في الكبرى والطبراني في الأوسط وصححه الحاكم

“Dari Qais al-Madani, bahwa seorang laki-laki mendatangi Zaid bin Tsabit, lalu menanyakan tentang suatu. Lalu Zaid berkata: “Kamu bertanya kepada Abu Hurairah saja. Karena ketika kami, Abu Hurairah dan si fulan di Masjid, kami berdoa dan berdzikir kepada Allah ‘azza wajalla, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami, sehingga duduk bersama kami, lalu kami diam. Maka beliau bersabda: “Kembalilah pada apa yang kalian lakukan.” Zaid berkata: “Lalu aku dan temanku berdoa sebelum Abu Hurairah, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca amin atas doa kami. Kemudian Abu Hurairah berdoa: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu seperti yang dimohonkan oleh kedua temanku. Dan aku memohon kepada-Mu ilmu pengetahuan yang tidak akan dilupakan.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Amin.” Lalu kami berkata: “Wahai Rasulullah, kami juga memohon ilmu pengetahuan yang tidak akan dilupakan.” Lalu beliau berkata: “Kalian telah didahului oleh laki-laki suku Daus (Abu Hurairah) itu”. (HR. al-Nasa’i dalam al-Kubra [5839], al-Thabarani dalam al-Ausath [1228]. Al-Hakim berkata dalam al-Mustadrak [6158]: “Sanadnya shahih, tetapi al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya”.)

Dalam hadits di atas jelas sekali, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca amin atas doa sahabatnya. Berarti mengamini doa orang lain, hukumnya sunnah berdasarkan hadits di atas.

2) hadits Habib bin Maslamah al-Fihri radhiyallahu ‘anhu

عَنْ حَبِيْبِ بْنِ مَسْلَمَةَ الْفِهْرِيِّ وَكَانَ مُجَابَ الدَّعْوَةِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: لاَ يَجْتَمِعُ قَوْمٌ مُسْلِمُوْنَ يَدْعُوْ بَعْضُهُمْ وَيُؤَمِّنُ بَعْضُهُمْ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللهُ دُعَاءَهُمْ. رواه الطبراني في الكبير و الحاكم في المستدرك وقال صحيح على شرط مسلم، وقال الحافظ الهيثمي في مجمع الزوائد: رجاله رجال الصحيح غير ابن لهيعة وهو حسن الحديث.

“Dari Habib bin Maslamah al-Fihri radhiyallahu ‘anhu –beliau seorang yang dikabulkan doanya-, berkata: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak lah berkumpul suatu kaum Muslimin, lalu sebagian mereka berdoa, dan sebagian lainnya mengucapkan amin, kecuali Allah pasti mengabulkan doa mereka.” (HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [3536], dan al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/347. Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai persyaratan Muslim. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid 10/170, para perawi hadits ini adalah para perawi hadits shahih, kecuali Ibn Lahi’ah, seorang yang haditsnya bernilai hasan.”

Hadits di atas, memberikan pelajaran kepada kita, agar sering berkumpul untuk melakukan doa bersama, sebagian berdoa, dan yang lainnya membaca amin, agar doa dikabulkan.

3) hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: اَلدَّاعِيْ وَالْمُؤَمِّنُ فِي اْلأَجْرِ شَرِيْكَانِ. رواه الديلمي في مسند الفردوس بسند ضعيف.

“Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang berdoa dan orang yang membaca amin sama-sama memperoleh pahala.” (HR. al-Dailami [3039] dalam Musnad al-Firdaus dengan sanad yang lemah).

Kelemahan hadits ini dapat dikuatkan dengan hadits sebelumnya dan ayat al-Qur’an di atas.

4) hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : أُعْطِيتُ ثَلاَثَ خِصَالٍ : صَلاَةً فِي الصُّفُوفِ ، وَأُعْطِيتُ السَّلاَمَ وَهُوَ تَحِيَّةُ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَأُعْطِيتُ آمِينَ ، وَلَمْ يُعْطَهَا أَحَدٌ مِّمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، إِلاَّ أَنْ يَكُونَ الله أَعْطَاهَا هَارُونَ ، فَإِنَّ مُوسَى كَانَ يَدْعُو وَيُؤَمِّنُ هَارُونَ. رواه الحارث وابن مردويه وسنده ضعيف 

Anas bin Malik berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku dikaruniakan tiga perkara; shalat dalam shaf-shaf. Aku dikaruniakan salam, yaitu penghormatan penduduk surga. Dan aku dikaruniakan Amin, dan belum pernah seseorang sebelum kalian dikaruniakan Amin, kecuali Allah karuniakan kepada Harun. Karena sesungguhnya Musa yang selalu berdoa, dan Harun selalu membaca amin.” (HR al-Harits bin Abi Usamah dan Ibnu Marduyah. Sanad hadits ini dha’if. Lihat, al-Amir al-Shan’ani, al-Tanwir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, 2/488). 

Kelemahan hadits ini dapat diperkuat dengan hadits-hadits sebelumnya serta ayat al-Qur’an di atas. Hadits di atas mengisyaratkan pentingnya membaca amin bagi orang orang lain, sebagaimana bacaan amin Nabi Harun ‘alaihissalam atas doa Nabi Musa ‘alaihissalam.

5) hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha

عن عائشة – رضي الله عنها – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: مَا حَسَدَتْكُمُ الْيَهُوْدُ عَلىَ شَيْءٍ مَا حَسَدُوْكُمْ عَلىَ السَّلاَمِ وَالتَّأْمِيْنِ أخرجه البخاري في الأدب المفرد وأحمد بمعناه ابن ماجة وقال البوصيري هذا إسناد صحيح، وإسحاق بن راهوية في مسنده قال الأمير الصنعاني قد صححه جماعة، وقال الحافظ ابن حجر صححه ابن خزيمة وأقره.
.
“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang Yahudi tidak hasud kepada kalian melebihi hasud mereka pada ucapan salam dan amin.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad [988], Ahmad 6/134, Ibnu Majah [856], dan Ibnu Rahawaih dalam al-Musnad [1122]. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Hafizh al-Bushiri dan lain-lain. Lihat al-Amir al-Shan’ani, al-Tanwir Sayrh al-Jami’ al-Shaghir, 9/385).

Hadits di atas menganjurkan kita memperbanyak ucapan salam dan amin. Tentu saja ucapan salam kepada orang lain. Demikian pula memperbanyak ucapan amin, baik untuk doa kita sendiri, maupun doa orang lain. Hadits ini juga menjadi dalil, bahwa ajaran Syiah sangat dekat dengan Yahudi, karena sama-sama melarang membaca amin.

6) atsar Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu

عن جامع بن شداد عن ذي قرابة له قال سمعت عمر بن الخطاب يقول ثلاث كلمات إذا قلتها فهيمنوا عليها اللهم إني ضعيف فقوني اللهم إني غليظ فليني اللهم إني بخيل فسخني. رواه ابن سعد في الطبقات

“Dari Jami’ bin Syaddad, dari seorang kerabatnya, berkata: “Aku mendengar Umar bin al-Khaththab berkata: “Tiga kalimat, apabila aku mengatakannya, maka bacakanlah amin semuanya: “Ya Allah, sesungguhnya aku orang yang lemah, maka kuatkanlah aku. Ya Allah, sesungguhnya aku orang yang kasar, lembutkanlah aku. Ya Allah, sesungguhnya aku seorang yang pelit, maka pemurahkanlah aku.” (HR. Ibnu Sa’ad dalam al-Thabaqat 3/275).

7) atsar al-Nu’man bin Muqarrin radhiyallahu ‘anhu. Dalam peperangan Persia, pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab, Panglima al-Nu’man bin Muqarrin berdoa, dan meminta anggota pasukannya membaca amin:

وكان النعمان بن مقرن رجلا لينا فقال … اللهم إني اسألك أن تقر عيني اليوم بفتح يكون فيه عز الإسلام وذل يذل به الكفار ثم اقبضني إليك بعد ذلك على الشهادة أمنوا يرحمكم الله فأمنا وبكينا. رواه الطبري في تاريخه. وفي رواية قال النعمان: وَإِنِّي دَاعِيَ اللهَ بِدَعْوَةٍ ، فَأَقْسَمْتُ عَلَى كُلِّ امْرِئٍ مِنْكُمْ لَمَّا أَمَّنَ عَلَيْهَا ، فَقَالَ : اللهُمَّ اُرْزُقَ النُّعْمَانَ الْيَوْمَ الشَّهَادَةَ فِي نَصْرٍ وَفَتْحٍ عَلَيْهِمْ ، قَالَ : فَأَمَّنَ الْقَوْمُ. رواه ابن أبي شيبة بسند صحيح.

“Al-Nu’man bin Muqarrin seorang laki-laki yang lembut. Lalu beliau berkata: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, agar Engkau sejukkan mataku pada hari ini dengan penaklukan yang menjadi kemuliaan Islam dan kehinaan orang-orang kafir. Kemudian ambillah aku kepada-Mu sesudahnya dengan mati sebagai syahid. Bacakanlah amin, semoga Allah mengasihi kalian.” Maka kami membaca amin atas doa beliau dan kami menangis.” (HR. al-Thabari, Taikh al-Umam wa al-Muluk, 4/235). Dalam riwayat lain, al-Nu’man berkata: “Sesungguhnya aku akan berdoa kepada Allah dengan satu permohonan, aku bersumpah agar setiap orang dari kalian membacakan amin untuk doa tersebut. Lalu al-Nu’man berkata: “Ya Allah, berilah al-Nu’man rizki meninggal sebagai syahid dalam kemenangan dan penaklukan atas mereka.” Perawi berkata: “Lalu kaum membaca amin.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf [34485]). Sanad atsar tersebut shahih.

Dari paparan di atas, jelas sekali bahwa doa bersama, dengan dipimpin oleh seorang imam, dan dibacakan amin oleh para jamaah, adalah tradisi Islami yang memiliki dasar yang kuat dari al-Qur’an, hadits dan tradisi para sahabat. Wallahu a’lam.

Muhammad Idrus Ramli
Bersambung, insya Allah

Wallahu Alam


Artikel Terkait